KASUS E-KTP

Nyanyian Setya Novanto dan keponakannya

Terpidana kasus korupsi KTP elektronik Setya Novanto (kanan bawah) bersama dua tersangka kasus korupsi KTP elektronik Irvanto Hendra Pambudi (kedua kanan) dan Made Oka Masagung (kedua kiri) bersiap menjadi saksi dalam sidang lanjutan kasus korupsi KTP elektronik dengan terdakwa Anang Sugiana (tengah) di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (21/5).
Terpidana kasus korupsi KTP elektronik Setya Novanto (kanan bawah) bersama dua tersangka kasus korupsi KTP elektronik Irvanto Hendra Pambudi (kedua kanan) dan Made Oka Masagung (kedua kiri) bersiap menjadi saksi dalam sidang lanjutan kasus korupsi KTP elektronik dengan terdakwa Anang Sugiana (tengah) di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (21/5). | Aprillio Akbar /Antara Foto

Meski sudah divonis 15 tahun, mantan ketua DPR, Setya Novanto tetap tampil dalam sidang kasus korupsi pengadaan e-KTP di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin (21/5/2018).

Novanto dan keponakannya, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo bersaksi untuk terdakwa Direktur PT Quadra Solutions Anang Sugiana Sudihardjo. Paman dan keponakan itu pun bernyanyi tentang bancakan duit e-KTP.

Novanto menceritakan tentang pertemuan yang membahas fee anggaran proyek e-KTP. Ia mengatakan, pembagian fee diatur Andi Agustinus alias Andi Narogong, yang disaksikan langsung oleh M Nazaruddin.

Novanto mengaku pernah ditemui sejumlah anggota konsorsium pelaksana proyek pengadaan e-KTP. Salah satu yang hadir dalam pertemuan di kediaman Novanto adalah Direktur Utama PT Sandipala Arthaputra Paulus Tanos.

Andi Narogong, kata Novanto, pernah memberi tahu bahwa Paulus merupakan orang dekat mantan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi. "Paulus Tanos memang orangnya Pak Menteri," ujar Setya Novanto dikutip Kompas.com.

Dalam pertemuan di kediaman Novanto itu, para pengusaha termasuk Paulus Tanos dan Andi meminta agar Novanto membantu mengatasi persoalan kekurangan modal untuk melaksanakan proyek e-KTP.

Menurut Novanto, saat itu disepakati bahwa pengusaha Made Oka Masagung akan membantu konsorsium untuk mendapatkan modal kerja.

Novanto juga menyebut bahwa persetujuan tentang anggaran proyek pengadaan e-KTP dibahas di ruang Sekretaris Fraksi Partai Golkar, Ade Komaruddin.

Menurut Novanto, saat itu ia pernah melihat ada pertemuan di ruangan Ade Komarudin. Pertemuan itu dihadiri beberapa pimpinan Badan Anggaran DPR, seperti Olly Dondokambey, Mirwan Amir, Melchias Markus Mekeng dan Tamsil Linrung.

Kemudian, menurut Novanto, ada anggota Fraksi Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin dan pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong.

Setelah selesai pembicaraan, Andi Narogong kemudian masuk ke ruangan Setya Novanto. Saat itu, Andi melaporkan bahwa anggaran telah direalisasikan dalam APBN.

Novanto menduga pertemuan di ruangan Ade Komarudin itu juga membahas pembagian fee untuk anggota DPR. Namun, mengenai jumlah besarannya, menurut Novanto, yang mengetahui secara detail adalah Andi Narogong.

Novanto mengaku tidak tahu siapa saja yang menerima pembagian fee tersebut. Belakangan, ketika bertemu dengan keponakannya, Novanto baru tahu ada uang ke Mekeng dan Markus Nari.

Irvanto--yang juga dihadirkan sebagai saksi--mengiyakan kesaksian pamannya itu. Irvanto mengaku mendapatkan uang itu dari Riswan alias Iwan selaku pengusaha penukaran uang atau money changer.

Dalam sidang itu, Irvanto mengatakan menyerahkan uang $1 juta AS proyek e-KTP untuk politikus Golkar Melchias Mekeng dan Markus Nari. Penyerahan uang itu menurut Irvanto dilihat langsung Setya Novanto di lantai 12 gedung DPR. "Saya menyerahkan langsung kepada yang bersangkutan," kata Irvanto dikutip dari Detikcom.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR