Orang Indonesia makin selektif beli ponsel

Ilustrasi memilih ponsel pintar.
Ilustrasi memilih ponsel pintar. | Igor Kardasov /Shutterstock

Soal membeli ponsel pintar anyar, masyarakat kini makin teliti mempertimbangkan perangkat terbaik sesuai ekspektasi sekaligus ketersediaan dana. Setidaknya begitu menurut kajian terbaru Google dan Canalys tentang karakter dan perilaku orang Indonesia dalam membeli ponsel pintar.

Secara menyeluruh, kedua studi mencatat banyak orang Indonesia tidak puas dengan ponsel pintar mereka. Ini terlihat dari ekspektasi pembeli terhadap ponsel semakin meningkat.

Sejak triwulan 1 2017, data dari IDC Asia menunjukkan pangsa pasar ponsel di Indonesia telah meningkat dari sebelumnya, didominasi oleh vendor global macam Apple dan Samsung (47 persen).

Kurang dari dua tahun, penelitian Canalys pada kuartal IV 2018 menyoroti pasar ponsel pintar di Indonesia mengalami peningkatan tertinggi. Tumbuh 17,1 persen dibanding 2017 dan bahkan melesat paling cepat di Asia Tenggara, tanpa terlalu terpengaruh oleh melemahnya rupiah terhadap dolar AS.

Sejalan dengan itu, analisis Google mengungkap konsumen di Indonesia bisa menghabiskan waktu sampai sekitar dua pekan untuk memutuskan membeli ponsel pintar.

Periode waktu tersebut dimanfaatkan sebagian besar konsumen untuk menggali informasi dan inspirasi sebelum membeli ponsel anyar, terutama secara daring.

Menurut Google, lalu lintas pencarian ulasan produk—artikel atau youtube—di mesin pencari naik 40 persen dari tahun 2017 ke 2018. Sebanyak 71 persen responden meneliti info spesifikasi ponsel lewat mesin pencari. Dan 50 persen responden juga membandingkan spesifikasi setidaknya dua atau tiga merek ponsel lewat situs-situs perbandingan semisal GSM Arena.

Pasalnya, sekitar 81 persen pembeli merasa kewalahan dengan banyaknya pilihan ponsel pintar di pasaran, dan 64 persen pengguna mengaku Google Search memudahkan proses pemilihan.

Adapun indikator utama kepuasan konsumen dalam memilih ponsel pintar terdiri dari 3 kriteria. Alih-alih terlena canggihnya fitur kamera, masyarakat paling mementingkan performa ponsel (87 persen), daya tahan baterai (87 persen), dan kapasitas memori (81 persen).

"Selebihnya adalah faktor kamera dengan 71 persen dan desain tampilan dengan 47 persen," ujar Yudistira Nugroho, Senior Tech and Telco Industry Analyst Google Indonesia (8/5).

Menurutnya, performa ponsel yang menjadi perhatian pembeli bukan hanya soal kecepatan gawai berdasarkan prosesor pada ponsel pintar, tapi juga keandalan jaringan layanan data—dua dari lima pembeli mengganti simcard provider ketika membeli ponsel baru.

Untuk daya tahan baterai, riset Google menunjukkan penggunaan ponsel pintar di Indonesia sehari-hari hampir 5 jam. Jadi tak mengherankan jika performa dan baterai haruslah kuat, mengingat susah sinyal juga membuat baterai mudah ngedrop.

Menariknya, meski 97 persen calon pembeli mendapatkan informasi soal ponsel melalui internet, dan bahkan masih melanjutkan mencari info di internet saat berada di toko fisik, hanya 30 persen jadi membeli ponsel pintar lewat toko daring.

Yudistira memprediksi kebanyakan konsumen enggan mendengarkan penjelasan petugas toko lantaran sudah memiliki cukup bekal informasi dari internet.

Selebihnya. lanjut dia, nyaris 70 persen pembeli tetap memutuskan berbelanja di toko ritel fisik karena dapat mengecek, menyentuh langsung produk, dan mencoba mengoperasikannya.

Apalagi, studi mengungkap satu dari dua konsumen akan membeli merek ponsel berbeda dari yang sudah dimiliki, sehingga besar kemungkinan pengaturan provider dan ponsel baru tetap butuh bantuan petugas luring.

Meski begitu, Yudis mengakui pertumbuhan pembelian secara daring kini masih kalah jauh dari gerai luring, tak bisa dianggap remeh. Terlebih saat ini makin marak skema penjualan flash sale yang kerap dilakulan beberapa vendor bekerja sama dengan e-commerce.

Namun, jika menilik data riset belanja Indonesia per 2017, pembelanjaan daring tertinggi hanyalah sebesar 71 persen, diraih penduduk Surabaya dengan estimasi waktu belanja selama 5,8 jam. Sementara penduduk di Ibu Kota, cuma berbelanja daring selama 4,7 jam. Itu pun belum tentu hanya memilih ponsel.

Apalagi, harga ponsel pintar kekinian rata-rata di atas Rp2 jutaan. Sementara masyarakat Indonesia pada tahun 2016 yang membayar belanja daring menggunakan kartu kredit cuma sebesar 11 persen.

Artinya, sesuai pengamatan Director Marketing Erajaya Group, Djatmiko Wardoyo, pembelian ponsel via daring baru mengetren 5-10 tahun mendatang, bukan saat ini. Sebab, selain belum banyak yang akrab dengan skema pembayaran daring lewat kartu kredit, kata dia, infrastruktur dan masyarakat Indonesia belum siap menyambut munculnya pasar daring.

Laporan Google Indonesia bertajuk ponsel pintar Insights 2019 ini mencakup dua survei berjudul ”Google Smarter ponsel pintar Buyers Study 2018” dan “Android ponsel pintar Purchase Journey Research 2018”.

Kedua survei bersifat kuantitatif dan dilakukan secara daring. Menyasar responden yang setidaknya baru membeli ponsel pintar selama tiga bulan terakhir sebelum survei.

Survei pertama terdiri dari 500 responden berusia 18 tahun ke atas, sedangkan survei Android melibatkan 1.730 orang yang 65 persennya didominasi kelompok milenial usia 18-24 dan 25-34 tahun.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR