ENERGI BARU

Pemanfaatan energi baru terhambat koordinasi

Seorang warga pemilik panel surya, Agus Nurokhim, membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di atap rumahnya di Sragi, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Minggu (1/9/2019).
Seorang warga pemilik panel surya, Agus Nurokhim, membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di atap rumahnya di Sragi, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Minggu (1/9/2019). | Syaiful Arif /AntaraFoto

Implementasi penggunaan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) belum sejalan dengan semangat transformasi menuju industri 4.0. Kurangnya koordinasi antar-kementerian/lembaga (K/L) jadi salah satu penghambat terwujudnya gagasan besar ini.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan, koordinasi yang baik antar-K/L berkontribusi dalam upaya sinkronisasi industri yang ditandai dengan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence), internet of things, big data, hingga robot ini.

“(Misalnya) Renewable energy, Jadi saat kita mendorong sustainablity terkait energi terbarukan berarti terkait dengan PLN dan Kementerian ESDM,” kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Dalam gagasannya, Airlangga hendak mendorong penggunaan solar panel dalam industri elektronik. Hingga kini pihaknya mengaku belum menemukan formula yang tepat untuk mengatur harga jual dari solar roof tersebut.

Hal ini lantaran dalam instalasi solar cell biasanya terdapat kelebihan daya. Nah, untuk menentukan mekanisme kelebihan daya itu diperlukan panduan dari perusahaan setrum negara.

Selain untuk atap ramah lingkungan, Kementerian Perindustrian juga berencana mendorong penggunaan solar panel untuk pembangunan “power bank” atau tempat pengisian daya listrik yang ditujukan bagi kendaraan listrik.

“Jadi yang renewable ini yang kita dorong. Ini yang perlu kita kerja sama dengan lintas kementerian sehingga melihat ini semua menjadi satu. Karena yang disebut electric vehicle zero emission itu sumbernya harus renewable energy, paling mudah adalah solar cell,” tuturnya.

Airlangga melihat ada potensi bisnis yang cukup besar dari industri solar panel ini. Oleh karenanya, pemerintah harus berani memulai demi menciptakan permintaan.

“Kita kan harus mengcreate demand, ini yang mau kita dorong di industri. Kita mau coba di factory roof, ini punya daya tarik juga,” tukasnya.

Asosiasi Energi Surya Indonesia menyebut pemanfaatan energi surya di Indonesia baru 90 megawatt. Padahal potensi rata-ratanya mencapai 1.350 kilowatt per jam per kilowatt peak per tahun.

Potensi ini lebih besar dari Benua Eropa yang hanya mencapai 900 kilowatt per jam per kilowatt peak per tahun, sementara pemanfaatannya sudah ribuan megawatt.

Selama ini konsumen dalam negeri masih menggantungkan sumber listrik dari energi fosil seperti batu bara dan minyak. Sedangkan energi hijau (Energi Baru dan Terbarukan/EBT) per 2017 porsinya baru sampai 12,3 persen. Padahal, pada 2025 bauran EBT itu ditargetkan mencapai 25 persen.

Catatan yang dimiliki asosiasi menunjukkan jumlah konsumen pengguna panel surya di Indonesia baru sekitar 600 bangunan, sebagiannya adalah perusahaan rintisan.

Percepat implementasi

Dalam rapat terbatas di Kantor Presiden, Selasa sore, Presiden Joko “Jokowi” Widodo meminta jajarannya untuk mempercepat implementasi dari penerapan peta jalan industri 4.0 yang telah dirintis sejak April 2018.

“Kita memerlukan langkah-langkah untuk menghadapi perubahan global yang sangat cepat, terutama datangnya revolusi industri 4.0,” kata Jokowi.

Jokowi meminta jajaran Kabinet Kerja untuk berani dan cepat melakukan perubahan yang bisa dimulai dari perbaikan regulasi yang tidak sinkron, peningkatan kualitas SDM, menciptakan ekosistem inovasi industri yang baik, hingga peningkatan insentif untuk investasi di bidang teknologi.

Lima sektor harus jadi prioritas, yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan busana, otomotif, kimia, dan elektronik. Melalui prioritas itu, dirinya optimistis sebanyak 10 juta lapangan pekerjaan bisa terwujud pada 2030.

“Saya yakin, kalau kita konsentrasi memperbaiki struktur, industri nasional kita makin kuat dan mampu meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) secara signifikan,” tukasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR