IKON WISATA

Pasang surut pembangunan GWK selama 28 tahun

Sejumlah pekerja berada di atas truk yang mengangkut modul terakhir Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) sebelum dipasang di Ungasan, Badung, Bali, Selasa (31/7/2018).
Sejumlah pekerja berada di atas truk yang mengangkut modul terakhir Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) sebelum dipasang di Ungasan, Badung, Bali, Selasa (31/7/2018). | Fikri Yusuf /Antara Foto

Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) akhirnya berdiri kokoh di kawasan Cultural Park GWK, Ungasan, Jimbaran Bali. Modul terakhirnya sukses dipasang pada Selasa (31/7/2018) malam hingga Rabu pagi WITA.

Saat modul terakhir diangkut, belasan pekerja bersorak riuh ramai sambil mengibarkan beberapa bendera merah putih sepanjang perjalanan. Kegembiraan mereka seolah mengisyaratkan bahwa penantian bertahun-tahun usai sudah.

Mendirikan patung berwujud Dewa Wisnu yang sedang menumpang burung Garuda ini memang tidak sebentar. Waktunya mencapai 28 tahun dengan lima kali pergantian Presiden RI pun terlewati.

Dengan antusias mengiringi keping terakhir patung GWK

A post shared by Nyoman Nuarta (@nyoman_nuarta) on

Pembangunannya berawal dari gagasan pematung sekaligus salah satu pelopor Gerakan Seni Rupa Baru, I Nyoman Nuarta; Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi, Joop Ave (alm); Gubernur Bali, Ida Bagus Oka (alm); serta Menteri Pertambangan dan Energi, Ida Bagus Sudjana (alm) pada 1989.

Lalu, pada awal 1990, rencana itu dipresentasikan ke Presiden Soeharto dan disetujui pada 1993. Gagasan tersebut kemudian disosialisasikan di hadapan para anggota dan pimpinan DPRD Bali, tokoh-tokoh masyarakat setempat, dan warga di sekitar lokasi GWK.

Dalam rancangannya, ada 754 modul berukuran sekitar 3x4 meter dengan berat 1 ton. Semua modul disiapkan untuk membentuk wujud GWK secara utuh. Bagian demi bagian dibuat di Bandung, Jawa Barat. Baru setelah itu hasilnya dikirim ke Bali untuk "dijahit".

Peletakan batu pertama pada pembangunan Cultural Park GWK di Bukit Ungasan Jimbaran ini pun dilakukan pada 1997 dengan menempati lokasi bekas penambangan kapur ilegal.

Pembuatan modul demi modul GWK melibatkan ratusan seniman yang bekerja dengan menggabungkan seni, teknologi, dan sains. Sekitar 120 seniman pun turut membantu pemasangannya di Bali.

"Di Bali, kayak masang puzzle gitu, disetel dulu di bawah, sudah yakin setelannya benar, baru di-transport ke atas. Karena kalau sudah di atas enggak boleh salah," jelas Nyoman Nuarta, alumnus Fakultas Seni Rupa Institut Teknik Bandung (ITB), kepada Kompas.com (5/7).

Pembangunan sempat tersendat oleh beberapa faktor, terutama pengadaan bahan baku. Menurut lelaki 66 tahun ini, bahan-bahan yang digunakan untuk membuat GWK--kecuali baja--banyak diimpor dari beberapa negara. Misalnya Jepang, Tiongkok, India, Italia, bahkan Amerika Latin.

"Kita dapatkan barang lama, lalu harga beda-beda, nggak mudah menghitungnya. Misalnya dulu hitung (harganya) 100 tiba-tiba jadi 150, seperti itu," jelasnya.

Kemudian krisis ekonomi pada 1998 sempat menghentikan proyek ini. Lantas, Nuarta harus menerima pro-kontra sehingga terpaksa merelakan 82 persen saham ke PT Alam Sutera Realty Tbk pada 2012 dan melanjutkan pengerjaan pada 2013.

Cuaca juga ikut mempengaruhi pembangunan. Mulai dari angin, hujan, hingga petir sangat memengaruhi kegiatan pemasangan modul patung, meski hingga patung selesai tak pernah sekalipun ada insiden berarti.

"Karena crane yang kita gunakan itu hanya boleh beroperasi kalau anginnya di bawah 10 kilometer per jam. Hari ini saja embusan angin 13 kilometer per jam, dari Australia," ucapnya sebelum menambahkan mungkin akan berbeda cerita jika GWK dibuat di ruangan tertutup dengan ukuran yang tak terlalu tinggi (16/5).

Monumen setinggi 121 meter itu pun kini berdiri tegak dengan warna kehijauan akibat paparan sinar matahari pada logam dan penambahan zat kimia sederhana pada permukaannya. Tinggi GWK melebihi Patung Liberty di Amerika Serikat yang dari tanah hingga ke ujung obornya "hanya" mencapai 93 meter.

Apresiasi dilayangkan berbagai pihak kepada Yayasan Garuda Wisnu Kencana, I Nyoman Nuarta, seniman yang berpartisipasi, serta para pekerja yang berperan besar dalam penyelesaiannya.

Patung ini pun digadang menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Indonesia sekaligus kebanggaan bagi masyarakat Bali. Apalagi, lokasi berdirinya GWK sudah sering menjadi arena acara besar seperti festival musik Soundrenaline hingga Torch Relay Asian Games 2018.

"Kita berharap keberadaan patung ini dapat meningkatkan kunjungan wisatawan dan sejalan dengan target 20 Juta wisatawan mancanegara dan 275 juta pergerakan wisatawan nusantara pada tahun 2019," sebut Menteri Pariwisata Arief Yahya seperti dikutip Tribunnews.

Menurut rencana, Nuarta akan menggelar seremonial khusus untuk untuk menandai selesainya megaproyek tersebut pada akhir Agustus. Meski bukan proyek pemerintah, Nuarta mengaku bakal mengundang Presiden Joko Widodo dan segenap menteri dari Kabinet Kerja.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR