REFORMA AGRARIA

Paijo mengeluh, gubernur janji selesaikan masalah sertifikat tanah

Paijo (60), mewakili warga transmigran lain, menyampaikan persoalan yang mereka alami di hadapan Gubernur Gorontalo dan pejabat lain, berlokasi di balai pertemuan Desa Puncak, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo, Selasa (5/3/2019). Warga transmigran menuntut kejelasan status lahan dan sertifikat tanah yang sejak 10 tahun lalu belum jelas.
Paijo (60), mewakili warga transmigran lain, menyampaikan persoalan yang mereka alami di hadapan Gubernur Gorontalo dan pejabat lain, berlokasi di balai pertemuan Desa Puncak, Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo, Selasa (5/3/2019). Warga transmigran menuntut kejelasan status lahan dan sertifikat tanah yang sejak 10 tahun lalu belum jelas. | Franco Dengo /Beritagar.id

Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie, berjanji segera menyelesaikan masalah sertifikat tanah yang dialami para transmigran di provinsi tersebut. Masalah tersebut mencuat ketika seorang transmigran bernama Paijo (60) mengeluhkannya langsung di hadapan Presiden Joko "Jokowi" Widodo pekan lalu.

Janji Rusli tersebut diutarakannya saat berkunjung ke kompleks permukiman transmigran di Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo, Selasa (5/3/2019), dan mendengarkan kembali keluhan Paijo.

Gubernur, yang didampingi Sekda Kabupaten Gorontalo, Hadijah U Tayeb, menyatakan bahwa dirinya mendapat perintah langsung dari Presiden Jokowi untuk menyelesaikan persoalan yang dialami mereka.

"Saya kemarin sempat mendengar langsung keluhan Pak Paijo ini. Kebetulan saya berdiri di dekat Pak Presiden. Saya merasa malu karena ada warga yang mengadu terutama masalah lahan yang belum selesai. Makanya saya turun hari ini untuk menyelesaikan masalah ini," terang Rusli kepada para transmigran.

Sang Gubernur kemudian meminta Paijo untuk menceritakan kembali apa yang membuatnya nekat untuk bertemu dan mengadu ke Presiden.

Paijo, yang mengenakan kaus berkerah warna hijau, terlihat sedikit gugup. Namun, didukung warga lain yang berada di sekitarnya, pria yang berasal dari Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, itu mulai menceritakan masalah utama yang ia dan transmigran lain hadapi.

Berawal dari tahun 2009, saat dirinya dan beberapa warga lain dari Jawa tiba di Gorontalo dalam program transmigrasi. Saat itu, Paijo mengaku senang akhirnya memiliki rumah untuk ditinggali.

Namun, beberapa lama menikmati, pengadaan lahan usaha 1 dan lahan usaha 2 yang dijanjikan belum jelas sertifikat kepemilikannya. Ketidakjelasan itu berlanjut hingga saat ini. Mereka pun harus mencari usaha lain untuk menghidupi keluarga.

"Saya ingat waktu penandatanganan kesepakatan. Kementerian sudah mengingatkan agar kami, warga transmigran, diperhatikan, tidak dibiarkan seperti hewan lepas. Tapi apa yang kami dapatkan sekarang?" tutur Paijo.

"Karena status lahan yang tidak jelas, kami terpaksa harus menjadi buruh bangunan dan buruh kasar lainnya. Karena lahan yang dijanjikan untuk berkebun tidak ada," tegasnya di hadapan Gubernur Rusli.

Perjuangan transmigran Paijo dan kawan-kawan menuntut ketidakjelasan status lahan selalu menemui jalan buntu. Setiap kali mereka menuntut kepada pemerintah, baik pemerintah provinsi maupun kabupaten, hanya beroleh janji, tanpa ada penyelesaian.

"Mendengar presiden berkunjung ke sini (Gorontalo), saya bersama beberapa teman berencana untuk bertemu Pak Jokowi. Misi kami cuma satu, agar persoalan status lahan dan sertifikat tanah yang tidak jelas ini dapat didengarkan," terang Paijo yang tampak emosional dan beberapa kali tidak dapat menahan tetesan air matanya.

Dari total 274 kepala keluarga (KK) yang berada di Desa Puncak, Kecamatan Pulubala, ada selitar 137 warga transmigran asal Jawa. Dari hasil penelusuran, dengan data yang dikantongi warga transmigran dan yang ada di Dinas Naketrans Kabupatem Gorontalo, memang benar sebagian besar warga transmigran belum memiliki sertifikat tanah.

"Jangan sertifikat, status lahan pun masih kabur," kata Paijo.

Menyikapi hal ini, Rusli menyatakan dari dialog tersebut dirinya sudah mendapat kesimpulan atas permasalahan yang terjadi, serta solusi untuk menyelesaikannya.

"Status lahan satu dan dua itu belum jelas. Besok akan dievaluasi secara keseluruhan lagi dengan menghadirkan seluruh instansi terkait, setelah itu proses ke sertifikat. Yang pasti, saya berjanji akan menyelesaikan permasalahan ini. Karena sudah mendapatkan perhatian dari presiden," ujar Rusli.

Sebelumnya, Paijo berhasil menarik perhatian masyarakat Indonesia ketika pada Jumat (1/3), ia berhasil menerobos keamanan dan berbicara langsung di hadapan Presiden Joko Widodo. Saat itu Presiden baru saja ikut memanen jagung di Desa Mootilango, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo.

Sembari terisak, Paijo mengungkapkan keresahan warga transmigran di provinsi tersebut. Bertransmigrasi sejak 10 tahun lalu, hingga kini status lahan yang mereka tempati tidak jelas.

Mewakili ratusan warga transmigran lain, Paijo menyentil para pemangku kepentingan yang seolah mengabaikan mereka, khususnya dalam pengurusan sertifikat tanah, bagian dari program Reforma Agraria yang diusung oleh pemerintahan Joko Widodo.

"Semua sudah kami temui, pemerintah provinsi, kabupaten, DPRD, apalagi Dinas Nakertrans (Tenaga Kerja dan Transmigrasi) yang sudah bolak-balik kami datangi, untuk menuntut hak yang sudah dijanjikan sejak 10 tahun lalu," ujar warga Desa Puncak, Kecamatan Pulubala ini kepada awak media, usai berbicara di hadapan Jokowi.

Paijo, yang datang dengan warga transmigran lain, bercerita bahwa mereka sengaja memanfaatkan kedatangan presiden untuk mengadukan langsung apa yang mereka alami, meski harus menerobos pengamanan berlapis.

Aksi tersebut berhasil menarik perhatian dan menjadi perbincangan hangat di media sosial.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR