INVESTASI ASING

Pasang surut modal asing di Indonesia, Singapura teratas

Pekerja menyelesaikan konstruksi terowongan proyek kereta cepat Jakarta - Bandung  di Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (16/11/2018).
Pekerja menyelesaikan konstruksi terowongan proyek kereta cepat Jakarta - Bandung di Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (16/11/2018). | M Ibnu Chazar /Antara Foto

Setelah 73 tahun Indonesia merdeka, Presiden Joko Widodo mengatakan, peran pemodal asing masih sangat dibutuhkan untuk mendorong pembangunan dan pertumbuhan ekonomi serta penciptaan lapangan kerja.

Investasi atau resminya biasa disebut sebagai Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) memiliki peran penting dalam Produk Domestik Bruto (PDB). Kontribusinya mencapai 33,48 persen pada 2018, kedua terbesar setelah konsumsi rumah tangga.

Untuk menunjang perkembangan ekonomi di Indonesia, pemerintah saat ini sedang berupaya untuk menarik lebih banyak minat investor asing agar mau menanam modal di Indonesia. Pemerintah menggunakan berbagai cara, mulai pembangunan infrastruktur hingga fasilitas perizinan serta insentif perpajakan.

Bagaimana geliat penanaman modal asing di Indonesia?

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, saat ini porsi Penanaman Modal Asing (PMA) masih lebih rendah dari porsi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Kontribusi pemodal asing terhadap total investasi pernah mendominasi pada era Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto.

Pada masa pemulihan perekonomian negara, Soeharto menerbitkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Salah satu catatan historis yang terjadi setelah adanya UU itu adalah beroperasinya PT Freeport Indonesia di Papua.

Pada 1997 nilai PMA yang masuk ke Indonesia mencapai $34,2 miliar AS, lebih tinggi dari PMDN yang jumlahnya mencapai $18,6 miliar.

Laju pertumbuhan PMDN dan PMA dalam kurun 1997-2019.
Laju pertumbuhan PMDN dan PMA dalam kurun 1997-2019. | Lokadata /Beritagar.id

Pasca-reformasi, perubahan politik yang ada tidak lantas menyurutkan aliran PMA ke dalam perekonomian Indonesia. Pemerintah sempat mengeluarkan kebijakan untuk menarik perhatian investor asing lewat Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1999 tentang Pembelian Saham Bank Umum.

Melalui PP tersebut, warga asing boleh membeli saham bank umum hingga 99 persen. Kelonggaran itu diambil sebagai salah satu langkah dan strategi memulihkan sektor perbankan setelah krisis moneter 1998. Harapannya, investor asing kembali mau untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Pada pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, realisasi PMA sempat turun tajam seiring situasi politik di Indonesia. Namun, setelah adanya peningkatan rating investasi Moody’s pada September 2003 (dari B3 menjadi B2), kepercayaan investor terhadap Indonesia meningkat. Pada masa itu memang periode akhir program kerja sama pemerintah dengan IMF (International Monetary Fund).

Seiring perubahan kepemimpinan, pemerintah terus mendandani beragam kebijakan agar semua lapisan investor sudi merogoh kocek untuk pembangunan, yang justru mengubah dominasi investasi asing.

Kini, investasi lokal kian diandalkan. Porsi PMDN terhadap total investasi semakin meningkat sejak 2003 dan pertumbuhan PMA cenderung melambat.

BKPM mencatat dalam satu dekade terakhir, setidaknya ada lima negara yang paling gencar berinvestasi di Indonesia yakni; Singapura, Jepang, Belanda, Korsel dan Amerika Serikat (AS). Peran investor Singapura hampir ada di setiap lini sektor usaha di Indonesia dengan nilai $61,5 miliar AS atau sekitar 23,95 persen dari total investasi asing langsung (Foreign Direct Investment) di Indonesia.

Data investasi selama 10 tahun terakhir menunjukkan masih banyak investor asing melakoni sektor pertambangan, melirik potensi cuan besar sekaligus sensitif terhadap ketidakpastian. Meski setiap tahun gelontoran dolar ke bisnis tersebut berfluktuasi, namun sektor tersebut tetap paling besar menjaring dana asing. Sebaliknya, investor lokal lebih melirik untung di balik bisnis produk konsumsi, tetap melihat prospek cerah.

Kontribusi PMA kumulatif menurut negara asal dan sektor usaha.
Kontribusi PMA kumulatif menurut negara asal dan sektor usaha. | Lokadata /Beritagar.id

Terhitung sejak 2009 hingga saat ini, sektor pertambangan masih jadi primadona bagi investor asing yang telah menggelontorkan $34,68 miliar, atau setara 13,5 persen dari total investasi PMA sebesar $256 miliar selama satu dekade.

Dengan kata lain, tiap tahun rata-rata sektor pertambangan menyerap $3,4 miliar dari pemodal asing. Sektor lain yang menggiurkan bagi penanaman modal asing adalah industri transportasi, gudang, dan telekomunikasi.

BKPM menilai peluang investasi di sektor tersebut masih besar seiring dengan maraknya pembangunan infrastruktur dan makin ramainya kehadiran perusahaan rintisan.

Deputi Bidang Penanaman Modal BKPM, Farah Ratnadewi, mengatakan setiap pertumbuhan investasi sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan pemerintah dan ketika pemerintah menaruh prioritas pembangunan, sektor tersebut menjadi salah satu yang turut tumbuh.

Dia menjelaskan bahwa sepanjang infrastruktur masih menjadi prioritas pemerintah, investasi di sektor-sektor tersier yang terkait dengan infrastruktur tersebut akan terus mengalami peningkatan.

“Sektor infrastruktur ini sebenarnya adalah sektor penunjang bagi pertumbuhan sektor-sektor prioritas, khususnya yang dapat diperdagangkan khususnya manufaktur dan pertanian,” kata Farah kepada Beritagar.id, Rabu (24/7/2019).

Sektor usaha favorit tujuan investor asing.
Sektor usaha favorit tujuan investor asing. | Lokadata /Beritagar.id

Peran investor lokal dalam kegiatan eksplorasi pertambangan di Indonesia masih kalah dominan dibandingkan dengan investor AS. Investor dari Paman Sam secara konsisten menaruh jejak di sektor ini selama puluhan tahun. Hingga tahun lalu, aliran investasi asal AS yang masuk ke Indonesia menuju ke sektor tambang.

Pengusaha lokal di Tanah Air rupanya masih bisa dihitung dengan jari yang masuk dan berinvestasi di sektor pertambangan. Menurut Rachman Wiriosudarmo, pengamat pertambangan dari Natural Resources Center (NRC), ada beberapa alasan yang menjadi penyebab keengganan investor lokal berinvestasi.

“Pengusaha nasional kita tidak mau terjun sejak masa eksplorasi. Ada juga karena masih membutuhkan faktor sejarah pengalaman panjang dan mahal,” kata Rachman, kepada Beritagar.id, Rabu (24/7).

Hal lain yang menyebabkan pengusaha nasional enggan masuk ke dunia pertambangan, ungkap Rachman, karena masih banyak pilihan investasi lain. Misalnya masih ada bidang properti, manufaktur, perhotelan, konstruksi dan sebagainya.

Namun demikian, menurut Rachman, penurunan PMA merupakan alarm bagi pertumbuhan ekonomi ke depan. Beberapa poin yang kerap dijadikan acuan investor asing seperti tingkat upah buruh, tingkat produktivitas, serta kemudahan perizinan, harus segera diatasi.

"Dalam hal ketiganya, perlahan Indonesia kehilangan keunggulan dari negara lain. Terlebih untuk perizinan yang selalu saja menjadi pintu masuk korupsi bagi pejabat, terutama di daerah," tegasnya.

Perosalan lawas tersebut harus segera diurai. Investor harus dibuat bergairah agar perekonomian bisa membuat semua pihak tersenyum semringah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR