NERACA PERDAGANGAN

Neraca perdagangan surplus karena impor turun drastis

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Batuampar Batam, Kepulauan Riau, Jumat (18/9). Pelabuhan Batuampar bisa dijadikan sebagai pintu utama internasional ekspor-impor Indonesia karena letaknya yang sengat dekat dengan Selat Malaka yang merupakan jalur lalulintas laut internasional yang cukup padat.
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Batuampar Batam, Kepulauan Riau, Jumat (18/9). Pelabuhan Batuampar bisa dijadikan sebagai pintu utama internasional ekspor-impor Indonesia karena letaknya yang sengat dekat dengan Selat Malaka yang merupakan jalur lalulintas laut internasional yang cukup padat. | M N Kanwa /ANTARAFOTO

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan surplus USD1,02 miliar (Rp13,8 triliun) pada September 2015. Secara total, surplus neraca perdagangan sekitar USD7,13 miliar (Rp96,5 triliun) untuk periode Januari-September 2015.

Surplus ini merupakan terbesar dalam tiga tahun berturut-turut sejak 2012. Namun menurut Menteri Koordinator bidang Perekonomian, surplus ini terjadi karena nilai impor yang turun drastis.

"Surplus neraca perdagangan terbesar keempat pada September kalau dibandingkan bulan sebelumnya. Pertama pada Juli, surplus USD1,3 miliar, Mei surplus USD1,08 miliar, Maret sebesar USD1,03 miliar, dan September mencatatkan surplus USD1,02 miliar," kata Kepala BPS Suryamin, seperti yang ditulis Liputan6.com.

Sayangnya, dari kelebihan nilai itu, nilai impor RI dari Tiongkok selalu mengalami defisit. Pada bulan September 2015, nilai impor RI dari Tiongkok mencapai USD2,48 miliar, sedangkan nilai ekspornya hanya USD1,05 miliar. Atau defisit neraca perdagangan RI-Tiongkok sebesar USD1,43 miliar.

DIlansir Kompas.com, secara kumulatif, Januari-September 2015, nilai impor RI dari Tiongkok mencapai USD2,49 miliar, sedangkan nilai ekspornya hanya USD9,92 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan mencetak defisit sebesar USD11,57 miliar.

Berdasarkan data BPS, 10 golongan barang utama ini adalah yang paling banyak diimpor RI dan Tiongkok sepanjang Januari-September 2015.

  1. Mesin-mesin/pesawat mekanik, USD5,26 miliar
  2. Mesin/peralatan listrik, USD4,60 miliar
  3. Besi dan baja, USD1,40 miliar
  4. Benda-benda dari besi dan baja, USD805 juta
  5. Bahan kimia organik, USD765 juta
  6. Plastik dan barang dari plastik, USD740 juta
  7. Pupuk, USD479 juta
  8. Bahan kimia organik,USD400 juta
  9. Filamen buatan, USD349 juta
  10. Kapas, USD385 juta

Meski ekspor menurun, tetapi intensitasnya mulai meningkat. Suryamin menambahkan, ekspor Indonesia mencapai USD12,53 miliar pada September 2015 atau turun 1,55 persen dibandingkan Agustus 2015.

Penurunan ekspor pada September 2015 lantaran menurunnya ekspor migas 5,2 persen dari USD1,53 miliar menjadi USD1,45 miliar. Ekspor non migas turun 1,06 persen dari USD11,19 miliar menjadi USD11,07 miliar.

Total ekspor dari Januari-September 2015 turun 13,29 persen menjadi USD115,07 miliar. Atau turun 13,29 persen dibandingkan periode sama tahun 2014. Ekspor nonmigas mencapai USD100,7 miliar atau menurun 7,87 persen.

Kontribusi ekspor terutama sejumlah provinsi di Indonesia antara lain Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Riau, DKI Jakarta, Kepulauan Riau, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Di sisi lain, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan surplus perdagangan tersebut terjadi karena nilai impor yang turun drastis dibanding ekspor, bukan karena peningkatan ekspor Indonesia.

"Jadi sebenarnya itu tetap ada berita baiknya, tapi belum cukup. Dia akan cukup kalau surplusnya itu ekspor naik dalam totalnya," ujar Darmin, seperti yang ditulis Bisnis.com, Kamis (15/10/2015).

Indonesia, lanjutnya, belum memiliki andalan ekspor yang cukup selain sumber daya alam. Padahal, saat ini harga komoditas tengah mengalami gejolak sehingga berpengaruh pada ekspor Indonesia yang sebagian besar masih bergantung pada sektor komoditas.

Industri dalam negeri, menurutnya, tengah dalam kondisi yang sulit. Kendati demikian, Darmin menuturkan ada beberapa sektor industri yang ekspornya masih mengalami pertumbuhan positif yakni industri pangan, permata, dan perhiasan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR