PERLINDUNGAN KONSUMEN

Obat dan kosmetik ilegal senilai Rp20,8 miliar

Petugas menunjukkan temuan produk kosmetik ilegal berbahan kimia hasil operasi Storm VI tahun 2015 di kantor Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Jakarta, Selasa (27/10).
Petugas menunjukkan temuan produk kosmetik ilegal berbahan kimia hasil operasi Storm VI tahun 2015 di kantor Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Jakarta, Selasa (27/10). | Puspa Perwitasari /ANTARA FOTO

Badan Pengawas Obat dan Makanan menemukan produk obat dan kosmetik ilegal dengan nilai keekonomian mencapai Rp20,8 miliar.

Dalam rilis Badan POM, Selasa (27/10), Provinsi Banten masih tetap menjadi lokasi dengan jumlah temuan produk ilegal terbanyak, yaitu sebanyak 190 item dengan nilai lebih dari Rp9,34 miliar.

Temuan obat dan kosmetika ilegal itu terungkap melalui Operasi Storm 2015 sejak Agustus sampai September 2015.

Operasi Storm merupakan sandi operasi atas kerjasama Satuan Tugas Pemberantasan Obat dan Makanan Ilegal dengan NCB-Interpol Indonesia yang dilakukan di wilayah Asia Tenggara dan Tiongkok. Operasi Storm di Indonesia pada 2015 dilakukan melalui Badan POM, Kepolisian serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Badan POM melaksakan pemusnahan secara simbolis obat tradisional di dua wilayah di Banten selama Tahun 2014 dan 2015, Selasa (27/10).

Total temuan di daerah Balaraja dan Serpong selama dua tahun itu adalah sebanyak 218 item senilai Rp20 miliar. Di daerah Balaraja ada temuan 39 item senilai Rp14 miliar pada Agustus 2014 dan di Serpong 179 item senilai Rp6 miliar pada Mei 2015.

Setelah Banten, temuan terbanyak terdapat di Jakarta, yaitu 120 item senilai Rp3,1 miliar. Selanjutnya, Jawa Tengah dengan temuan sebanyak 181 item senilai Rp1,65 miliar. Riau dengan temuan sebanyak 65 item senilai lebih dari Rp1,08 miliar, dan Kepulauan Riau 17 item senilai lebih dari Rp 1 miliar.

Nilai total Rp20,8 menunjukkan penurunan dari hasil Operasi Storm V tahun 2014 yang berhasil menemukan produk ilegal sebesar Rp31,66 miliar.

Dari sisi jumlah temuan item produk ilegal tahun 2015 menunjukkan peningkatan, dari yang sebelumnya 3.656 item menjadi 3.671 item dengan rincian 827 item obat ilegal, 1.447 item obat tradisional ilegal termasuk mengandung BKO, dan 1.397 item kosmetik ilegal.

Hasil temuan ini diperoleh dari 123 sarana produksi, distributor, dan retail serta kawasan kepabeanan.

Meski nilai keenonomian turun, modus pelaku kejahatan ini semakin sistematis. Beberapa modus yang ditemukan antara lain, mencantumkan nomor izin edar fiktif pada kemasan produk dan mencampurkan bahan baku obat ke bahan obat herbal.

Pelaku juga melakukan aktivitas malam, berpindah lokasi secara cepat, menyimpan produk ilegal di tempat yang tidak diduga serta menghindari rutinitas jadwal pelaksanaan aktivitas.

Kepala BPOM, Roy Sparringa, dikutip Detik.com, mengatakan pemberantasan produk ilegal akan terus dilakukan dari hulu sampai hilir.

"Sehingga dapat menekan dapat menekan ruang gerak pelaku pelanggaran di bidang obat dan makanan ilegal, selain itu Badan POM juga berupaya terus melakukan terobosan bersama lintas sektoral dalam penengakan hukum," kata Roy.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Mudjiono, dikutip Wartakota, mengatakan polisi siap membantu pengawasan hingga penindakan pelaku kejahatan.

Menurutnya, pelaku kejahatan farmasi secara langsung berpengaruh pada kelangsungan iklim usaha. "Produk ilegal ini sangat membahayakan kesehatan masyarakat juga berdampak pada kehidupan sosial maupun perekonomian," katanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR