KESEHATAN ANAK

Pedoman balita WHO dikritik pakar

Ilustrasi balita bermain dengan gawai.
Ilustrasi balita bermain dengan gawai. | Khumthong /Shutterstock

Untuk pertamakalinya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis pedoman aktivitas untuk balita.

Mereka menyatakan, anak-anak sebaiknya tidak menghabiskan waktu bermain ponsel, tablet, atau televisi sampai setidaknya berusia dua tahun. Pedoman ini lantas dikritik para pakar.

Laporan WHO menyatakan waktu di depan layar bisa memicu obesitas pada anak. Perkembangan otak dan fisik mereka jadi lebih lambat. Selain itu, kesehatan mental pun memburuk.

Sebagai gantinya, WHO merekomendasikan anak-anak menggunakan waktu untuk membaca atau dibacakan buku, bermain puzzle, menggambar atau bernyanyi. Aktivitas-aktivitas ini bisa meningkatkan perkembangan otak.

Guidelines on Physical Activity, Sedentary Behaviour and Sleep for Children Under Five Years of Age bahkan menyatakan, waktu di depan layar sama sekali tidak diperbolehkan untuk bayi dan anak usia satu tahun.

Sementara waktu di depan layar untuk anak berusia dua, tiga, dan empat tahun harus dibatasi satu jam per hari. Kurang dari itu lebih baik.

Pedoman yang disusun para ahli di WHO ini dikeluarkan lantaran banyaknya bukti ilmiah tentang potensi bahaya penggunaan gawai terlalu sering oleh anak-anak.

"Apa yang benar-benar perlu kita lakukan adalah mengembalikan waktu main untuk anak-anak," kata Dr. Juana Willumsen, seorang ahli obesitas dan aktivitas fisik untuk WHO. Tambahnya, "Ini tentang membuat perubahan dari waktu sedantari ke waktu bermain, sambil mencukupi tidur."

WHO merekomendasikan bayi berusia tiga bulan atau lebih muda membutuhkan tidur berkualitas selama 14 hingga 17 jam, termasuk tidur siang. Anak-anak usia 4-11 bulan butuh 12 sampai 16 jam waktu tidur.

Sementara anak usia 1-2 memerlukan 11 hingga 14 jam waktu tidur, anak-anak berusia 3-4 tahun sebaiknya memenuhi rekomendasi waktu tidur 10-13 jam sehari.

Anak-anak usia 1-2 tahun perlu menggunakan waktu setidaknya tiga jam sehari untuk beragam aktivitas fisik. Waktu yang sama juga disarankan untuk anak usia 3-4 tahun. Bedanya, 60 menit di antara waktu tersebut perlu diluangkan untuk aktivitas fisik intensitas tinggi. Misal bermain di luar ruangan yang memerlukan anak untuk berlari atau melompat.

"Kita perlu memastikan anak-aak punya kesempatan untuk bermain aktif. Karena dengan ini anak-anak bisa belajar," terang Dr. Willumsen.

Jadi, pedoman dari WHO ini bukan agar orang tua melarang gawai sama sekali. Orang tua harus membatasi waktu di depan layar, tetapi juga harus membatasi segala jenis aktivitas santai yang dihabiskan balita dengan berdiam diri. Baik itu di kursi ayun, di kereta dorong, dan tempat tidur.

Pedoman ini disusun oleh panelis yang terdiri dari para pakar. Mereka menganalisis bukti ilmiah untuk memberikan rekomendasi.

Kritik dari pakar

Saran WHO mungkin mengagetkan bagi sebagian orang tua. Para ahli pun mengkritik pedoman baru ini.

Mereka khawatir bukti yang mendasari rekomendasi ini terlalu lemah. Sehingga bukti bahaya waktu di depan layar tidak cukup untuk menjamin pedoman yang tepat.

"Penelitian kami menunjukkan saat ini tidak ada bukti yang cukup kuat untuk mendukung pengaturan batas waktu layar," ujar Dr. Max Davie, seorang pejabat senior di Royal College of Paediatrics and Child Health, Inggris.

Dr. Davie menambahkan, "Sulit untuk melihat bagaimana rumah tangga dengan anak berbagai usia bisa mencegah bayi dari paparan layar apa pun, seperti yang direkomendasikan."

Menurut Dr. Davie, secara keseluruhan, pedoman WHO bisa jadi tolok ukur berguna untuk membantu mengarahkan keluarga menuju gaya hidup aktif dan sehat. "Tetapi tanpa dukungan yang tepat, upaya untuk mencapai kesempurnaan bisa berakibat buruk," terang Dr. Davie.

Mengomentari saran WHO, Dr. Tim Smith, pakar pengembangan otak dari University of London mengatakan, orang tua dihujani informasi yang saling bertentangan soal waktu di depan layar. Ini membingungkan.

"Sementara laporan ini bisa jadi langkah yang berpotensi membantu membedakan "waktu tak aktif di depan layar" dan "waktu aktif berbasis gim online" di mana aktivitas fisik diperlukan, ini tetap merupakan oversimplifikasi dari berbagai cara anak-anak dan keluarga menggunakan layar sebagai media," urai Dr. Smith.

Sebelum ini, pada 2010 WHO pernah merilis pedoman untuk tiga kelompok usia: anak berusia 5-17 tahun, orang dewasa usia 18-65 tahun, dan 65 tahun ke atas.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR