KINERJA BUMN

Pelabuhan Tanjung Priok berbenah, sistem hijrah

Aktivitas bongkar muat kontainer dari kapal di Pelabuhan Tanjug Priok, Jakarta Utara, Selasa (19/2/2019).
Aktivitas bongkar muat kontainer dari kapal di Pelabuhan Tanjug Priok, Jakarta Utara, Selasa (19/2/2019). | Elisa Valenta /Beritagar.id

Memandangi truk kontainer berjajar parkir berjam-jam di pinggir jalan mungkin menjadi aktivitas biasa bagi para pelintas jalan RE Martadinata, kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Namun kini, pemandangan tersebut sirna dan kontainer pun terus hilir mudik masuk dan meninggalkan area pelabuhan di sepanjang jalan tersebut.

Pemandangan baru itu merupakan hasil dari upaya operator pelabuhan, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II, untuk mengubah wajah pelabuhan menjadi lebih modern lewat sistem digital dalam tiga tahun terakhir.

Upaya menata pelabuhan dengan hijrah ke digital ini adalah bagian dari salah satu program prioritas Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) di bidang maritim. Jokowi-JK ingin Indonesia menjadi poros maritim dunia.

Adapun pembenahan pelabuhan Tanjung Priok itu meliputi sisi laut, terminal, dan kegiatan pendukung lainnya. Kawasan pelabuhan Tanjung Priok yang semula dikenal kumuh dan tidak teratur kini menjadi lebih rapi dan sistematis.

Direktur Operasional dan Sistem Informasi Pelindo II, Prasetyadi, mengatakan penataan lahan parkir untuk truk kontainer juga menjadi salah satu upaya yang ditempuh untuk memangkas waktu di pelabuhan.

Pelindo II kini menyediakan kantong parkir seluas dua hektare di sisi barat kantor. Tak ada lagi truk yang parkir di sisi Jalan RE Martadinata yang kerap memicu kemacetan parah.

"Kami berbenah untuk memperlancar kegiatan bongkar muat. Itu kalau satu kantong parkir menampung 100 truk, yang parkir rata-rata berhenti dua jam dalam sehari ada 12 kali maka buffer area bisa menampung kurang lebih 1.200 truk," kata Prasetyadi di Pelabuhan Tanjung Priok, Selasa (19/2/2019).

Sopir truk tidak hanya diarahkan untuk parkir di buffer area, melainkan juga bisa melihat langsung antrean bongkar muat barang di terminal yang dituju. Alhasil, waktu menunggu jadi lebih efisien.

Pelindo juga menerapkan gerbang digital di pintu masuk pelabuhan. Transaksi non-tunai diharapkan bisa mencegah kebocoran potensi penerimaan perusahaan.

"Kalau dulu truk masuk, 'bayarnya' cukup lambaikan tangan ke petugas sambil senyum, sekarang mereka harus bayar lewat digital," ujar Prasetyadi.

Ia menyebut ujung dari pelayanan yang efektif dan tepat waktu itu berimbas positif bagi pengusaha angkutan truk. Mereka bisa datang ke Pelabuhan Tanjung Priok sesuai jadwal yang sudah tertera dan waktu tunggu yang lebih singkat menekan ongkos pengeluaran.

Ia mengaku belum tahu berapa penghematan biaya yang dikeluarkan perusahaan pengiriman ekspedisi atau logistik akibat kebijakan baru Pelindo II. Namun, jika dihitung secara kasar, sehari ada sekitar 10 ribu truk keluar masuk Pelabuhan Tanjung Priok, jadi pengusaha bisa menghemat ongkos.

Truk melintas di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Selasa (19/2/2019).
Truk melintas di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Selasa (19/2/2019). | Elisa Valenta /Beritagar.id

Saat masuk ke dalam pelabuhan, kini tidak terlihat lagi petugas lapangan yang lalu lalang mencatat data kapal di kertas. Pencatatan sudah dilakukan real time dan digital lewat komputer. Mulai dari perencanaan penumpukan kargo, hingga tracking serta tracing peti kemas dan kapal dapat diakses langsung oleh pengguna jasa.

Beritagar.id berkesempatan menyaksikan proses bongkar muat di pelabuhan Tanjung Priok menggunakan sistem digital Vessel Traffic System (VTS), Selasa (19/2). Sistem tersebut digunakan untuk mengatur lalu lintas kapal yang berada di perairan Pelabuhan Tanjung Priok.

Setiap hari terdapat 100 kapal berbagai jenis yang berada di sekitar pelabuhan tersebut. Sistem VTS yang sudah terintegrasi dapat mengatasi tubrukan antarkapal dan mengatur keluar masuk kapal ke pelabuhan.

Selain itu, VTS memudahkan kapal yang ingin bersandar ke dermaga. Kapal yang tiba di batas masuk pelabuhan tidak harus menunggu lama bantuan dari kapal kecil untuk mendorong kapal ke dermaga.

Saat kapal tiba, kapal tunda (tugboat) tersebut sudah sedia untuk mendorong kapal.

Dua unit kapal tunda menuntun sebuah kapal kargo yang akan bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (19/2/2019).
Dua unit kapal tunda menuntun sebuah kapal kargo yang akan bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (19/2/2019). | Elisa Valenta /Beritagar.id

Memangkas dwelling time

Data Bank Dunia 2017 menyebutkan biaya logistik Indonesia mencapai 23,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau masih tertinggal dibandingkan empat negara Asean. Mereka adalah Vietnam (15 persen), Thailand (13,2 persen), Malaysia (13 persen) dan Singapura (8,1 persen).

Padahal jika ingin bersaing, idealnya nilai itu berada di angka 15 persen dari PDB.

Oleh sebab itu, upaya digitalisasi ini dinilai penting. Apalagi Pelabuhan Tanjung Priok adalah wilayah operasi Pelindo II yang menyumbang 70 persen kegiatan ekspor impor Indonesia.

Kelancaran arus barang pelabuhan di ujung utara Jakarta ini, termasuk proses bongkar muat, menjadi hal yang substansial karena dampaknya langsung ke sektor riil.

Direktur Utama Pelindo II, Elvyn G. Masassya, mengatakan digitalisasi sistem pelabuhan telah berdampak pada penurunan waktu bongkar muat hingga keluar pelabuhan (dwelling time).

Kini dwelling time di Pelabuhan Tanjung Priok rata-rata mencapai tiga hari. Sebelumnya bisa mencapai mencapai 6-7 hari.

"Digital port ini dibuat untuk membuat pelayanan kepada konsumen menjadi efisien. Baik itu dari segi waktu dan biaya. Sebab, Pelabuhan Tanjung Priok merupakan pelabuhan terpadat ke-24 di dunia. Umumnya volumenya adalah peti kemas," kata Elvyn.

Bagi korporasi, ia mengatakan, digitalisasi pelabuhan telah meningkatkan kinerja operasional dan pelayanan perseroan. Tahun lalu, perseroan berhasil mengantongi laba hingga Rp2,43 triliun naik 9,95 persen dari Rp2,21 triliun pada 2017.

Pada 2018, keseluruhan arus non-peti kemas yang melalui Tanjung Priok telah mencapai 61,97 juta ton meningkat 8,54 persen dari 57,09 juta ton pada 2017. Pun arus peti kemas meningkat hingga 12,7 persen dari 6,92 juta TEUs pada 2017 menjadi 7,80 juta TEUs pada 2018.

Merebut pasar Singapura

Rute direct call yang dibuka oleh Pelindo diharapkan bisa menghemat biaya logistik hingga 20 persen atau AS$300 per kontainer.
Rute direct call yang dibuka oleh Pelindo diharapkan bisa menghemat biaya logistik hingga 20 persen atau AS$300 per kontainer. | Elisa Valenta /Beritagar.id

Pemerintah berencana menetapkan tujuh pelabuhan sebagai hub internasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap Singapura yang selama ini menjadi pelabuhan alih muat atau transshipment kargo ekspor Indonesia.

Tujuh pelabuhan itu mencakup Belawan/Kuala Tanjung (Sumatra Utara), Tanjung Priok, Kijing (Kalimantan Barat), Tanjung Perak (Jawa Timur), Makassar (Sulawesi Selatan), Bitung (Sulawesi Utara), dan Sorong (Papua Barat).

Memanfaatkan kesempatan tersebut, Pelindo II pun membuka lebih banyak rute direct call alias rute pelayaran internasional. Awalnya rute direct call ini hanya ada satu. Rute tersebut menghubungkan Jakarta-Los Angeles (LA) yang diresmikan 2017 lalu.

Kini telah tersedia tiga layanan direct call baru dengan rute Tanjung Priok-Intra Asia, Tanjung Priok-Eropa, dan Tanjung Priok-Australia.

"Dengan cara ini, kita tidak perlu lagi kalau mau ekspor impor pakai kapal kecil dulu lewat Singapura. Saya tiga bulan negosiasi sama kapal kapal biar mereka mau langsung ke sini," kata Elvyn.

Menurutnya, dengan adanya direct call ini juga membuktikan bahwa infrastruktur pelabuhan Indonesia sudah bisa bersaing dengan pelabuhan Singapura.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR