KRIMINALITAS

Otak kerusuhan Rutan Lhoksukon di Aceh ditangkap

Otak kerusuhan Rutan Lhoksukon di Aceh Utara, Safrizal Saputra (tengah), ditangkap polisi pada Senin (17/6/2019).
Otak kerusuhan Rutan Lhoksukon di Aceh Utara, Safrizal Saputra (tengah), ditangkap polisi pada Senin (17/6/2019). | Dokumentasi Polres Aceh Utara

Kepolisian menangkap Safrizal Saputra (42), narapidana yang diduga menjadi otak kerusuhan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Lhoksukon, Aceh Utara, Aceh, pada Minggu (16/6/2019) sehingga menyebabkan 73 narapidana dan tahanan kabur.

Safrizal adalah terpidana vonis penjara seumur hidup usai membunuh seorang imam desa di Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Ia ditangkap di Gampong Meunasah Dayah, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, pada Senin (17/6) sekitar pukul 14.30 WIB,

Polisi menangkap Safrizal usai mendapatkan informasi dari masyarakat yang mengatakan ada seorang laki-laki tidak memakai baju dan tubuhnya dipenuhi dengan tato. Kepolisian beserta sipir Rutan Lhoksukon langsung menuju ke lokasi.

Aparat kemudian meringkus Safrizal yang bersembunyi di semak-semak di samping rumah seorang warga. "Narapidana tersebut langsung di bawa ke Mako Polres Aceh Utara guna dilakukan pemeriksaan lebih lanjut," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Aceh Utara, Iptu Rezki Kholiddiansyah, kepada Beritagar.id, Selasa (18/6).

Dari interogasi polisi, Safrizal mengatakan sengaja membuat kerusuhan dan kabur dari rutan karena sakit hati pada Marliah, kekasihnya. Marliah pun mendekam di rutan itu.

Keduanya terjerat kasus yang sama setelah terbukti membunuh suami sah Marliah, seorang imam desa di Kecamatan Sawang, Aceh Utara. Safrizal divonis penjara seumur hidup, sementara Marliah divonis penjara 15 tahun.

"Sementara keterangannya seperti itu, karena ada masalah dengan kekasihnya," tutur Rezki. Kendati demikian, kepolisian terus menyelidiki soal keterlibatan narapidana lain dalam perencanaan kabur dari rutan.

27 Narapidana ditangkap, satu meninggal

Kepolisian terus memburu narapidana yang kabur dari rutan Lhoksukon. Hingga Selasa (18/6), 27 narapidana dan tahanan sudah ditangkap.

Sementara satu narapidana ditemukan meninggal dunia di sungai. "Totalnya ada 28," kata Kapolres Aceh Utara, AKBP Ian Rizkian Milyardin.

Narapidana yang meninggal diketahui dengan penemuan mayat terapung di sungai Lhoksukon pada Selasa sekitar pukul 09.00 WIB. Hasil identifikasi dari keterangan pihak rutan, sejumlah narapidana, dan keluarga, kata Ian, mayat tersebut adalah narapidana bernama Sufriadi Aiyub (20) --warga Seuneudon, Aceh Utara.

"Saat ini mayat tersebut sedang diidentifikasi oleh unit forensik bersama pihak rutan di Rumah Sakit Cut Meutia untuk mengetahui penyebab kematian," ujar Ian.

Sufiriadi, divonis penjara 2 tahun 6 bulan. Sisa hukuman yang harus dijalani satu tahun empat bulan dan 19 hari lagi.

Masih ada 45 narapidana lain yang kabur dan polisi terus mengejarnya. Ian berharap masyarakat yang mengetahui keberadaan narapidana agar segera melapor kepada polisi.

"Tetap kita cari dan kita juga berharap bagi masyarakat yang mengetahui agar lapor ke kami," ujar dia.

Kabar sebelumnya memberitakan 73 narapidana Rutan Lhoksukon kabur setelah membobol pintu utama penjara yang terletak di Kampung Baru, Lhoksukon, pada Minggu (16/6) sekitar pukul 16.00 WIB.

Kepala Rutan Lhoksukon, Yusnal, menuturkan narapidana kabur saat pengambilan makan malam pukul 16.00 WIB. Sejumlah narapidana menerobos pintu utama rutan dengan menggunakan alat seadanya seperti kursi besi. Sebelas petugas, terdiri 9 sipir dan 2 polisi tidak mampu berbuat banyak melihat narapidana yang mulai rusuh.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR