MEDIA DAN JURNALISME

Pekerja media Januari-April: 317 ditahan, 29 dibunuh

| Muchamad Rangga Nur Islami / untuk Beritagar.id

"Saya seorang jurnalis, bukan penjahat. Tolonglah saya," tulis pewarta foto Mesir Mahmoud Abou Zeid alias Shawkan kepada media Jerman Deutsche Welle (2016).

Pada 2013 Shawkan ditangkap penguasa, tersebab memotret demo berdarah, antipemerintah, di lapangan Rabbah Al-Adawiya -- yang menurut Human Rights Watch menewaskan 817 warga sipil. Pada 2017 jaksa menuntut hukuman mati untuk Shawkan.

Shawkan dulu kerap memotret untuk Time, Die Zeit, Bild, dan agensi foto Demotix. Hingga kini ia masih mendekam dalam bui. Dalam terungku pula lelaki 31 tahun itu sejak 2016 mengidap Hepatitis C, melengkapi depresi dan kekurangan gizi.

Dua hari lalu (2/5/2018) Shawkan beroleh Guillermo Cano World Press Freedom Prize dari UNESCO di Accra, Ghana. Acara penganugerahan, disertai uang 250.000 USD (Rp347 juta), itu sekaligus sebagai perayaan Hari Kebebasan Pers Sedunia, setiap 3 Mei.

Guillermo Cano Isaza, yang nama depan dan tengahnya menjadi nama penghargaan, adalah jurnalis Kolombia. Sebagai editor El Espectador, pada 1986, dalam usia 61, ia ditembak mati dua orang dari kartel narkoba di depan kantornya. UNESCO mengabadikan namanya pada 1997.

Hingga kini sudah 18 orang menerima penghargaan untuk kebebasan pers itu. Orang pertama, pada 1997, adalah Gao Yu, wartawati Tiongkok yang berulang kali ditahan pemerintah.

Dalam Hari Kebebasan Pers Sedunia kali ini, Sekjen PBB Antonio Guterres bermaklumat, "Saya menyerukan kepada para pemerintah untuk memperkuat kebebasan pers, dan untuk melindungi jurnalis. Mempromosikan pers bebas berarti membela hak atas kebenaran."

Menurut Reporters Without Borders, tanah air Shawkan, yakni Mesir, berperingkat ke-161 (dari 180 negeri) dalam Indeks Kebebasan Pers Sedunia 2018. Indonesia yang berskor 39,68 masuk peringkat ke-124 -- di bawah Qatar, di atas Chad. Indonesia masih di atas Malaysia (ke-145; 47,41) dan Singapura (ke-151; 50,95).

Makin kecil angka nilai berarti kian bagus. Peringkat pertama, dengan ponten 7,63, adalah Norwegia. Lalu disusul Swedia (8,31) dan Negeri Belanda (10,01). Sedangkan paling buruk, di peringkat ke-180, adalah Korea Utara (88,87).

Untuk melengkapi artikel ihwal Hari Kebebasan Pers Sedunia, kami menyertakan infografik nasib pekerja media selama empat bulan terakhir, yang merujuk perasan oleh Lokadata Beritagar dari Reporters Without Borders.

Pekerja media dalam data tersebut bukan hanya jurnalis tetapi juga jurnalis warga.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR