Nasabah BTN kebobolan Rp255 miliar

Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Brigjen (Pol) Agung Setya Imam Effendi saat diwawancara Beritagar.id di ruang kerjanya, Rabu (20/7/2016).
Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Brigjen (Pol) Agung Setya Imam Effendi saat diwawancara Beritagar.id di ruang kerjanya, Rabu (20/7/2016).
© Wisnu Agung Prasetyo /Beritagar.id

Oknum pegawai PT Bank Tabungan Negara (Persero) (BTN) membobol duit nasabahnya sebesar Rp255 miliar. Kasus ini sebenarnya sudah terjadi tahun lalu, namun baru diungkap pekan lalu.

Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Rikwanto, penyidik menemukan pembobolan itu diduga kuat melibatkan dua kepala kantor cabang BTN Enggano, Jakarta Utara dan cabang Cikeas, Bogor, Jawa Barat.

Polisi telah menangkap kedua oknum pejabat BTN itu berdasarkan laporan dari manajemen perusahaan bank milik pemerintah tersebut terkait dugaan penggelapan dalam jabatan, penipuan dan atau pencucian uang pada 21 November 2016.

Oknum pejabat BTN itu berinisial DP dan BM. Polisi meringkus tersangka A dan SG, serta mengejar dua pelaku lainnya yang masih buron.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Mabes Polri Agung Setya, pelaku membobol dana nasabah dengan modus memberi tanda terima deposito palsu setelah menempatkan dananya di BTN.

Menurut pemberitaan Antaranews.com, pelaku diduga menawari korban untuk menempatkan dananya di BTN dengan bunga sesuai pasaran. Setelah disetujui, korban melengkapi syarat administrasi dan menempatkan dana melalui oknum pejabat BTN.

Oknum pegawai internal BTN lalu mengganti dokumen pembukaan rekening dan memasukkan nomor konfirmasi yang dikuasai pelaku untuk membuka rekening di BTN tanpa sepengetahuan korban.

Oknum pegawai BTN juga meminta korban mengirimkan dana ke rekening penampungan atas nama perusahaan korban.

Beberapa korban antara lain PT Surya Artha Nusantara (SAN) Finance, PT Asuransi Jiwa Mega Indonesia, Asuransi Umum Mega serta Global Index Investindo.

Direktur Keuangan SAN Finance Andrijanto bertutur, pihaknya mengetahui kasus ini sejak November 2016.

Menurut Andrijanto, Kepala kantor BTN Cabang Cibubur menyatakan, dana SAN Finance yang tersimpan di Kantor Kas BTN Cikeas, hanya Rp140 miliar dari total dana yang ditempatkan sebesar Rp250 miliar.

"Kami mempertanyakan ke mana (sisa) uang Rp110 miliar?" kata Andrijanto kepada Kontan, Minggu (19/3).

SAN Finance lalu melaporkan kasus ini ke Polda Metro Jaya pada Selasa (31/1). Pada Rabu (8/2), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempertemukan SAN Finance, BTN, dan korban lain.

Tapi pertemuan tak menghasilkan kata sepakat. Menurut Andrijanto, BTN enggan menanggung kerugian nasabah dikhawatirkan akan ada pemeriksaan KPK atau termasuk tindakan pidana korupsi.

"Kami harap kasus ini selesai secara business to business," kata Dumoly F. Pardede, Deputi Komisioner Industri Keuangan Non Bank (IKBN) OJK.

Eko Waluyo, Sekretaris Perusahaan BTN menyatakan, bilyet deposito nasabah itu dipalsukan komplotan penipu yang menggunakan nama BTN. "Ini dilakukan di luar sistem BTN," ujar Eko.

BTN menyebut juga telah melaporkan dugaan pemalsuan bilyet deposito ini ke Polda Metro Jaya pada Senin (21/11/2016).

SAN Finance tetap tak terima. Mereka bahkan mengajukan gugatan perdata pada Rabu (15/3). Sebab, selain kerugian materiil, SAN Finance mengklaim merugi atas potensi keuntungan sebesar 15 persen.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.