Nasib para tukang cukur

Tukang cukur tradisional memangkas rambut pelanggannya di Jalan Masjid Raya Makassar, Kamis, 24 Juli 2014.
Tukang cukur tradisional memangkas rambut pelanggannya di Jalan Masjid Raya Makassar, Kamis, 24 Juli 2014. | Hariandi Hafid /Tempo

Pada sebuah acara lelang di Texas, Amerika Serikat, akhir pekan lalu, balai lelang Heritage Auctions sukses menjual seikat rambut dengan harga Rp470 juta (USD35 ribu). Selama hampir 50 tahun terakhir, himpunan helai rambut John Lennon itu disimpan oleh seorang penata rambut Jerman, Klaus Baruck.

Pendiri The Beatles itu mesti memangkas surainya hingga 10 cm demi bersiap untuk tampil dalam "How I Won the War" pada 1966, sebuah film yang berkisah mengenai nasib buruk tentara Inggris pada Perang Dunia Kedua.

Beruntung Baruck masih menyimpan bagian 'hidup' Lennon. Segala yang bersinggungan dengan pemusik kelahiran Inggris itu pasti disambar para kolektor dengan harga tinggi.

Tukang cukur lain, Ramesh Babu, mungkin sama sekali tidak pernah menyentuh kepala Lennon. Namun, nasibnya tidak kalah mujur dari Baruck. Kepada para pelanggannya, ia memang cuma mengenakan tarif Rs100, atau tidak sampai Rp20.000. Tapi, dia punya sebuah mobil Rolls Royce Ghost, yang jika dirupiahkan nyaris menyentuh Rp6 miliar, serta 67 kendaraan lain di garasinya.

Dilansir Hindustan Times, pemangkas rambut yang basis usahanya di Bangalore merasa segalanya sudah diatur. Para pelanggannya mencakup politisi, opsir polisi, dan bintang-bintang kesohor semacam Salman Khan, Aamir Khan, juga Aishwarya Rai Bachchan.

Kepekaan berbisnis menentukan jalannya ke depan. Seraya masih menguji kecakapan tangannya kala mengolah rambut pelanggan, ia mulai membuka peluang lain, yakni penyewaan mobil: Usaha yang bermula dari keputusannya membeli sebuah Maruti Omni dan mengontrakkannya.

Daerah Ciamis, yang letaknya di sebelah tenggara Jawa Barat, punya Ledi, 25 tahun. Penghidupan pemuda itu pula bersumber dari rambut manusia. Dan ketekunan pun berjawab sejumlah cabang pada usahanya. Meski belum 10 tahun menjalani profesi pemangkas rambut, Ledi sudah punya tiga cabang di Ciamis.

Sebelum menjadi tukang cukur, ia bekerja di pabrik roti dan tempat menyablon. Modal untuk membuka usaha cukur rambut berasal dari penghasilannya selama menjadi pegawai di dua tempat itu. Dari modal awal itu pun, ia belum langsung memiliki tempat usaha permanen. Bisnisnya dirintis lewat jalanan sebagai pemangkas rambut keliling.

Begini pengakuannya saat baru membuka kios pertama di dekat Universitas Galuh, Ciamis: "Pertama kali membuka usaha, satu hari hanya mencukur 5 kepala konsumen. Tapi setelah dua tahun berjalan dan konsumen percaya, akhirnya jumlah konsumen bertambah. Sekarang dalam sehari bisa sampai 40 hingga 50 konsumen."

Mansyur, 78 tahun, dan Nartowiono, 88 tahun, di permukaan mungkin tidak terlihat seperti Baruck, Ramesh, atau Ledi. Nama di awal alinea ini sudah menyuntuki pekerjaannya sejak 1970, sementara sosok yang karib disebut Mbah Nartowiono sejak 1948 telah mengakrabi gunting rambut secara komersial.

Mengaku ikut menjadi saksi pembacaan teks Proklamasi di Pegangsaan Timur, Jakarta, Mansyur, dilansir Pos Kupang, mengawali lapaknya di sejumlah tempat Jakarta. Pada 1980, ia pindah ke Bogor, beristri di kota itu, dan meneruskan usahanya di bawah pohon kapuk tidak jauh dari Tugu Kujang.

Kepada orang sepertinya, berlaku julukan tukang cukur DPR, yang kepanjangannya 'Di bawah Pohon Rindang'.

Pria itu memilih tidak menetapkan harga bagi jasanya. "Saya enggak mematok tarif. Dibayar seikhlasnya. Kadang ada yang ngasih Rp 10.000, Rp 15.000, Rp 20.000...Pernah ada yang ngasih saya Rp 150.000," katanya.

Pilihan serupa diambil pula oleh Mbah Nartowiono. "Tidak ada patokan harga. Berapa pun yang diberikan saya terima, mau seribu, dua ribu, lima ribu yang penting iklas pasti jadi berkah," ujarnya kepada Kompas. Tapi, Nartowiono bukan di Bogor. Ia ada di Yogyakarta.

Sebelum menetap di kota itu, Nartowiono pernah menjejaki sejumlah kota di Jawa untuk mencari penghasilan dengan mengawali bisnis potong rambut di Semarang, Jawa Tengah. Dua tahun di sana, ia bertolak ke Madiun, Jawa Timur, lalu Kutoarjo, Jawa Tengah.

"Dulu pindah-pindah. Kalau sekarang sudah tua ya di sini saja, buka jam 8 sampai jam 4 sore," katanya dikutip Kompas ketika mewancarainya di daerah Alun-alun Utara Yogyakarta.

Menurutnya, kebanyakan pelanggan selama ini adalah tukang becak, tukang ojek dan tukang sapu. Namun, ada pula wisatawan asing yang memanfaatkan jasanya. Bahkan, ada turis yang menjadi pelanggan tetapnya.

"Yang bule dari Kanada itu kalau datang ke Yogya, cukurnya di sini. Ya enggak tahu kok seneng. Katanya suasananya unik, beda," ujarnya.

Di antara sejumlah tukang cukur tersebut, Ahmad Sayuti bisa jadi punya kedudukan paling kudus. Bagaimana tidak, ia menahbiskan diri sebagai nabi karena mengaku pernah ketiban wahyu dari Tuhan. Pengalaman spiritualnya itu pun sudah bersalin wadah menjadi dua buku, yang masing-masing berjudul "Kelalaian Para Pemuka Agama Dalam Memahami Kitab-Kitab Peninggalan Nabi-Nabi Rasul Allah (Taurat, Injil, dan Alquran) dengan Segala Akibatnya" serta "Mungkinkah Tuhan Murka."

Dilansir Kompas, Sayuti merasa wahyu menyambanginya pada 1993 saat dirinya menginjak 62 tahun. Dua buah judul buku itu pun sudah disebarkan kepada pelanggannya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR