HUBUNGAN SOSIAL

Ormas syariat Islam tolak sepak bola putri di Aceh

Organisasi massa pengawal Syariat Islam di Lhokseumawe, Aceh, menolak Piala Menpora Sepak Bola Putri U-17 di kota tersebut, Kamis (4/7/2019).
Organisasi massa pengawal Syariat Islam di Lhokseumawe, Aceh, menolak Piala Menpora Sepak Bola Putri U-17 di kota tersebut, Kamis (4/7/2019). | OKP Syariat Islam

Forum Komunikasi Organisasi Masyarakat dan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) Pengawal Syariat Islam, Kota Lhokseumawe, Aceh, menolak pergelaran turnamen seleksi Piala Menpora Sepak Bola U-17 Putri yang dihelat Badan Liga Sepak Bola Pelajar Indonesia (BLiSPI) Aceh di Stadion Perta Arun Gas, Lhokseumawe.

Uniknya, penolakan timbul setelah turnamen seleksi tim sepak bola putri itu selesai digelar pada Minggu (30/6/2019). Suara penolakan baru disampaikan pada Kamis (4/7) di depan halaman Masjid Islamic Center, Lhokseumawe.

Koordinator Forum Komunikasi Ormas dan OKP Pengawal Syariat Islam Kota Lhokseumawe, Teungku Sulaiman Lhokweng, menilai kegiatan sepak bola putri melecehkan martabat dan marwah perempuan Aceh. Oleh karena itu pihaknya meminta panitia untuk membatalkan sepak bola perempuan di Lhokseumawe.

"Kami meminta Menpora RI membatalkan perhelatan olahraga sepak bola perempuan dan menghormati kearifan lokal Aceh yang menerapkan syariat Islam," kata dia.

Selain itu, lanjut Teungku Sulaiman, pihaknya turut menuntut permintaan maaf dari BLiSPI Aceh. Menurutnya, turnamen sepak bola putri di Aceh melukai perasaan dan kearifan lokal masyarakat Aceh dengan mengeksploitasi perempuan Aceh.

Koordinator seleksi BLiSPI Aceh, Ishak Rizal, menuturkan turnamen sepak bola perempuan yang digelar di Lhokseumawe merupakan seleksi tim sepak bola perempuan Aceh U-17 tingkat provinsi untuk diikutsertakan ke tingkat nasional.

Seleksi itu digelar pada Minggu (30/6) dan berlangsung selama tiga jam. Yaitu pukul 11.00-12.00 WIB, istirahat, dan kemudian dilanjutkan pukul 14.00-16.00 WIB.

Seleksi tim sepak bola putri itu adalah perdana digelar di Aceh. Ada empat klub yang ikut seleksi; yakni Langsa, Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Aceh Tengah. Dari seleksi itu, tim Langsa lolos dan mewakili Aceh ke tingkat nasional.

Ishak menyebutkan selama turnamen seleksi berlangsung tidak ada penolakan dari masyarakat sekitar. Selain itu, pakaian yang digunakan oleh pemain perempuan pun sesuai dengan ajaran Islam dan menutup aurat.

"Pakaian syariah dan muslimah, tutup aurat juga. Malah lebih rapi mereka daripada olahraga lain. Tidak ada penolakan apa-apa saat digelar turnamen," kata Ishak saat dihubungi Beritagar.id, Jumat (5/7).

Menurut Ishak, turnamen seleksi tim sepak bola putri ini baru pertama kali digelar di Aceh dan bagian dari program Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Selama ini seleksi tim di Aceh hanya dilakukan pada klub sepak bola putra.

Ishak mencoba mengonfirmasikan untuk membuat seleksi tim sepak bola putri ini kepada sejumlah klub sepak bola putri di Aceh. "Saat kita konfirmasi ke teman-teman, ternyata tim putri mereka sudah sering mengikuti seleksi dan pertandingan ke Medan, Sumatra Utara," ujar Ishak.

Namun seiring penolakan, tim sepak bola putri asal Langsa yang terpilih dari seleksi tersebut, kata Ishak, akan menunggu keputusan dari Pemerintah Aceh untuk diberangkatkan atau dibatalkan.

"Tergantung Pemerintah Aceh, karena ini kan mewakili Aceh. Kita akan tunggu, apapun alasannya kita tetap akan menjalankan. Jangan sampai karena ini masih tabu, masih dianggap langka, kemudian timbul pro-kontra," kata dia.

Ishak mengharapkan semua pihak untuk melihat turnamen sepakbola putri ini dengan objektif dan adil. Karena menurut dia, selama ini ada olahraga lain yang juga melibatkan perempuan dan bahkan menggunakan pakaian yang tidak sesuai kaidah Islam.

"Cabang olahraga lain yang mungkin pelanggaran syariat lebih banyak, tapi mungkin karena sudah biasa ya dimaklumi. Karena sepak bola putri ini baru pertama, ya kita maklumi. Kita berharap semua bersikap objektif dan berkeadilan memandangnya," tuturnya.

Sementara Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mendukung penolakan itu. Nova menyampaikannya melalui cuitan di akun Twitter miliknya @niriansyah pada Kamis (4/7).

Pelaksanaan turnamen olahraga, sebut Nova, tidak bisa dilaksanakan begitu saja tanpa melihat faktor-faktor lain yang ada di daerah. "Saya sepakat, tidak semua nomor dan cabang olahraga harus ada turnamennya di Aceh," tulis Nova.

Suara penolakan juga disampaikan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Lhokseumawe. Menurut MPU, sepak bola putri punya hal negatif yang lebih besar, apalagi jika ada penonton laki-laki.

"MPU Lhokseumawe menolak supaya tidak terjadi kekacauan di dalam masyarakat, nanti ada demo-demo masyarakat yang macam-macam," kata Ketua MPU Lhokseumawe, Teungku H. Abubakar Ismail, kepada Beritagar.id, Jumat (5/7).

Adapun persoalan hukum, kata Teungku Abubakar, pihaknya meminta kepada MPU Aceh untuk mengeluarkan fatwanya. "Kita akan menunggu sikap MPU Aceh," ujar dia

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR