FLUKTUASI RUPIAH

Pasca-rekapitulasi IHSG naik tipis, Rupiah masih pasif

Seorang petuga menghitung mata uang dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Rabu (15/5/2019).
Seorang petuga menghitung mata uang dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Rabu (15/5/2019). | Aprillio Akbar /AntaraFoto

Pengumuman hasil rekapitulasi suara resmi Pemilu 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), Selasa (21/5/2019) dini hari, tak memberi pengaruh besar pada gerak indikator ekonomi dalam negeri.

Bloomberg Index mencatat gerak rupiah masih pasif dengan dibuka pada level 14.462 dari penutupan sebelumnya 14.455. Gerak positif baru ditunjukkan oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berhasil menguat tipis ke posisi 5.925 dari penutupan 5.907.

Sejumlah ekonom sepakat menyatakan gerak IHSG dan Rupiah tersandera isu aksi people power pada 22 Mei 2019. Selain memang, faktor global jadi pendorong utama pelemahan.

“Kalau ada chaos, pasti investor akan berpikir ulang. Kalau misal setelah Rabu (22/5/2019) tidak ada lagi faktor yang mengganggu kestabilan dalam negeri, maka rupiah bisa saja dibuka menguat lagi,” ujar analis Asia Tradepoint Futures Deddy Yusuf Siregar, dalam CNN Indonesia.

Secara garis besar, pelaku pasar tidak mengkhawatirkan hasil rekapitulasinya, melainkan serangkaian aksi yang berlangsung setelahnya. Alhasil, banyak dari mereka yang memilih untuk menunggu (wait and see) hingga Rabu esok untuk membuat keputusan apakah akan kembali berinvestasi di Indonesia.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih tetap optimistis pasar bakal merespons positif hasil rekapitulasi. Namun, sentimen itu akan bersifat temporer.

“Sentimen positif ini bisa membuat rupiah menguat menuju kisaran antara Rp14.400 sampai dengan Rp14.450 per dolar AS,” kata Lana.

Kendati demikian, faktor domestik belum bisa membuat rupiah untuk lebih kuat dari posisi saat ini. Konflik geopolitik di Timur Tengah antara Arab Saudi dan Iran yang semakin panas membuat harga minyak dunia terkerek naik.

Kenaikan harga minyak secara tak langsung akan membuat biaya impor komoditas ini semakin mahal. Rupiah pun tak mampu membendung tekanan tersebut.

Senin (20/5/2019) pukul 22.09 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni 2019 di New York Mercantile Exchange naik 0,75 persen ke posisi $63,23 per barel dari harga penutupan satu hari sebelumnya, $62,76 per barel.

Jangan lupa, keputusan Tiongkok untuk mengundur negosiasi perdamaian dengan Amerika Serikat (AS) juga memberikan ketidakpastian global.

Pelemahan rupiah turut diikuti oleh mata uang lainnya seperti yen Jepang sebesar 0,11 persen, ringgit Malaysia sebesar 0,06 persen, dan euro 0,01 persen.

Sementara, pergerakan IHSG diproyeksikan bakal berada pada zona hijau dalam beberapa hari ke depan. Meski ada kekhawatiran soal aksi people power, namun kepercayaan diri investor masih cukup baik pada instrumen ini.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan penguatan IHSG didorong oleh masuknya dana BPJS Ketenagakerjaan pada saham-saham blue chips sehingga memberi dorongan tambahan pada gerak IHSG.

Dalam prediksinya, IHSG bakal menguat dengan diperdagangkan pada level support dan resistance di 5.840-5.970.

“Kalau damai (respons terhadap hasil rekapitulasi suara) maka ada potensi tembus di atas 6.000,” kata William.

Untuk diketahui, pada Senin (20/5/2019), BPJS Ketenagakerjaan memutuskan untuk membeli instrumen saham demi memperbaiki kinerja anjlok, selain harganya yang tengah murah.

Saham yang dipilih sengaja berasal dari perusahaan besar yang memiliki pendapatan stabil dengan risiko yang lebih kecil.

“Kalau kita seorang pebisnis, mau melakukan jual beli, kita akan beli barang pada saat harganya mahal atau murah? Kita beli harga murah kan. Kira-kira begitu,” kata Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto.

Terlalu undervalue

Tanpa disadari, gerak rupiah dalam beberapa pekan terakhir sudah berada di bawah nilai wajarnya atau undervalue.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, meski fluktuasi rupiah cenderung berada pada level stabil namun posisinya sudah undervalue.

Aliran modal asing yang masuk ke pasar saham maupun pasar surat berharga negara (SBN) sampai Maret 2019 tercatat sebesar $5,5 miliar AS. Selain itu di sektor riil, neraca perdagangan Indonesia per Maret 2019 mencapai $540 juta AS, meningkat dibandingkan Februari sebesar $330 juta AS.

Membaiknya kondisi aliran modal asing di portofolio dan surplus neraca pembayaan di sektor riil menopang nilai tukar rupiah untuk tidak fluktuatif. Perry mengatakan, memasuki kuartal kedua 2019, aliran modal asing masih dalam prospek yang positif.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution meminta pasar untuk tidak panik, sebab kondisi yang terjadi saat ini benar-benar dinamis.

“Memang dunianya sedang bergerak begini. Kalau mengkhawatirkan sih tidak. Tapi tendensi melambatnya akan muncul perlahan-lahan dia akan makin lambat makin lambat. Tapi tidak membuat gejolak yang tajam,” kata Darmin di Kompleks Istana Kepresidenan, pekan lalu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR