PELECEHAN SEKSUAL

Oknum pelecehan seksual pasien di Surabaya dipecat dan menghilang

Ilustrasi korban pelecehan seksual
Ilustrasi korban pelecehan seksual | KieferPix /Shutterstock

Publik heboh menyusul peredaran video berisi seorang perempuan yang mengaku dilecehkan oleh seorang lelaki perawat pada Kamis (25/1/2018) pagi. Video tersebut menunjukkan ruang perawatan di rumah sakit.

Setelah ditelisik, video yang viral di media sosial itu terjadi di kamar perawatan National Hospital, Surabaya, Jawa Timur. Pasien perempuan yang tengah dirawat, lengkap dengan jarum dan selang infus duduk di dipan perawatan.

Pasien sembari terisak memarahi sang lelaki perawat yang disebut telah meremas payudaranya saat sedang tertidur dan tak berdaya akibat bius pascaoperasi. Sang perawat pun mengakui perbuatannya, lalu kerap menundukkan kepala, dan pada akhirnya meminta maaf kepada korban serta seseorang yang mengendalikan kamera di sebelah dipan.

Meski viral pada Kamis pagi, video itu tersebar sejak Rabu (24/1) malam. Penelusuran lebih lanjut diketahui video tersebut juga diunggah akun Instagram @thelovewidya. Namun pada Kamis sore, akun itu sudah dikunci (privat).

Manajemen National Hospital Surabaya meminta maaf atas aksi perawatnya. Rumah sakit yang berlokasi di Kecamatan Wiyung tersebut juga telah menindak tegas oknum perawat yang sudah bekerja di sana selama lima tahun dengan memecatnya secara tidak hormat.

"Kami meminta maaf kepada pasien dan keluarga pasien. Kami juga menyesalkan hal ini bisa terjadi," kata Kepala Perawat National Hospital Surabaya Jenny Firsariana seperti dilansir Kompas.com, Kamis (25/1).

Menurut Jenny, pihaknya tidak mentolerir segala tindakan yang merugikan pasien. Saat ini pihaknya sedang mengkoordinasikan masalah tersebut dengan pihak berwajib dan organisasi profesi perawat.

Ia juga menegaskan bahwa National Hospital Surabaya memiliki standar yang tinggi dalam melayani pasiennya. Direktur utama rumah sakit tersebut, Hans Wijaya, pun membenarkan bahwa sang perawat termaksud langsung dipecat (h/t Kumparan).

Pihak kepolisian setempat yang mendengar kabar ini pun langsung bergerak menyusun rencana guna melakukan penyelidikan lebih lanjut. Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polrestabes Surabaya Ajun Komisaris Besar Sudamiran mengatakan tim diturunkan untuk mengumpulkan keterangan sejak Rabu malam.

Lalu Kamis siang (25/1/2018), polisi kembali mendatangi rumah sakit. "Hari ini (Kamis) Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) koordinasi dangan manajemen rumah sakit," tegas Sudamiran.

Belakangan suami korban juga melaporkan kasus ini ke polisi. Dari sang suami korban Yudi Wibowo pula diketahui bahwa peristiwa tidak patut ini terjadi pada Selasa (23/1), pukul 11.30 - 12.00 WIB.

"...kejadiannya istri saya di ruang pemulihan. Kemarin check out dan istirahat, baru hari ini bisa lapor," kata Yudi, Kamis (25/1), dilansir Banjarmasin Post.

Yudi, yang berprofesi sebagai pengacara, melaporkan kasus ini bersama kuasa hukumnya ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Surabaya. Itu sebabnya polisi juga bergerak cepat.

Sejauh ini sang perawat berinisial J itu menghilang. Polisi sempat mendatangi alamat domisilinya di Surabaya, tapi diketahui J sudah sebulan lamanya tidak tinggal di situ. Yang jelas, J sudah menjadi tersangka.

Tersangka dikenakan Pasal 290 (1) KUHP tentang pencabulan terhadap seseorang yang sedang tidak berdaya. Ancaman hukumannya paling lama tujuh tahun penjara.

Anggota Komisi IX DPR RI Irma Suryani Chaniago menegaskan, perbuatan oknum perawat tersebut telah menjatuhkan marwah profesi perawat dan menodai kehormatan pasien. Ia juga mengkhawatirkan kesehatan fisik dan mental pasien akibat kejadian itu.

Khofifah Indar Parawansa, calon gubernur Jawa Timur, menyesali peristiwa ini. Dalam rilis persnya, eks menteri sosial ini berharap rumah sakit dan organisasi perawat belajar serta mengambil langkah yang lebih tegas dari peristiwa ini.

Bukan tidak mungkin, kejadian serupa juga dialami pasien lainnya," katanya.

Hal senada juga disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah "Gus Ipul" Yusuf. Dalam siaran pers pula, Gus Ipul meminta kalangan medis bersikap profesional dalam bekerja dan menilai ini momentum untuk terus memperbaiki kinerja.

Namun Gus Ipul meminta masyarakat tidak menganggap semua perawat lelaki seperti itu (tidak menggeneralisir). "Jangan karena satu noda, satu kain jadi ikut kotor semua. Sekali lagi, ini menjadi tantangan bagi teman-teman perawat untuk membangun profesionalisme. Saya yakin, teman-teman (perawat) bisa," ungkapnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR