TERORISME

Pasca-bom Medan, Densus tangkap terduga teroris di sejumlah daerah

Personel Tim Densus 88 Polri berjaga saat penggeledahan rumah milik orang tua salah satu terduga teroris di Bandar Lampung, Lampung, Selasa (15/10/2019).
Personel Tim Densus 88 Polri berjaga saat penggeledahan rumah milik orang tua salah satu terduga teroris di Bandar Lampung, Lampung, Selasa (15/10/2019). | Ardiansyah /Antara Foto

Densus 88 anti-teror menangkap enam orang terduga teroris di sejumlah daerah pasca-ledakan bom mengguncang Markas Polrestabes Medan, Sumatera Utara, Rabu (13/11). Para terduga teroris yang ditangkap berada di daerah berbeda seperti di Banten, Cianjur dan Jawa Tengah.

Kemarin (13/11), Densus 88 menangkap tiga terduga teroris di Serang, Banten dan satu di Jawa Tengah. Penangkapan tersebut dikaitkan dengan pelaku bom bunuh diri, RMN (24), di Mapolrestabes Medan, Sumatera Utara.

"Tim Densus 88 sudah mengamankan empat orang. Tiga orang di Banten, dan satu orang di Jawa Tengah (Jateng)," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol, Dedi Prasetyo, di Markas Korps Brimob, Kelapa Dua, Depok, Kamis (14/11/2019).

Menurut Dedi, tiga terduga teroris yang ditangkap di Serang Banten merupakan jaringan Jamaah Anshorut Daulah (JAD). Sementara satu terduga teroris yang diamankan di Jateng, masih belum dapat diketahui terlibat jaringan kelompok siapa, karena masih dalam pengembangan dan pemeriksaan. Ia mengatakan, para tersangka selama ini juga pernah terlibat pelatihan militer.

"Ada juga yang sudah mengikuti perang bersama ISIS di Suriah. Saat ini sedang dikembangkan oleh tim Densus 88," kata dia.

Tangkap suami istri di Cianjur

Lalu pada Kamis (14/11), Densus 88 juga menangkap pasangan suami istri terduga teroris di Desa Gunungsari, Kecamatan Ciranjang, Cianjur, Jawa Barat. DS (24) dan DK (25) diamankan di dua lokasi berbeda.

"DS diamankan di sebuah sekolah tempatnya mengajar di Kampung Cibanteng, Desa Gunungsari, Kecamatan Ciranjang, sedangkan DK istrinya diamankan di rumah kontrakan," kata Ure Suryadi Ketua RT setempat seperti dilansir dari Antaranews.

Warga sekitar sempat terkejut dengan kedatangan puluhan anggota polisi berseragam dan berpakaian preman dengan senjata laras panjang. Polisi yang datang langsung menggeledah rumah kontrakan dan mengamankan pemiliknya.

"Proses penangkapan sangat singkat, petugas juga membawa sejumlah barang menggunakan kantong plastik berukuran besar. Kami tidak tahu apa isi di dalamnya. Masih Ada barang yang ditinggalkan di dalam kontrakan," katanya.

Pasangan suami istri itu diketahui baru dua pekan menyewa rumah di wilayah tersebut. Keduanya tinggal di rumah kontrakan dengan nuansa cat kuning dan biru. Meski kamar yang mereka tempati berjejer dengan penghuni lain, tidak banyak yang mengetahui aktivitas keduanya. DS diketahui sering mengajar di salah satu sekolah.

Imas (32) pengelola kontrakan mengungkapkan, saat diamankan petugas, DK sempat menyangkal jika dirinya teroris, namun petugas tetap membawa pasangan suami istri tersebut. Petugas memintanya untuk menjelaskannya di kantor polisi.

"Saya juga tidak menyangka mereka terlibat dalam jaringan teroris karena tidak ada gelagat mencurigakan dari keduanya sejak menyewa rumah dua minggu yang lalu," katanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR