INVESTASI ASING

Pemanufaktur iPhone melirik Batam

Seseorang tampak menggunakan iPhone X di Apple Store di Beijing, Tiongkok (3/11/2017).
Seseorang tampak menggunakan iPhone X di Apple Store di Beijing, Tiongkok (3/11/2017). | Roman Pilipey /EPA-EFE

Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok bisa jadi mendatangkan keuntungan bagi Indonesia. Pegatron Corp., salah satu perakit ponsel iPhone dari Apple, berencana untuk memindahkan produksi sebagian produk mereka ke Batam, Kepulauan Riau, mulai tahun depan.

Nilai investasi perusahaan asal Taiwan tersebut belum diketahui, tapi menurut Nikkei Asia Review, produk yang bakal dimanufaktur di Indonesia bakal bernilai sekitar 1 miliar dolar AS (Rp14,56 triliun) per tahunnya.

Apple, yang bermarkas di AS, tidak merakit sendiri sebagian besar produk mereka, termasuk iPhone. Tugas itu diserahkan kepada beberapa vendor di Tiongkok dan Taiwan. Pegatron adalah salah satu yang terbesar.

Walau bermarkas di Taiwan, Pegatron telah mengembangkan usaha mereka ke daratan Tiongkok. Oleh karena itu, keputusan pemerintahan Donald Trump untuk mengenakan pajak yang lebih tinggi terhadap barang impor dari Tiongkok jelas merugikan mereka.

Untuk mengatasi dampak negatif perang dagang itulah Pegatron telah menyusun rencana ekspansi ke Asia Tenggara, yaitu Vietnam dan Indonesia. Menurut sumber anonim yang dikutip Nikkei, investasi di Indonesia akan lebih dulu dilakukan.

Selain perang dagang, Pegatron juga mengalami kesulitan mencari tenaga kerja di Tiongkok karena persaingan antar-perusahaan elektronik yang makin ketat di negara itu.

"Invetasi akan dilakukan antara akhir bulan ini (Desember) atau paling lambat pada awal bulan depan. Pegatron akan membutuhkan waktu dua kuartal untuk pindah, instalasi pabrik, dan mensertifikasi peralatan sebelum pabrik itu beroperasi penuh. Hal ini tak bisa ditunda terlalu lama," tutur sumber Nikkei.

Namun, menurutnya, produksi yang bakal dipindahkan Pegatron ke Indonesia bukanlah iPhone. Mereka akan memproduksi set top box (semacam dekoder untuk siaran TV digital) dan beberapa gawai pintar lainnya di Batam.

Kemungkinan masuknya Pegatron ke Indonesia itu dibenarkan oleh Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto. Ia menyatakan mereka tengah melakukan penjajakan dengan mitra mereka di Indonesia, PT Sat Nusapersada Tbk.

Airlangga bahkan menyatakan, untuk tahap pertama modal yang ditanamkan Pegatron di Batam akan mencapai 1 miliar dolar AS.

Menurut Bisnis.com (13/12), perusahaan itu memilih untuk menyewa pabrik di Batam, ketimbang membangun baru, karena ingin segera berproduksi. Pabrik mereka itu kemungkinan bakal menyerap antara 8.000 hingga 10.000 tenaga kerja.

Berbeda dengan sumber Nikkei, Airlangga mengungkapkan kemungkinan Pegatron bakal memproduksi iPhone juga di pabrik tersebut.

"Mereka sudah memberikan hint (isyarat), pertumbuhan industri ponsel empat hingga lima tahun ke depan dialihkan ke negara lain, salah satunya di Indonesia," jelas Menperin kepada CNN Indonesia (12/12).

Peluang Batam untuk jadi salah satu pusat perakitan iPhone, menurut Airlangga amat terbuka karena di pulau itu sudah terdapat perusahaan yang mampu memproduksi cip, seperti PT Infineon Technologies.

Saat ini pemerintah memang tengah menggenjot Batam untuk menjadi pusat perakitan barang elektronik, termasuk ponsel. Pemerintah tengah mencoba menciptakan ekosistem rantai pasok yang utuh untuk produksi ponsel di daerah itu.

Jika produksi iPhone itu terwujud, Sat Nusapersada akan ikut terlibat dalam produksi dua jenama ponsel. Saat ini perusahaan tersebut telah merakit gawai Xiaomi di pabrik mereka.

CNBC mengabarkan Sat Nusapersada telah mengumumkan perluasan kerja sama dengan Pegatron itu dalam Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Direktur Utama Sat Nusapersada, Abidin Fan, mengonfirmasi bahwa perang dagang AS-Tiongkok menjadi penyebab Pegatron ingin menambah investasi di Indonesia.

Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Lembong, kepada The Jakarta Post menyatakan bahwa Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah mengetahui rencana investasi tersebut.

Namun pemerintah masih menunggu kepastian dari perusahaan tersebut karena masih harus berkompetisi dengan Vietnam dan Thailand untuk menarik hati Pegatron.

"...kalau kita menawarkan insentif yang lebih kecil dari kompetitor, kemungkinan investasi yang masuk (dari Pegatron) akan sangat kecil atau bahkan takkan ada investasi," ujar Thomas.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR