KETERTIBAN KOTA

Ngebom tembok atas nama seni

| Salni Setyadi /Beritagar.id

NGEBOM | Dalam dunia grafiti, istilah ngebom atau bombing diakrabi penyuka dan pengamat. Banyak teori menjelaskan latar ngebom tembok di area publik. Dari protes dan penyadaran hingga cuma iseng cari nama.

Cari nama bisa dilakukan dengan spot jacking: menimpakan karya pada tembok yang sudah terisi. Bahkan bidang legal, yang terisi atas izin pemiliknya, bisa jadi sasaran nyepot. Bisa tembok rumah, bisa pula tembok pengapit gang yang diisi mural RT.

Kegiatan ngebom sebagai seni jalanan (street art) kadang bisa memperkaya tuturan visual kota. Bahkan tipografi pun diperkaya oleh grafiti. Malah salah satu koleksi Louis Vuitton terilhami oleh kaligrafiti. Lalu coretan tangan Jokowi pernah Beritagar.id andaikan jadi motif dekorasi.

Masalah lain yang abadi adalah benturan kegiatan bombing dengan hukum, misalnya peraturan daerah. Di Jakarta, pembersihan grafiti oleh pemerintah provinsi mengundang protes melalui grafiti pula.

Kasus terbaru adalah ngebom kereta MRT di Depo Lebakbulus, Jakarta Selatan, pekan lalu. Polda Metro Jaya pun sampai membentuk tim khusus.

Ngebom di depo mungkin termasuk heaven spot. Tempatnya tak mudah ditembus, tapi hasilnya mudah terlihat. Melakukannya pun harus saat sepi. Dalam kasus depo, pekerjaan dilakukan antara pukul tiga hingga tujuh pagi.

Sejauh ini belum ada serangkaian wawancara terhadap pelaku ngebom, apakah mereka rela jika rumahnya – tepatnya: rumah orang tuanya – dibom orang. Begitu pula kamar mereka.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR