PASAR TRADISIONAL

Pasar Badung, ikon ekonomi kerakyatan baru di Bali

Pedagang memberikan angpao kepada penari barongsai yang berkeliling Pasar Badung, Denpasar, Bali, Senin (4/2/2019).
Pedagang memberikan angpao kepada penari barongsai yang berkeliling Pasar Badung, Denpasar, Bali, Senin (4/2/2019). | Nyoman Hendra Wibowo /AntaraFoto

Bali punya ikon baru di sektor ekonomi kerakyatan. Namanya Pasar Badung. Lokasinya ada di Jl. Sulawesi Nomor 1, Dauh Puri Kangin, Denpasar Bar, Kota Denpasar, Bali.

Sesuai dengan peruntukkannya sebagai pasar tradisional, aneka rupa pangan dijual di sini. Dari mulai bumbu dapur, rempah-rempahan, sayur-mayur, ikan dan daging, hingga bahan pokok seperti beras dan minyak.

Nuansa kental arsitektur Bali melekat erat pada desain bangunan pasar ini. Kendati konvensional, fasilitas yang ada di pasar ini tak kalah dengan pasar modern.

Pasar ini memiliki 6 lantai, dua untuk basement dan empat lainnya untuk los dan kios. Akses tiap lantai disediakan lift, tangga, dan juga eskalator. Lantai dasar pasar sanggup menampung 42 mobil pengunjung serta 23 mobil pengangkut barang. Sementara, pada lantai basement 2 kapasitas parkirnya bisa mencapai 82 mobil.

Total los yang sanggup ditampung di pasar ini mencapai 1.450 unit dan tambahan 290 unit kios. Ditambah dengan warung tenda di sekitar pasar, maka sekitar 1.698 pedagang bisa ditampung di sini.

Pantauan Beritagar.id, Jumat (22/3/2019) malam, lantai pasar dijaga dengan begitu bersih. Lampu-lampu di tiap lantai tidak dibuat temaram. Beberapa bagian tembok pasar berhiaskan mural berwarna-warni.

Salah satu gambar mural pada sisi tembok di Pasar Badung, Denpasar, Bali.
Salah satu gambar mural pada sisi tembok di Pasar Badung, Denpasar, Bali. | Ronna Nirmala /Beritagar.id

Pada sisi kanan pasar terdapat aliran sungai. Lampu berwarna-warni dipasang di sepanjang aliran sungai yang membentangi bangunan seluas 24 ribu meter persegi itu. Tak kalah menarik, pasar juga dilengkapi oleh jaringan internet (WiFi) sebanyak 18 titik.

Satu hal, mengikuti Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Plastik Sekali Pakai, pasar ini sudah tidak lagi melayani pembelian dengan kantong plastik. Dengan kata lain, pembeli sudah harus membawa kantong masing-masing.

Pasar ini tidak cantik begitu saja. Pasar ini lahir dari proses revitalisasi yang dimulai 29 Juli 2017, atau sekitar satu tahun setelah pasar ini habis dilalap si jago merah.

Seluruh proses pembangunan ulang rampung, 24 Februari 2019. Namun, pasar ini baru mulai beroperasi setelah diresmikan oleh Presiden Joko "Jokowi" Widodo, pada Jumat (22/3/2019) malam.

Jokowi menyebut pasar ini sebagai pasar dengan arsitektur paling indah yang pernah dilihatnya. "Karena ini warisan pusaka yang kalau dilihat dari depan, pasar ini adalah pasar dengan arsitektur paling indah," kata Jokowi, sebelum meresmikan pasar.

Karena keindahannya itulah, Jokowi meminta seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah daerah maupun pihak manajemen untuk selalu menjaga kebersihan pasar ini. Setidaknya, Jokowi berharap pasar ini tidak berubah jadi bau dan kotor.

"Ini budaya yang harus kita ubah semuanya. Sehingga, pasar bisa bersaing dengan supermarket. Saya yakin bisa. Tinggal niatnya ada atau tidak ada," ujarnya.

Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra menjelaskan, pembangunan Pasar Badung dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama dilakukan dengan menggunakan dana Tugas Pembantuan (TP) dari Kementerian Perdagangan. Alokasi dananya sebanyak Rp75 miliar dan pengerjaannya dimulai sejak 29 Juli hingga 21 Desember 2017 oleh PT Nindya Karya.

Adapun tahap pembangunan kedua menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Denpasar sebesar Rp61,8 miliar dan pengerjaannya dilakukan sejak 25 April hingga 28 Desember 2018, masih oleh PT Nindya Karya.

Rai menjanjikan, Pasar Badung bukan menjadi satu-satunya di Denpasar. Saat ini, ada sekitar 30 pasar rakyat yang tengah direvitalisasi di Kota Denpasar.

Dari catatannya, program revitalisasi pasar terbukti mampu memberi manfaat maksimal untuk masyarakat. Hal ini diukur melalui omzet miliaran rupiah per bulan yang berhasil diraih pasar tradisional di Denpasar.

"Di antaranya Pasar Agung yang semula hanya beromzet Rp2,5 miliar per bulan setelah direvitalisasi mampu meraup omzet Rp16 miliar dan Pasar Nyanggelan yang semula beromzet Rp2 miliar setelah direvitalisasi mampu meraup omzet Rp7 miliar per bulan," tukas Rai.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR