Peluncuran satelit Telkom 4 coba dipercepat

Satelit SSL 1300 yang akan menjadi basis pembangunan satelit Telkom-4.
Satelit SSL 1300 yang akan menjadi basis pembangunan satelit Telkom-4. | SSL

Pada awalnya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) berencana meluncurkan satelit Telkom 4 pada Agustus 2018, sekaligus memperingati Hari Kemerdekaan ke-73 Republik Indonesia. Namun, kerusakan Telkom 1 membuat perusahaan pelat merah itu berpikir untuk mempercepat pengorbitan Telkom 4.

Gangguan pada Telkom 1, yang terjadi pada 25 Agustus 2017, menghebohkan dunia perbankan Indonesia. Ribuan ATM dari bank-bank besar yang menjadi pelanggan--Bank Central Asia (BCA), Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Rakyat Indonesia (BRI)--terganggu.

Para nasabah bank-bank besar tersebut kesulitan untuk mencairkan atau memindahkan dana mereka. Selain itu, 8 provider VSAT yang memiliki sekitar 12.030 site juga tak bisa melayani para pelangan mereka.

Dikabarkan Antaranews, Telkom memastikan pemulihan layanan konektivitas pelanggan satelit Telkom-1 tuntas 100 persen sesuai dengan target pada 10 September 2017. Untuk menyelamatkan data pelanggan, selain satelit Telkom 2 dan Telkom 3S, mereka juga menyewa transponder dari pemilik satelit APSAT dan ChinaSAT.

Usia yang sudah tua, Telkom 1 telah 18 tahun mengorbit sejak diluncurkan pada 1999, ditengarai menjadi salah satu penyebab gagal fungsi satelit tersebut.

Sebenarnya Telkom telah menyiapkan satelit pengganti, Telkom 4, yang, seperti telah disebutkan di paragraf awal, baru akan diluncurkan pada Agustus tahun depan.

Satelit tersebut tengah dibangun oleh Space Systems Loral (SSL), mengandalkan platform satelit SSL 1300. Perjanjian pembuatan satelit tersebut telah ditandatangani sejak akhir Februari 2016.

Untuk meluncurkannya ke orbit, Telkom telah memilih perusahaan penerbangan antariksa swasta Amerika Serikat, SpaceX.

Kondisi darurat membuat Telkom meminta SSL untuk mempercepat proses pembuatan Telkom 4. Percepatan peluncuran diperlukan untuk menghindari kerugian yang lebih besar akibat menyewa transponder dari perusahaan lain.

Telkom tidak merinci berapa potensi kerugian yang mereka hadapi, hanya menyatakan bahwa 70 persen pelanggan dipindah ke dua satelit milik Telkom, sementara sisanya ke dua satelit milik perusahaan asing.

Namun, menurut detikInet.com, biaya sewa APSAT dan ChinaSAT mencapai ratusan miliar setiap tahunnya.

Menkominfo Rudiantara (kanan) berbicara disaksikan Dirut Telkom Alex J.Sinaga (tengah) dan Direktur Wholesale & International Service Abdus Somad Arief (kiri), saat konferensi pers tentang perkembangan service recovery Satelit Telkom 1 di ruang Crisis Center Telkom Group, Graha Merah Putih, Jakarta, Selasa (5/9).
Menkominfo Rudiantara (kanan) berbicara disaksikan Dirut Telkom Alex J.Sinaga (tengah) dan Direktur Wholesale & International Service Abdus Somad Arief (kiri), saat konferensi pers tentang perkembangan service recovery Satelit Telkom 1 di ruang Crisis Center Telkom Group, Graha Merah Putih, Jakarta, Selasa (5/9). | Audy Alwi /Antara Foto

Direktur Utama Telkom, Alex J Sinaga, dikutip IndoTelko (11/9), mengumumkan SSL telah menyanggupi untuk menyelesaikan satelit bernilai US $200 juta (Rp2,63 triliun) itu sekitar 60 hari dari jadwal semula. Jadi ada kemungkinan Telkom 4 mengangkasa pada Juni 2018.

Saat ini, lanjut Alex, mereka tengah membahas percepatan peluncuran dengan roket Falcon-9 dari SpaceX, perusahaan penerbangan antariksa swasta AS milik Elon Musk.

"Sekarang tergantung perusahaan peluncur, kita mau lobi agar bisa dipercepat antrean peluncurannya. Apalagi kan ini single launch, jadi tak perlu tunggu pasangan satelit lainnya buat diangkut," tutur Alex.

Ketergantungan kepada APSAT dan ChinaSAT akan berkurang jika Telkom 4 sudah mengorbit dan Telkom tidak akan menyewa transponder asing lagi kalau Telkom 5 menyusul diluncurkan.

"Di Telkom 6 mungkin kita sudah menyewakan ke yang lain, karena tidak semua negara punya satelit," kata Alex dikutip detikInet.

Hingga Agustus 2017, menurut Direktur Wholesale & International Service Telkom, Abdus Somad Arief, pembuatan Telkom 4 sudah mencapai 70 persen.

"Kami optimistis (pembangunannya) bisa lebih cepat dari jadwal keluar di pabriknya," kata pria yang akrab disapa Asa itu kepada Liputan6.

Telkom 4 akan diluncurkan di orbit 108 derajat Bujur Timur (BT) dengan masa operasi selama 15 tahun. Satelit ini akan membawa 60 transponder--kapasitas maksimalnya 70 transponder. Sebagai perbandingan, Telkom 1 hanya memiliki 36 transponder.

Transponder tersebut meliputi masing-masing 24 transponder Standard C-Band (Asia Tenggara) dan Standard C-Band (Asia Selatan), serta 12 transponder Extended C-Band (Asia Tenggara).

Sebanyak 36 transponder akan disewakan untuk kebutuhan dalam negeri, sisanya 24 transponder akan disewakan ke pasar India.

Telkom 4 akan meluncur di orbit 108 derajat Bujur Timur, dengan masa operasi 15 tahun.

Karena pabrikan satelit dan peluncurnya sama-sama dari Amerika Serikat, maka satelit Telkom 4 rencananya akan diterbangkan ke orbit dari Cape Canaveral Air Station Space di Florida.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR