PASAR TRADISIONAL

Pasar tradisional masih melimpah, kecuali di Kepulauan Riau

Para pedagang sayur mayur dan konsumen beraktivitas di pasar tradisional Peunayong, Banda Aceh, Jumat (1/2/2019). Aceh tercatat memiliki pasar tradisional yang cukup banyak dibanding pasar modern.
Para pedagang sayur mayur dan konsumen beraktivitas di pasar tradisional Peunayong, Banda Aceh, Jumat (1/2/2019). Aceh tercatat memiliki pasar tradisional yang cukup banyak dibanding pasar modern. | Ampelsa /Antara Foto

Pasar tradisional masih melimpah di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2018 yang dipelajari Lokadata Beritagar.id, jumlahnya mencapai 14.182 pasar atau 88,52 persen dari seluruh pasar di Indonesia.

Sementara data pasar modern hanya 1.839 buah atau 11,48 persen dari seluruh pasar di Indonesia. Masih unggulnya jumlah pasar tradisional adalah lantaran faktor tawar menawar harga barang.

"Adanya tawar-menawar yang tidak dapat dilakukan di pasar selain pasar tradisional," demikian kesimpulan BPS.

Pasar tradisional atau juga pasar rakyat adalah adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah, pemerintah daerah, swasta, BUMN dan BUMD. Ini termasuk pasar kerja sama dengan swasta untuk tempat usaha berupa toko, kios, los, dan tenda.

Yang jelas, pasar tradisional mengakomodasi pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat, atau koperasi dengan usaha kecil. Sedangkan pasar modern meliputi pusat perbelanjaan dan toko modern.

Perbedaan pun meliputi sistem layanan; di pasar modern pelayanan bersifat mandiri. Di pasar modern, jenis barang pun dijual berbentuk eceran melalui minimarket, supermarket, department store, hypermarket, atau grosir perkulakan. Hal ini sesuai kriteria dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 70/MDAG/PER/12/2013.

Pasar tradisional masih mendominasi di Indonesia.
Pasar tradisional masih mendominasi di Indonesia. | Lokadata /Beritagar.id

Dari data jumlah pasar tradisional vs. modern, sejumlah provinsi punya perbandingan relatif berimbang. Misalnya di DKI Jakarta 54,5 persen vs. 45,5 persen.

Sedangkan Kepulauan Riau menjadi pengecualian. Pasar modern mendominasi hingga 52,6 persen dibanding 47,4 persen pasar tradisional.

Selebihnya, pasar tradisional benar-benar menjadi "raja" di masyarakat. Terutama di Aceh yang mencapai 90,2 persen.

Di Indonesia, sebagian besar pasar sudah berusia cukup tua. Bila mengambil sampel usia pasar tradisional di atas 25 tahun, jumlah terbanyak terdapat di Jawa Timur (1.326 pasar) dan Jawa Tengah (1.137 pasar).

Sedangkan pasar tradisional di Papua yang usianya sudah di atas 25 tahun hanya ada 12 buah. Jumlah pasar tradisional ini juga bisa dibaca dari sudut jejak pembangunan dan jumlah penduduk --di Papua per 2018 "cuma" mencapai 3,3 juta jiwa.

Di Papua, pembangunan pasar tradisional pun harus diperjuangkan. Misalnya di ibukota Jayapura, pasar tradisional Mama-Mama Papua baru berdiri pada Maret 2018 setelah diperjuangkan sejak 2009.

Namun begitu, jangan salah sangka. Meski berupa pasar tradisional, tampilan Pasar Mama-Mama Papua justru sudah modern. Bahkan desain arsitektur pasar ini sempat menjadi finalis Festival Arsitektur Dunia di Singapura pada 2015.

Papua memang benar-benar menikmati pelayanan prima dari pemerintahan Joko "Jokowi" Widodo - Jusuf Kalla. Pada rezim ini, 12 pasar tradisional di Papua sudah mengalami renovasi ke tampilan modern alias 100 persen.

Pasar di Papua 100 persen sudah direnovasi ke tampilan modern.
Pasar di Papua 100 persen sudah direnovasi ke tampilan modern. | Lokadata /Beritagar.id

Sementara jumlah pasar tradisional terbanyak yang sudah direnovasi ke tampilan modern adalah di Sumatera Selatan. Dari 441 pasar tradisional, 48 di antaranya sudah memiliki tampilan modern.

Kepulauan Riau juga mengalami renovasi yang relatif memadai karena ada 34 dari 210 pasar tradisional yang sudah memiliki tampilan modern. Boleh jadi pemerintah ingin pasar tradisional bisa mengejar kekalahan jumlah dari pasar modern.

Jumlah pasar tradisional yang telah direnovasi memang belum sebanding dengan jumlah yang ada. Maklum, Kementerian Perdagangan menyusun skala prioritas untuk program revitalisasi tersebut, yakni usia pasar di bawah atau sama 25 tahun.

Selain itu; prioritas lain adalah bangunannya rusak pascabencana, pascakonflik sosial, menjadi pusat atau jalur distribusi, sebagai sabuk niaga, punya komoditi spesifik, dan masih bersifat darurat atau belum punya bangunan utama.

Revitalisasi atau renovasi pasar tradisional ini juga mencakup fasilitas umumnya. Misalnya jaringan listrik, toilet, drainase, pembuangan sampah, instalasi air bersih, atau anjungan tunai mandiri (ATM).

Dan untuk urusan fasilitas umum ini, skornya memang relatif belum memuaskan. Skor paling tinggi pada total 14.182 pasar tradisional di Indonesia, hanya listrik dan toilet. Sisanya, di bawah memuaskan.

Fasilitas umum di pasar tradisional Indonesia pada 2018.
Fasilitas umum di pasar tradisional Indonesia pada 2018. | Lokadata /Beritagar.id

Upaya revitalisasi pasar tradisional pun kini ditambah kebijakan baru pemerintah. Presiden Jokowi meminta Kementerian Perdagangan segera melakukan transformasi digital sebagai tuntutan zaman.

Jokowi ingin para pelaku usaha kecil di pasar tradisional memiliki platform dan marketplace menuju era transaksi perniagaan elektronik yang kini menjamur. Dalam bahasa singkat, para pedagang di pasar tradisional juga terjun ke e-commerce.

"Di pasar tradisional kita mulai bangun ekosistem online, tapi juga tetap harus ada perbaikan offline-nya," kata Jokowi saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Perdagangan di ICE BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (12/3/2019).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR