LITERASI DIGITAL

Pembaca berita daring meningkat, tapi belum merata

Ilustrasi membaca berita daring/
Ilustrasi membaca berita daring/ | Aghnia Adzkia /Beritagar.id

Pembaca berita daring (online) di Indonesia pada 2017 meningkat 35,8 persen dibandingkan dua tahun sebelumnya, menjadi 50,7 juta orang. Tapi, penetrasi belum merata sampai perdesaan dan masih didominasi warga perkotaan.

Seperti yang dialami Ninik Suprayitno, warga Tepeleo, Kecamatan Patani Utara, Kabupaten Halmahera Tengah. Baginya, membaca berita daring bukan menjadi aktivitas wajib karena sulitnya akses internet.

“Di sini susah sinyal (telepon genggam), orang juga jarang baca media (daring),” kata Ninik saat dihubungi Beritagar.id pada Selasa (12/02).

Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2017 oleh Badan Pusat Statistik yang diolah Lokadata Beritagar.id menunjukkan sepertiga penduduk Indonesia menggunakan internet pada 2017.

Penetrasi internet di tempat Ninik tinggal dan area lain di Maluku Utara tak setinggi di provinsi lain di Jawa. Maluku Utara termasuk tiga provinsi dengan penetrasi terendah, selain Papua (16,5 persen) dan Nusa Tenggara Timur (17,88 persen).

Sementara penetrasi internet tertinggi ada di DKI Jakarta (60,65 persen), disusul dengan Kepulauan Riau (48,35 persen) dan Yogyakarta (45,38 persen).

Dari total pengakses internet, hanya 65,9 persen yang mengakses berita atau sekitar 50,7 juta orang.

Sebanyak 74,7 persen dari mereka yang mengakses berita online ada di perkotaan, sementara sisanya di perdesaan. Generasi Z dan Y mendominasi pasar ini.

Jika dilihat latar belakang pendidikan, mereka yang memanfaatkan sambungan internet untuk mencari berita didominasi oleh kelompok usia non-sekolah, 24 tahun ke atas, dan mahasiswa.

Ninik, 28 tahun, termasuk dalam kelompok pekerja dari Generasi Y yang paling banyak mengakses internet. Tapi, tak banyak yang dapat dilakukannya untuk mencari berita dengan kondisi tersebut.

Bahkan, distribusi koran lokal pun tak sampai hingga daerahnya tinggal. Membutuhkan waktu dua hari dari ibu kota Kabupaten Maluku Utara ke desanya, itu pun harus menempuh perjalanan darat dan laut.

Yang dapat dilakukan Ninik dan warga sekitar tempat tinggalnya adalah mengandalkan informasi dari mulut ke mulut atau televisi. Televisi pun tak banyak yang punya, hanya menghiasi rumah sekitar sepertiga warga Tepeleo.

Penelitian konsultan pemasaran Nielsen yang dilakukan di 11 kota di Indonesia menunjukkan penetrasi televisi (96 persen) masih tinggi ketimbang internet (44 persen). Meski demikian, internet masih menggungguli jenis media lainnya seperti radio (37 persen), koran (7 persen), serta tabloid dan majalah (3 persen).

Penggunaan internet

Penggunaan internet pun tak melulu untuk mencari berita, tetapi untuk aktivitas lain seperti bermain media sosial (medsos), jual beli online, atau sekadar mencari hiburan lainnya.

Seperti Ninik, jika bisa terhubung dengan internet di titik tertentu di desanya, ia lebih memanfaatkan untuk bermain media sosial seperti Facebook. “Saya lebih suka main media sosial, bukan untuk cari informasi tapi untuk eksistensi,” katanya.

Ninik dan warga lain di Maluku Utara termasuk dalam lima provinsi dengan pembaca berita daring terendah, yakni 58,1 persen dari total pengguna internet. Bahkan, angka ini lebih rendah dari penggunaan media sosial, 77,2 persen.

Selain Maluku Utara, hanya separuh dari pengakses internet di Lampung yang membaca berita. Begitu juga di Gorontalo (57,8 persen dari total pengguna internet), Maluku (58,1 persen), dan Sulawesi Tengah (59,6 persen).

Pola yang sama terjadi di lima wilayah tersebut. Ketimpangan aktivitas membaca berita daring dan bermain medsos pun tinggi. Artinya, orang cenderung ogah pusing dan berpikir berat saat mengakses internet.

Tren ini berbeda dengan lima provinsi dengan pembaca berita terbanyak. Ketimpangan dua aktivitas cenderung kecil. Artinya, orang juga suka baca berita dan mengakses Facebook, Instagram, Twitter atau media sosial lainnya. Ini terjadi di Bali (74,1 persen), Kepulauan Bangka Belitung (73,7 persen), dan DKI Jakarta (72,7 persen).

Tantangan infrastruktur dan literasi media

Peneliti media sekaligus dosen Universitas Multimedia Nusantara, Ignatius Haryanto, menjelaskan dua tantangan dalam perkembangan media daring yakni infrastruktur dan literasi media.

Ketimpangan pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan koneksi internet memengaruhi perilaku membaca berita daring.

“Di beberapa daerah, kebutuhan masyarakat untuk media daring tak tinggi, tidak butuh informasi yang cepat. Media cetak seperti koran lokal masih bisa bertahan untuk memenuhi kebutuhan informasi,” katanya.

Rata-rata tahunan pertumbuhan pengguna internet dari 2011 hingga 2014 di Maluku Utara cenderung tinggi, yakni 13,6 persen, tetapi tak diimbangi dengan pertumbuhan infrastruktur sinyal, hanya 5,6 persen.

Di Maluku Utara, cakupan sinyal 2G hingga 4G termasuk lima terendah, yakni hanya 75 persen, dibandingkan dengan DKI Jakarta dan Yogyakarta yang 100 persen wilayahnya sudah terkoneksi dengan sinyal tersebut.

Hal serupa juga terjadi di wilayah dengan pembaca berita daring rendah seperti Gorontalo. Di Gorontalo, pertumbuhan pengguna internet mencapai 14,9 persen tetapi pertumbuhan infrastruktur hanya 0,4 persen.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, menjelaskan pihaknya tengah membangun program pembangunan infrastruktur telekomunikasi Badan Aksesibilitas dan Informasi (BAKTI) di daerah terdepan, tertinggal, dan terluar.

"BAKTI mengelola dana Rp3 triliun untuk 40 ribu lebih akses internet di sekolah, Puskesmas, kantor desa, dan ruang publik. Internet yang digunakan langsung pakai satelit internet broadband," kata Rudiantara kepada wartawan Beritagar.id, Elisa Valenta, saat ditemui di kantornya, Selasa (12/2).

Penyediaan akses internet di sejumlah institusi dan ruang publik tersebut masuk dalam empat layanan program BAKTI. Selain itu, ada pula penyediaan Base Transceiver Station (BTS) di sejumlah blankspot, Palapa Ring, dan satelit multifungsi.

Proyek Palapa Ring dilakukan melalui pemasangan kabel serat optik sepanjang 35.820 km di laut dan 21.807 km di daratan yang menjangkau 440 kabupaten/kota di Indonesia.

Rudiantara menambahkan, akhir kuartal I 2019 pemerintah akan menetapkan pemenang lelang proyek ini dan diharapkan pada 2022 Indonesia sudah memiliki satelit internet broadband sendiri.

Selain memperluas penetrasi internet, proyek ini juga digadang-gadang sebagai bentuk kesiapan Indonesia menuju era industri baru dengan internet yang lebih stabil dan cepat.

Terlepas dari infrastruktur, Haryanto juga menggarisbawahi pentingnya kecerdasan memilah informasi dan literasi media dari para pengguna internet dan pembaca berita daring. Kecerdasan ini dibutuhkan agar bisa bersikap kritis terhadap hoaks.

“Paling dasar adalah tidak buru-buru percaya dan menguji informasi yang didapatkan atau juga bertanya ke ahli,” tutupnya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat ada 175 konten hoaks sejak awal tahun hingga 22 Januari 2019. Mayoritas terkait isu Pemilu (81 konten), sisanya yakni agama, banjir, pemerintahan, serta isu lainnya.

Saat peringatan Hari Pers Nasional pada 9 Februari 2019 lalu, Rudiantara, mengimbau masyarakat melawan hoaks dan menyebarkan fakta dan informasi positif. Ia juga mengimbau jurnalis dan media daring untuk tak menjadi agen penyebar hoaks.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR