PILKADA KALTIM 2018

Panas dingin iklim pilgub Kaltim

Gubernur petahana Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak (tengah) sempat menuduh Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi mengikuti pilgub Kaltim tanpa izin dirinya.
Gubernur petahana Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak (tengah) sempat menuduh Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi mengikuti pilgub Kaltim tanpa izin dirinya. | Sri Gunawan Wibisono /Beritagar.id

Pemilihan gubernur Kalimantan Timur (pilgub Kaltim) sempat memanas setelah Gubernur petahana Awang Faroek Ishak menyindir pasangan kandidat Andi Sofyan Hasdam-Rizal Effendi. Kebetulan anak sang gubernur petahana, Awang Ferdian Hidayat, ikut meramaikan persaingan bersama Syaharie Jaang dengan mengendarai perahu politik Partai Demokrat, PPP dan PKB.

Awang Faroek menuduh Rizal maju tanpa seizinnya. Itu sebabnya Awak Faroek yang merupakan politikus senior di Kaltim meminta Rizal untuk menanggalkan jabatan wali kota Balikpapan.

Rizal berkilah dirinya fokus menyiapkan kelengkapan berkas administrasi untuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam sepekan ini. Maklum, Rizal baru selesai ibadah umroh dan baru disetujui KPU maju ke gelanggang pada 7 Maret lalu. Rizal menggantikan Nusryirwan Ismail yang meninggal saat kampanye baru dimulai pada akhir Februari.

Suasana panas pun akhirnya berubah dingin setelah Rizal menyambangi gubernur sekaligus meminta izin cuti untuk mengikuti pilgub Kaltim. "Saya langsung menyerahkan surat permintaan izin cuti pada gubernur," katanya saat dihubungi Beritagar.id, Selasa (13/3/2018).

Rizal menjelaskan sebenarnya Bagian Pemerintahan Pemkot Balikpapan langsung berkoordinasi dengan Pemprov Kaltim untuk pengurusan izin cuti ini ketika dirinya dinyatakan boleh maju dan sedang umroh. Rizal sejak semula akan menutup prosesnya dengan menyampaikan langsung secara pribadi tadi kepada gubernur.

Soal perintah mundur dari gubernur, Rizal menilai ada salah paham soal aturan kepala daerah ikut pilkada. Rizal mengutip aturan Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Dirjen Otda) hanya mewajibkan kepala daerah untuk cuti kampanye.

"Dirjen Otda sudah bilang, mungkin Pak Gubernur salah tangkap," sebutnya.

Syaharie Jaang, Ketua Partai Demokrat Kaltim dan kebetulan Wali Kota Samarinda, pun demikian --mengajukan cuti selama kampanye pilgub. "Sama seperti wali kota Samarinda yang hanya cuti ketika berpasangan dengan putra Pak Awang," ujarnya.

Itu sebabnya Rizal menilai tidak tepat bila gubernur Kaltim menunjuk pelaksana tugas menggantikan posisi wakil wali kota saat ini. Sesuai ketentuan Undang Undang, menurutnya, wakil wali kota Rahmad Mas'ud otomatis menjadi pelaksana tugas wali kota selama dirinya cuti.

Meski begitu, Rizal tetap menaruh hormat tinggi pada perhatian Gubernur Awang Faroek. Ia enggan berprasangka negatif dengan pernyataannya di banyak media massa. "Saya yakin beliau tidak punya maksud jelek apalagi mau menjatuhkan saya," ujarnya.

Namun batu sandungan bukan hanya menimpa Rizal. Sehari sebelumnya, kasus nyaris serupa mengenai pasangannya, Andi Sofyan Hasdam.

Mantan wali kota Bontang ini "terusir" dari acara Ikatan Keluarga Toraja (IKAT) Kaltim. Kebetulan panitia mengundang pula Gubernur Awang Faroek.

Sofyan akhirnya mengalah dan meninggalkan acara pelantikan pengurus IKAT untuk menghormati Gubernur Awang Faroek. Maklum Awang Faroek mengancam meninggalkan acara bila Sofyan diberi kesempatan pidato di hadapan IKAT Kaltim.

Namun Sofyan menegaskan dirinya memang diundang. Apalagi dirinya adalah Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKKS) Kaltim.

"Saya diundang untuk memberikan kata sambutan. Saya meminta maaf bila harus meninggalkan acara," ungkapnya.

Juru bicara gubernur, Hendro Prasetyo, menjelaskan itu semua hanya kesalahpahaman. Sekarang semua permasalahan sudah selesai sejak Rizal melawat ke Pemprov Kaltim.

"Semua sudah selesai, sudah clear tidak ada masalah. Surat izin cuti Pak Rizal sudah diberikan pula," ujarnya.

Lebih lanjut Hendro menyebutkan, gubernur tidak punya niat merintangi pencalonan keduanya dalam pilgub. Gubernur hanya ingin semua pihak bertindak sesuai prosedur.

Kalaupun ada permasalahan, kata Hendro, para kandidat diharapkan mampu menahan diri demi situasi kondusif Kaltim. Publik menunggu dan memperhatikan apapun pernyataan para kandidat pada tahun politik ini.

"Mereka yang lebih muda harus menahan diri. Ini tahun politik semua statement menjadi panas," ujarnya.

Selain Andi Sofyan Hasdam - Rizal Effendi (Golkar dan Nasdem) dan Syaharie Jaang - Awang Ferdian Hidayat (Demokrat, PPP dan PKB), pilgub Kaltim diikuti pula oleh Rusmadi Wongso - Safaruddin (PDIP dan Hanura) serta Isran Noor - Hadi Mulyadi (Gerindra dan PKS).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR