MONETER

Neraca pembayaran Indonesia defisit, ekonomi rentan bergejolak

Truk peti kemas melintas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (18/12/2018). Pelabuhan peti kemas menjadi salah satu pusat aktivitas ekspor impor.
Truk peti kemas melintas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (18/12/2018). Pelabuhan peti kemas menjadi salah satu pusat aktivitas ekspor impor. | Sigid Kurniawan /Antara Foto

Tahun 2018 menjadi masa terburuk bagi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Bank Indonesia (BI) mencatat NPI sepanjang 2018 defisit sebesar $7,3 miliar AS. Angka itu berbanding terbalik dengan capaian 2017 yang surplus sebesar $11,6 miliar.

NPI mencatat keluar masuknya uang dalam denominasi mata uang asing (devisa) di wilayah negara Indonesia

Data terbaru BI tersebut menjadi pengingat bahwa, di tengah penguatan nilai tukar rupiah dan melonjaknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini, isu kerapuhan dalam perekonomian Indonesia belum sepenuhnya terselesaikan.

Tahun lalu, neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) sebesar $31,1 milliar. Angka itu membengkak dari posisi defisit transaksi berjalan pada 2017 sebesar $17,31 miliar. Transaksi berjalan mencatat keluar masuknya devisa akibat perdagangan atau transaksi barang dan jasa.

Menurut catatan bank sentral, transaksi berjalan telah mengalami defisit sejak 2012. Meningkatnya defisit tahun ini disebabkan impor nonmigas yang tinggi, khususnya bahan baku dan barang modal.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Agusman, menjelaskan kenaikan defisit juga didorong oleh peningkatan impor minyak seiring peningkatan rerata harga minyak dunia dan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) domestik.

"Namun defisit neraca transaksi berjalan masih berada dalam batas yang aman," ujar Agusman dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (9/2/2019).

Terlepas dari defisit pada neraca transaksi berjalan, Indonesia sempat mengalami lonjakan surplus neraca modal dan finansial imbas derasnya arus masuk dana asing pada kuartal IV 2018 lalu.

Peningkatan tersebut terutama didukung oleh membaiknya kinerja investasi portofolio, seiring meningkatnya aliran masuk dana asing pada aset keuangan domestik. Indonesia mencatat surplus $15,7 miliar pada akun modal dan keuangan, sehingga secara keseluruhan menyebabkan surplus $5,4 miliar pada neraca pembayaran kuartal IV 2018.

Kepala Ekonom Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro, mengatakan surplus tersebut memang menjadi berita positif. Namun di satu sisi, Satria mengingatkan pemerintah dan bank sentral untuk waspada.

Pasalnya, kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa NPI pada dasarnya didukung oleh fondasi yang rapuh. Sebab, sebagian besar dana yang membiayai transaksi berjalan sebenarnya adalah aliran portofolio asing dalam bentuk uang panas, bukan investasi asing jangka panjang (FDI).

Dalam istilah pasar keuangan, uang panas didefinisikan sebagai dana yang dikelola untuk tujuan spekulatif dan mendapatkan hasil yang tinggi dalam waktu singkat; dana tersebut akan berpindah mengikuti peminjam yang berani memberikan tingkat suku bunga yang tinggi. Kondisi ini yang menyebabkan pergerakan nilai tukar rupiah kerap sangat bergejolak.

"Kami mencatat pergerakan rupiah pada bulan Februari, khususnya, belum didukung oleh fundamental, karena terjadi di tengah penguatan indeks dolar yang melemahkan sebagian besar mata uang emerging market bulan ini," ujar Satria kepada Beritagar.id.

Ia mengatakan, transaksi berjalan yang kerap defisit selama bertahun-tahun menunjukkan suatu negara sangat rentan terhadap gejolak ekonomi.

Padahal, salah satu ciri kuatnya fundamental ekonomi adalah kecenderungan transaksi berjalan yang mengalami surplus. Alasannya, surplus neraca yang menambah devisa itu bersumber dari produksi, bukan dari sesuatu yang menimbulkan kewajiban untuk dibayar seperti utang atau penanaman modal asing.

"Tentu tidak masalah jika dalam beberapa triwulan defisit atau suatu tahun mengalami defisit, sebagai bagian dari dinamika pasar. Jika berlangsung selama tujuh tahun berturut-turut seperti selama ini, maka perlu berhati-hati. Jelas bahwa depresiasi rupiah antara lain disebabkan kondisi tersebut," ujarnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR