POLITIK

Nasi goreng berasa nasi kuning rekonsiliasi dan koalisi

Ilustrasi: Nasi goreng berasa nasi kuning.
Ilustrasi: Nasi goreng berasa nasi kuning. | Salni Setyadi /Beritagar.id

Dalam dua hari ini kata nasi goreng menjadi warna mencolok dalam pemberitaan media. Setidaknya sampai pagi ini (25/7/2019) mesin media monitoring Beritagar.id mencatat frasa kata nasi goreng muncul di 150 pemberitaan.

Jumlah tersebut hampir setengah dari artikel yang menulis konten tentang pertemuan antara Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo Subianto yang jumlahnya mencapai 304 berita.

Nasi goreng, memang makanan yang sangat digemari oleh masyarakat di segala penjuru di Indonesia. Penggemarnya dari kalangan paling bawah sampai tingkat elite. Menurut riset yang diolah Lokadata, setidaknya ada 104 jenis masakan nasi goreng di Indonesia. Dari jumlah tersebut ada 36 jenis nasi goreng yang khas dengan resep khusus yang tersebar di 17 wilayah.

Lalu nasi goreng masakan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini masuk kategori yang mana? Bisa jadi tidak termasuk dalam kategori yang diriset. Namun yang pasti, masakan tersebut tergolong racikan istimewa.

Keistimewaannya bukan saja hanya sesekali dihidangkan, tapi terbukti bisa melehkan “selulit” yang menyumbat aliran darah relasi politik antara PDI-P dengan Partai Gerindra. Padahal bisa dipastikan nasi goreng tersebut mengandung kolesterol.

Lihat saja ekspresi Prabowo dan Megawati setelah menyantap nasi goreng. Keduanya bisa tertawa lepas tanpa beban.

"Ibu Mega memenuhi janjinya, memasak nasi goreng untuk kami. Luar biasa nasi gorengnya. Saya sampai nambah, padahal beliau sudah mengingatkan saya sudah terlalu gemuk," ucap Prabowo sambil tertawa dan mengelus-elus perutnya yang buncit, di hadapan wartawan. Megawati pun tak bisa menahan tawa mendengar ucapan tersebut.

Bagi Megawati, nasi goreng adalah bagian penting dalam diplomasi politik. Dalam rembuk politik dengan tokoh-tokoh terkemuka, Megawati selalu mengandalkan nasi goreng masakannya sebagai sarana ampuh untuk pemecah kebekuan.

Mengutip NUonline hubungan dingin Megawati dengan Abdurrahman Wahid semasa menjadi pasangan Presiden dan Wakil Presiden (1999-2001), selalu dicairkan dengan nasi goreng.

Dihadapan ratusan ulama dalam acara Halaqah Nasional Alim Ulama dan Deklarasi Majelis Dzikir Hubbul Wathon di hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Juli 2017, Megawati mengakui hubungannya dengan Gus Dur, sering diwarnai dengan pertengkaran.

“Biasanya kalau saya berantem dengan beliau, terus saya gak mau ketemu. Purik (dongkol, red). Saya tahu pasti nanti saya menang,” ujarnya.

“Karena apa, pasti nanti Gus Dur telepon. Mba, lagi opo? Di rumah mas. Bikinkan saya nasi goreng ya, saya sudah di depan pintu rumah,” ujar Megawati diikuti tawa hadirin.

Kemesraan dan pasang surut relasi politik Megawati dengan Prabowo pun diwarnai dengan nasi goreng. Saat Megawati dan Prabowo menjadi pasangan capres-cawapres pada pemilu 2009, keduanya penuh canda ria masak nasi goreng bersama di kediaman Megawati, Kebagusan, Jakarta Selatan.

Setelah kekalahan pada pilpres 2009, Megawati dan Prabowo sangat jarang berkomunikasi. Bahkan relasinya tersumbat saat pilpres 2014. Pihak Prabowo mengklaim adanya perjanjian Batu Tulis, yang menyebut Megawati akan mendukung pencalonan Prabowo Subianto pada pilpres 2014.

Namun kenyataannya, PDI-P mengusung Joko Widodo sebagai capres 2014, dan rivalnya adalah Prabowo. Tentu saja Prabowo menilai Megawati sebagai pihak yang ingkar janji.

Selanjutnya, Megawati dan Prabowo yang merepresentasikan PDI-P dan Gerindra sering menjadi rival dalam kontestasi politik. Pilkada DKI 2017 menjadi bukti rivalitas PDI-P dengan Gerindra terus berlanjut. Dan pilpres 2019 seperti menjadi puncak kebekuan relasi politik Megawati-Prabowo.

Namun siapa yang menyangka pertemuan tidak disengaja antara Prabowo dengan Megawati saat menyaksikan pertandingan pencak silat pada Asian Games 2018, membukakan jalan hubungan politik keduanya.

Ketika itu beberapa orang menemui Megawati menyampaikan pesan khusus Prabowo. “Pak Prabowo kangen nasi goreng Ibu,” begitu pesan yang disampaikan.

Setahun berlalu pesan tersebut baru direalisasikan Megawati. Rabu (24/7/2019) nasi goreng masakan Megawati telah meluluhkan kebekuan komunikasi politik yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Pertemuan Megawati dengan Prabowo kemarin memang tidak membuahkan kesepakatan politik apa pun. Namun publik bisa merasakan adanya langkah nyata rekonsiliasi antarelite politik. Selain itu tersirat juga sinyal kuat keterbukaan PDI-P untuk bekerja sama dengan Gerindra.

Apakah kerja sama nantinya akan ditindaklanjuti dengan masuknya Gerindra dalam barisan koalisi pendukung pemerintahan Joko Widodo periode ke-2? Boleh jadi. Dan itu tentu ini membutuhkan pertemuan-pertemuan lain yang sangat serius menyangkut perbedaan visi dan misi, kedua parpol.

Namun hal itu tidak terlalu penting bagi masyarakat pada umumnya. Sebab semua paham bahwa tidak pernah ada musuh abadi dalam politik. Yang abadi hanyalah pertemuan kepentingan antar elite partai politik.

Yang pasti, pertemuan Megawati - Prabowo, sangat menyejukkan bagi masyarakat, setelah ketegangan sangat panjang yang menguras energi, sejak kampanye hingga penetapan pemenang pilpres 2019.

Ringkasnya sajian nasi goreng Megawati untuk Prabowo kemarin, bagi masyarakat awam seolah berasa nasi kuning (nasi simbol ucapan syukur) atas rekonsiliasi dan koalisi antara PDI-P dengan Gerindra.

Meski begitu dalam perspektif yang lain, nasi goreng olahan Megawati itu bisa jadi terasa pedas. Setidaknya oleh Koalisi Indonesia Kerja (KIK), koalisi parpol pendukung Jokowi-Ma’ruf dalam pilpres 2019.

Sebagaiman diketahui, sehari sebelumnya, Ketua Umum Partai Nasdem, Golkar, PKB dan PPP bertemu, tanpa kehadiran Ketua Umum PDI-P. Setelah itu, muncul pernyataan dari Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, yang menyebut KIK tidak perlu tambah anggota.

Pesan Muhaimin itu bisa dipahami sebagai tekanan untuk PDI-P agar tidak bermain mata dengan parpol di luar KIK.

Namun sebaliknya, pertemuan Megawati – Prabowo, juga bisa dimaknai bahwa PDI-P sebagai partai utama dalam KIK, tidak bisa ditekan oleh siapa pun.

Apakah berarti ada perpecahan dalam KIK, yaitu PDI-P melawan parpol anggota KIK? Tak bisa sesederhana itu memahaminya. Itu hanyalah dinamika politik, masing-masing pihak ingin menunjukkan kekuatan, agar memiliki posisi tawar yang bagus, setidaknya dalam penyusunan kabinet beberapa bulan ke depan.

Lalu bagaimana bila para pimpinan parpol KIK ngambek atas hubungan PDI-P – Gerindra? Gampang saja, Megawati bisa mengundang ke-4 pimpinan parpol tersebut, untuk makan nasi goreng bersama, dijamin semua kebekuan akan mencair.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR