KASUS NOVEL BASWEDAN

Novel Baswedan pesimistis kasusnya bisa tuntas

Penyidik KPK Novel Baswedan  saat peluncuran jam hitung waktu kasusnya di gedung KPK, Selasa (11/12/2018).  Novel pesismistis Polri mau mengungkap kasus yang menimpanya.
Penyidik KPK Novel Baswedan saat peluncuran jam hitung waktu kasusnya di gedung KPK, Selasa (11/12/2018). Novel pesismistis Polri mau mengungkap kasus yang menimpanya. | Hafidz Mubarak A /Antara Foto

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan pesimistis kasus penyiraman air keras yang menimpanya bisa diungkap. Novel mempertanyakan kerja tim gabungan yang sudah dibentuk Kapolri Jendral Tito Karnavian.

Novel menjelaskan alasan pesimismenya pada tim ini, karena sebelumnya pernah di bentuk tim serupa dan tak membuahkan hasil. Polri lalu membentuk tim baru, awal bulan ini, tapi anggotanya masih penyidik yang sama.

"Logikanya sederhana, karena tim ini kalau tidak salah dalam dasar pembentukannya merupakan rekomendasi dari Komnas HAM. Tim ini isinya diantaranya penyidik sebelumnya. Dan rekomendasi Komnas HAM apa yang dilakukan penyidik sebelumnya itu abuse of process lalu pertanyaannya tim ini memeriksa apa? Itu agak janggal," ujarnya di Jakarta, Sabtu (26/1/2019) seperti dikutip dari VIVA.

Akhir tahun lalu, Komnas HAM menilai dengan lamanya pengungkapan kasus menimbulkan indikasi penyalahgunaan kekuasaan. Maka Komnas HAM menyarankan KPK untuk membuat langkah hukum dalam karena penyerangan tersebut diduga sebagai upaya obstruction of justice oleh pihak-pihak yang sedang disidik oleh Novel.

Menurut Novel, sebetulnya polisi bisa mudah mengungkap kasus ini, karena bukti-buktinya sudah sangat kuat. Misalnya ada rekaman CCTV yang sudah diserahkan kepada Polri. Bahkan, dua pekan sebelum kejadian, ada perampokan di dekat rumahnya dan bisa diungkap dengan rekaman CCTV.

"Artinya polisi atau penyidik Polri yang bertugas mestinya tahu ada CCTV, tapi untuk kasus saya mereka tidak mengambil," ujarnya.

Menurut Novel, CCTV yang ada di lokasi kejadian perampokan diambil oleh penyidik kepolisian untuk dijadikan bukti. Sementara, CCTV di lokasi kejadian penyerangan air keras terhadap dirinya dibiarkan polisi hingga akhirnya menghilang.

"Artinya polisi atau penyidik Polri yang bertugas mestinya tahu ada CCTV, tapi untuk kasus saya mereka tidak mengambil. Sidik jari belakangan ini saya ketahui sudah tidak ada, bukti elektronik malah hilang," kata dia seperti dikutip dari Merdeka.com.

Novel diserang dan disiram air keras pada Selasa subuh, 11 April 2017. Novel menilai, penyerangnya sudah lama mengintai dan terorganisir. Bahkan, telepon selulernya diakses oleh pihak lain. "Menurut info yang saya dengar, pengintai saya adalah polisi," kata dia, Juni 2017 kepada Tempo.

Novel memahami sosok yang mengincarnya, bukan perorangan tetapi mereka punya alat sadap, dan mereka punya jaringan. Mereka memiliki kekuasaan dan akses menggunakan kekuasaan.

Selama ini Komnas HAM menilai polisi lamban dalam mengungkap penyiram Novel. Bahkan Komnas HAM menilainya dua kali. Pertama Agustus 2017, lalu Desember 2018. Novel juga ragu dengan kinerja Polri.

Polri, seolah enggan menggubris keraguan Novel dan enggan mengomentari pesimismenya. "Saya tidak akan mengomentari itu. Yang penting kami mampu, kami akan terus melakukan proses kasus ini sampai terungkap," ujar Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Mohammad Iqbal di Markas Besar Polri, Jakarta, Senin, (14/1/2019).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR