GUNUNG AGUNG MELETUS

Pariwisata Pulau Bali terpukul

Seorang turis asal Australia batal pulang ke negaranya menyusul penutupan Bandara Internasional Ngurah Rai di Tuban, Kabupaten Badung, akibat letusan Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, Minggu (26/11/2017).
Seorang turis asal Australia batal pulang ke negaranya menyusul penutupan Bandara Internasional Ngurah Rai di Tuban, Kabupaten Badung, akibat letusan Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, Minggu (26/11/2017). | Anton Muhajir /Beritagar.id

Geliat Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, sejak September lalu sebenarnya sudah mengganggu kegiatan pariwisata yang menjadi andalan masyarakat Pulau Dewata. Ketika gunung setinggi 3.142 mdpl itu meletus pada akhir pekan lalu (25-26/11/2017), pariwisata Bali benar-benar terpengaruh hebat.

Pagi ini, Selasa (28/11), Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Tuban, Kabupaten Badung, Bali, kembali ditutup hingga 24 jam ke depan. Ini adalah penutupan lanjutan sejak 24 jam terdahulu (Senin 27/11) pukul 07.00 WITA.

Penutupan lanjutan bandara komersial tunggal di Bali tersebut didasari NOTAM dari Airnav Indonesia nomor A4274/17. Menurut laporan Volcanic Ash Advisory Center Darwin, Australia, saat ini abu vulkanik Gunung Agung mengarah ke Bandara Ngurah Rai.

Persoalannya, Bandara Ngurah Rai adalah pintu utama bagi para turis menuju Bali. Dalam sehari, menurut data pengelola, bandara ini melayani sekitar 400 penerbangan per hari --55 persen domestik dan 45 persen internasional.

Akibat penutupan hari ini, menurut data Humas Bandara Ngurah Rai, terdapat 443 penerbangan mengalami pembatalan. Masing-masing 201 penerbangan internasional dan 242 penerbangan domestik.

Ada 59.539 orang penumpang terkena dampak pembatalan ini, baik yang seharusnya tiba maupun meninggalkan Bali. Ini pukulan telak bagi masyarakat Bali yang mengandalkan industri pariwisata.

"Mau bagaimana lagi? Bandara sudah ditutup, jadi turis tidak bisa datang, juga tidak bisa pergi," kata I Ketut Ardana, Ketua Asosiasi Agen Perjalanan Bali, kepada Beritagar.id.

Menurut Ardana, dampak terbesar erupsi Gunung Agung adalah penutupan bandara. Jumlah turis yang seharusnya meninggalkan Bali per hari adalah sekitar 3.800 orang.

Sehari sebelumnya, Gubernur Bali I Made Mangku Pastika mengatakan jumlah turis yang terlantar di Bali akibat penutupan bandara sekitar 5.000 orang per hari. Dengan penutupan yang sudah berlangsung dua hari, Mangku Pastika memperkirakan jumlah turis telantar di Bali sekarang mencapai 10.000 sampai 15.000 orang.

"Hal yang perlu kita khawatirkan dari kondisi saat ini adalah dampak luasnya kepada masyarakat dan pariwisata," kata Mangku Pastika pada jurnalis saat berkunjung ke Pos Pemantauan Gunung Agung di Rendang, Karangasem, Senin (27/11).

Para pelaku pariwisata Bali saat ini fokus pada bagaimana membantu para turis yang terlantar di Bali. Salah satunya dengan mengubah jalur perjalanan (reroute).

Ardana mencontohnya, kalangan hotel sudah berusaha menyediakan fasilitas gratis menginap satu malam untuk turis. Untuk malam selanjutnya, mereka bisa kasih harga paling murah.

Ini juga sesuai dengan imbauan dari Mangku Pastika. Sang Gubernur telah mengeluarkan Surat Imbauan berisi tiga poin tertanggal 27 November 2017 yang ditujukan kepada semua pengusaha akomodasi di Bali.

Pertama, para pengusaha memberikan informasi yang jelas terkait status Gunung Agung saat ini kepada turis. Kedua, memberikan layanan gratis satu malam. Dan ketiga, memberikan harga terendah untuk turis yang ingin memperpanjang masa tinggalnya.

Secara makro, menurut Bank Indonesia, situasi ekonomi Bali akan terkoreksi tahun ini akibat erupsi Gunung Agung. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali, Causa Iman Karana, mengatakan tingkat pertumbuhan ekonomi Bali pada akhir tahun ini berdasarkan simulasi ekonomi hanya berkisar 3,8 persen - 4,2 persen --jauh lebih rendah daripada realisasi kuartal III/2017 sebesar 6,2 persen.

Causa menambahkan bahwa dampak ekonomi akan sangat besar karena kontribusi pariwisata, termasuk akomodasi dan sektor kuliner, terhadap perekonomian Bali bisa mencapai 60 persen.

Adapun pengaruh pariwisata akibat geliat Gunung Agung sejak September 2017 nyata dirasakan masyarakat Tulamben di ujung timur Bali. Ini adalah pusat kawasan menyelam (diving) di Bali.

Dalam situasi kondusif, setidaknya ada 100 orang penyelam --terutama dar mancanegara-- beraktivitas di sana. Namun ketika status Gunung Agung menjadi "AWAS" (Level 4), Tulamben menjadi "desa mati".

Kondisi sempat pulih setelah status turun jadi SIAGA (Level 3). Beberapa dive operator mulai beroperasi lagi, tetapi kembali tutup sejak kemarin.

Kepala Dusun Tulamben, I Nyoman Suastika, tak bisa memastikan sampai kapan aktivitas pariwisata di Tulamben akan berhenti. Padahal, kehidupan Tulamben sangat bergantung pada pariwisata.

"Desa kami hampir 90 persen tergantung pada pariwisata," katanya. Tanpa pariwisata, menurut Suastika, Tulamben mati. "Dampak ekonominya sangat kelihatan. Seperti Nyepi. Tidak ada pekerjaan lagi. Ekonomi masyarakat terpuruk," pungkasnya.

Lokasi menuju dive spot di Tulamben, Karangasem, Bali, yang ditutup lantaran erupsi Gunung Agung, Minggu (26/11/2017).
Lokasi menuju dive spot di Tulamben, Karangasem, Bali, yang ditutup lantaran erupsi Gunung Agung, Minggu (26/11/2017). | Anton Muhajir /Beritagar.id
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR