Pelemahan mata uang tak hanya terjadi pada Rupiah

Seorang konsumen melakukan penukaran mata uang Dolar AS di jasa penukaran uang asing Valuta Artha Mas ITC Kuningan, Jakarta, Rabu (28/2/2018).
Seorang konsumen melakukan penukaran mata uang Dolar AS di jasa penukaran uang asing Valuta Artha Mas ITC Kuningan, Jakarta, Rabu (28/2/2018). | Puspa Perwitasari /ANTARAFOTO

Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat bergerak loyo sejak pertengahan Januari 2018 hingga hari ini, Kamis (1/3/2018).

Menilik Bloomberg Index, titik awal pelemahan Rupiah terjadi pada 26 Januari 2018 dengan berada pada level 13.306. Setelahnya, posisinya terus menanjak menembus posisi terlemahnya sejak Mei 2016, yakni 13.705 pada Rabu (28/2/2018) pagi.

Pada pembukaan perdagangan pagi tadi, Rupiah masih belum menunjukkan energinya dengan dibuka pada level 13.762, dan bergerak pada kisaran 13.759-13.810. Volatilitas Rupiah bergerak pada kisaran 7 hingga 8 persen.

Kondisi ini tak hanya dialami Rupiah. Mayoritas mata uang Asia lainnya seperti Ringgit Malaysia, Rupe India, Yuan (RMB) Tiongkok, Peso Filipina, Dolar Hong Kong, Dolar Taiwan, dan Won Korea Selatan juga mengalami pelemahan serupa.

Melansir KONTAN, kinerja Rupiah berada di posisi terburuk keempat setelah Peso, Rupee, dan Won.

Pernyataan Gubernur Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed), disinyalir menjadi penyebab kacaunya mayoritas mata uang di AS. Pada pekan keempat Februari, Jerome Powell memprediksi adanya kenaikan suku bunga AS (Fed Rate) yang lebih cepat ketimbang prediksi awal sebanyak tiga kali dalam tahun ini.

Sayangnya, Powell tidak memberi klarifikasi lebih jauh terkait persiapan-persiapan apa yang harus dilakukan para traders.

"Dia hanya mengatakan suku bunga akan naik dan tingkat inflasi menguat, namun dia tidak memberi petunjuk apapun apakah kenaikan suku bunga itu akan naik dari tiga ke empat, atau bagaimana pun<" ucap Kepala Strategis di NatWest Markets, John Briggs, dalam CNBC.

Bagi Indonesia, pelemahan Rupiah ini masih dianggap berada dalam batas yang aman. Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan, volatilitas 7-8 persen masih dalam kondisi yang wajar.

Jika pun pelemahannya terus berlanjut dan membuat volatilitas keluar dari batas tersebut, Agus menyatakan BI akan siap melakukan intervensi langsung. "Tentu BI akan hadir untuk menstabilkannya," ucap Agus dalam Katadata.

Agus memprediksi gejolak ini masih akan terjadi hingga The Fed mengumumkan kebijakan suku bunga acuannya pada pertengahan Maret 2018.

Senada dengan Agus, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga mengatakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS saat ini masih dalam level yang kompetitif.

"Yang paling penting adalah untuk menggambarkan Rupiah kita adalah nilai tukar Rupiah yang fleksibel, tidak menimbulkan daya kompetitif yang tererosi karena nilai tukar itu sendiri," ungkap Sri Mulyani dalam Tribunnews.

Kondisi Rupiah, lanjut Sri Mulyani, bisa dibandingkan dengan efek yang terjadi ketika The Fed memutuskan untuk melakukan normalisasi kebijakan moneter pada 2017 dan 2018.

Ekonom Bank Mandiri Sekuritas Aldian Taloputra menilai, dalam jangka pendek pelemahan akan bergantung pada fokus pelaku pasar yang masih memantau arah kebijakan The Fed.

"(Pelemahan) Mungkin saja masih terus terjadi, tapi kalau angka-angkanya yang keluar sudah mulai moderat, mungkin saja akan stabil. Yang akan diperhatikan orang lebih dari sisi globalnya, khususnya dari Amerika," kata Aldian dalam Viva.

Salah satu dampak langsung dari pelemahan Rupiah adalah inflasi dan harga barang yang diimpor seperti Bahan Bakar Minyak (BBM). Namun Aldian meyakini pemerintah tidak akan menaikkan harga komoditas impor tersebut, sehingga kenaikan inflasi yang signifikan masih bisa dihindari.

"Seharusnya sih dampaknya enggak signifikan selama itu dijaga. Makanan juga dijaga kan harganya," sambung Aldian.

BACA JUGA