PARIWISATA

Pelancong dari Malaysia meningkat, Jepang menurun

Pola kedatangan wisatawan mancanegara ke Indonesia selama tiga tahun terakhir, paling tinggi pada pertengahan tahun, antara Juli-Agustus.
Pola kedatangan wisatawan mancanegara ke Indonesia selama tiga tahun terakhir, paling tinggi pada pertengahan tahun, antara Juli-Agustus. | Lokadata /Lokadata

Pesona | Sepanjang Januari-September 2019 jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Indonesia naik sekitar 3 persen dari tahun lalu. Peningkatannya sekitar 400 ribu dari total 1,5 juta pada periode yang sama.

Dalam Statistik Pariwisata 2019, terdapat pergeseran kunjungan wisman yang semula didominasi dari Jepang, Australia, dan Tiongkok. Namun, setahun terakhir lebih banyak dari negara-negara kawasan ASEAN seperti, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand.

Berdasarkan asal negara, turis dari negeri jiran Malaysia paling banyak berkunjung ke Indonesia sebesar 263 ribu yang diikuti oleh Singapura sebanyak 174 ribu.

Jumlah wisatawan Tiongkok dan Australia cenderung mengalami peningkatan pada 2017-2018 dan menurun pada 2019. Pada 2017-2018, kunjungan wisatawan Tiongkok meningkat dari 2,10 juta menjadi 2,14 juta namun menurun menjadi 1,6 juta pada 2019.

Pola yang sama terjadi pada wisman Australia, di mana pada 2017-2018 mengalami peningkatan dari 1,26 juta menjadi 1,3 juta dan menurun menjadi 1,01 juta pada 2019.

Sedangkan untuk wisman Jepang cenderung menurun dalam tiga tahun terakhir. Kunjungannya sebelumnya mencapai 573,3 ribu (2017) menjadi 530,6 ribu (2018) dan kembali menurun drastis menjadi 396,5 ribu pada 2019.

Dalam laporan The Travel and Tourism Competitiveness Report 2019 (berkas PDF) yang dilansir World Economic Forum, peringkat daya saing pariwisata Indonesia pada posisi 40 dari 140 negara. Posisi itu naik dua peringkat dari tahun 2017.

Untuk cakupan wilayah kawasan ASEAN, capaian Indonesia berada di bawah rangking Singapura (peringkat 17), Malaysia (peringkat 29), dan Thailand (peringkat 31).

Dalam penilaian daya saing pariwisata itu, Indonesia unggul dalam hal keragaman budaya, bahkan paling tinggi di wilayah kawasan ASEAN dengan aspek budaya yang atraktif.

Keunggulan lainnya adalah harga yang kompetitif dibandingkan dengan negara lain. Selain itu aspek dukungan pemerintah dalam mendukung pariwisata, seperti kebijakan hingga branding.

Dalam penilaian indikator lainnya, Indonesia masih lemah. Pariwisata Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah. Seperti aspek layanan dan kualitas infrastruktur yang menempati peringkat dua terbawah di kawasan ASEAN. Dalam indikator ini, Thailand menduduki peringkat teratas.

Dalam Setahun terakhir, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Negeri Gajah Putih itu lebih dari 38 juta, sedangkan Indonesia, tidak sampai setengahnya dan baru mencapai 15,8 juta.

Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) merupakan indeks penilaian daya saing pariwisata antarnegara. Ada 4 ukuran utama dan 90 indikator yang dinilai. Seperti kondisi terkini, dukungan kebijakan, kualitas dan ketersediaan infrastruktur, dan kondisi alam dan budaya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR