PILPRES 2019

Pantun Prabowo dan permintaan Ijtima Ulama III

Kubu Prabowo masih merasa menang. Jurus 2014 berulang:  tuduhan kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif. Kini mereka minta Jokowi didiskualifikasi.
Kubu Prabowo masih merasa menang. Jurus 2014 berulang: tuduhan kecurangan terstruktur, sistematis, dan masif. Kini mereka minta Jokowi didiskualifikasi. | Salni Setyadi /Beritagar.id

MASIH | Gejolak pasca-pencoblosan masih ada, sementara Komisi Pemilihan Umum masih merampungkan penghitungan suara. Rabu 1 Mei lalu calon presiden Prabowo Subianto berpantun di depan buruh di Jakarta. Dia masih yakin bakal memenangi Pilpres 2019.

Isi pantun Prabowo: "Di sini gunung di sana gunung, di tengah-tengah Pulau Bali. Saudara-saudara jangan pernah bingung, yang pasti menang Prabowo-Sandi."

Ada juga, "Rawe-rawe rantas malang-malang putung. Mereka yang curang akhlaknya seperti lutung."

Pada hari yang sama, di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Ijtima Ulama III melalui Ketua GNPF Ulama Yusuf Muhammad Martak, mengumumkan tuntutannya kepada Bawaslu dan KPU untuk mendiskualifikasi pasangan capres Joko Wido dan Ma'ruf Amin.

Martak juga menyampaikan saran pendiri Front Pembela Islam Rizieq Shihab dari Arab Saudi kepada Badan Pemenangan Nasional kepada Bawaslu KPU. Isinya, "... agar menghentikan real count agar tidak membentuk opini yang jelek di masyarakat yang akhirnya membingungkan masyarakat. Itu yang jadi bahaya."

Menurut pengamat komunikasi politik dari Fisip Universitas Brawijaya, Malang, Abdul Wahid, "Yang mereka lakukan sekarang tidak ubahnya dengan membuat narasi bahwa ketika calon pilihan mereka kalah, maka satu-satunya jalan adalah mereka mendelegitimasi peran penyelenggara pemilu, yaitu KPU, dengan tidak mempercayai hasil pemilu."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR