PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

PBB gandeng Didiet Maulana untuk program SDGs di Indonesia

Karya Didiet Maulana yang ditampilkan dalam pagelaran Jakarta Fashion Week (12/11/2012).
Karya Didiet Maulana yang ditampilkan dalam pagelaran Jakarta Fashion Week (12/11/2012). | Adi Weda /EPA

Para perancang mode Indonesia kian mendunia. Prestasinya pun tak hanya sebatas melenggangkan karyanya di panggung mode internasional.

Salah satunya adalah Didiet Maulana. Perancang di balik label IKAT Indonesia itu baru saja menjalin kerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam hal sosial.

IKAT Indonesia merupakan salah satu label busana yang dalam pembuatannya banyak memanfaatkan wastra Indonesia, khususnya tenun. Sejak berdiri pada 2011, IKAT berdedikasi untuk turut berkontribusi dalam pelestarian budaya Indonesia.

Sang perancang yang ikut membuat tas hadiah Grammy Awards 2016 ini pun didaulat untuk menjadi salah satu pembicara di United Nations Day 2018 yang digelar di Museum Nasional, Jakarta pada Jumat (9/11/2018).

Acara ini digagas oleh PBB dan Kementerian Luar Negeri RI dalam rangka memperingati Hari PBB yang jatuh pada tanggal 24 Oktober setiap tahunnya.

Tahun ini, perhelatan tersebut mengusung pembahasan mengenai 17 tujuan yang terangkum dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

SDGs adalah kesepakatan yang dibuat untuk menggantikan Millennium Development Goals (MDG) untuk periode 2015-2030.

Adapun perjanjian itu terbagi menjadi 169 target dan sekitar 300 indikator, dan berdiri di atas lima fondasi yaitu; manusia, planet, kesejahteraan, perdamaian, dan kemitraan.

Singkat kata, SDGs bertujuan untuk memberantas kemiskinan dan kelaparan, mengurangi ketimpangan dalam dan antar negara, memperbaiki manajemen air dan energi, dan mengambil langkah cepat untuk mengatasi perubahan iklim.

Dalam hal ini, Didiet yang aktif dalam kegiatan memberdayakan perempuan dan penenun di berbagai daerah di Indonesia memiliki kesempatan untuk merealisasikan lima dari 17 poin yang ada pada SDGs.

1. Mengurangi kemiskinan

Bersama dengan label yang dimilikinya, lelaki yang pernah bekerja untuk MTV Indonesia ini telah membuka lapangan pekerjaan dari sektor hulu ke hilir.

Lapangan pekerjaan yang diciptakannya mencakup mulai dari proses pembuatan tenun, pengiriman produk dari desa ke kota, hingga membuka lapangan pekerjaan untuk tim produksi dan kreatif.

2. Pendidikan

Profesi penenun saat ini dilihat sebagai pekerjaan yang menjanjikan. Hal ini didukung oleh minat masyarakat Indonesia terhadap kain Nusantara.

Pemerintah pun memberi dukungan dengan memasukkan kegiatan menenun sebagai ekstra kurikuler di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kegiatan ini sudah dilakukan di SMK 2 Kediri, Jawa Timur dan Denpasar.

IKAT Indonesia juga berkontribusi dengan mendampingi pelajar SMK tata busana dan SMK desain grafis untuk mengeksplorasi motif tradisional Indonesia.

3. Pemberdayaan perempuan

Perancang yang mengenyam pendidikan di bidang arsitektur ini juga berperan dalam pemberdayaan perempuan. Sebagian besar pekerja yang ada di balik label IKAT Indonesia adalah perempuan.

“Profesi tenun menjadi satu pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah sambil mengurus keluarga. Penenun menjadi sarana bagi mereka untuk mengaktualisasikan diri dan menambah kepercayaan diri perempuan di lingkungannya,” jelas Didiet, seperti dikutip Kumparan, Kamis (15/11).

4. Ekonomi

Didiet juga turut membantu meningkatkan ekonomi negara lewat industri mode. Dibukanya lapangan pekerjaan otomatis meningkatkan jumlah produksi dan kinerja para penenun.

Ia juga menggaet Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang berada di daerah, misalnya seperti Kediri, Klaten, Sengkang, Bali, Lasem, Yogyakarta, Donggala, hingga Pulau Muna yang terletak di Sulawesi Tenggara.

Di sana, ia juga tak ragu untuk mengajak para pemuda lokal untuk menciptakan inovasi yang berkelanjutan (sustainability) dengan penjualan produk melalui media sosial.

5. Keberlanjutan

PBB sebagai lembaga yang menaungi 193 negara merupakan satu organisasi yang mampu bekerja sama dengan berbagai negara dalam segala bidang. Mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga teknologi.

"IKAT Indonesia membina sustainability dengan menggiatkan marketing produk dan melakukan pembinaan di sektor hulu. Sehingga antara demand dan supply berimbang," tutupnya, seperti dikutip Fimela, Rabu (14/11).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR