KESEHATAN

Pemberantasan TBC di Singkawang laik tiru

Ilustrasi diagnosis tuberkulosis.
Ilustrasi diagnosis tuberkulosis. | Create jobs 51 /Shutterstock

Kota Singkawang yang dicap kota paling toleran di Indonesia punya pencapaian luar biasa dalam memberantas tuberkulosis (TBC). Upaya kota di Kalimantan Barat itu untuk mempercepat target pemberantasan TBC tahun 2030 dan bebas TBC tahun 2050, layak tiru.

Menurut laporan 2017 oleh WHO, TBC merupakan pembunuh nomor sembilan dari 10 penyakit penyebab kematian di seluruh dunia sekaligus penyebab kematian tertinggi akibat infeksi, di atas HIV dan AIDS.

Di Indonesia, jumlah penderita TBC yang semula berjumlah 259.969 kasus pada 2005 terus meningkat tiap tahun hingga mencapai 514.773 kasus per 2018. Angka tersebut telah menempatkan Indonesia menduduki peringkat kedua TBC terbanyak di dunia, setelah India.

Menariknya, meski warga Singkawang yang positif terinfeksi TBC pada 2018 ditemukan berjumlah 862 kasus, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Singkawang, Djoko Suratmiarto, mengatakan jumlah tersebut telah menurun drastis menjadi 89 kasus TBC hingga Februari 2019.

Ternyata, untuk menekan penyebaran TBC Dinkes Singkawang melakukan perubahan cara dalam menemukan kasus. Perubahan ini digagas Kepala Dinas Kesehatan Singkawang, Drs. Akhmad Kismed.

Kepada Kompas, Akhmad berkisah awalnya ia mengusulkan melakukan inovasi dari pencarian kasus pasif (passive case finding) menjadi pencarian kasus aktif (active case finding). Pasalnya, menurut dia, hanya menunggu tidak akan menghasilkan temuan sebanyak jika bertindak aktif tetapi selektif.

Yakni dengan menemukan kasus TBC, dimulai dari lingkungan terdekat pasien yang terdiagnosis TBC, misalnya keluarga atau tetangga pasien yang mungkin ikut tertular.

Petugas Dinkes bekerja dengan mendatangi rumah pasien secara langsung. Metode ini disebut dengan contact tracing.

Inovasi tersebut , lanjut Akhmad, sempat ditolak karena tidak sesuai dengan program pemerintah pusat. Namun, dia dan timnya tetap bersikukuh dengan melakukan contact tracing secara sembunyi-sembunyi.

Kini, contact tracing telah dilakukan secara masif di Singkawang. Dinkes juga melibatkan semua rumah sakit di Singkawang untuk ikut berperan serta, dan bekerja sama dengan TB HIV Care untuk melatih kader dari masyarakat sebagai perpanjangan tangan yang akan memberikan penyuluhan kepada masyarakat.

Bila ada orang-orang terdekat pasien TBC yang dicurigai memiliki gejala klinis TBC, maka petugas dan kader berkewajiban memotivasi mereka agar mendapatkan layanan kesehatan. Misalnya dengan dibawa periksa ke puskesmas untuk ditindaklanjuti atau dilakukan pengambilan sampel dahak.

Kata Akhmad, terlepas nanti hasilnya positif atau tidak itu urusan belakangan. "Yang jelas kalau kita menemukan ya kita obati," tuturnya.

Lalu, jika orang terdekat ternyata negatif tapi gejala klinisnya kuat, bisa dirujuk ke rumah sakit untuk diberikan pemeriksaan rontgen. Pun sebaliknya, bila ditemukan positif memiliki TBC, petugas kemudian akan mendampingi untuk memantau agar pasien terus mengonsumsi obatnya hingga benar-benar sembuh.

Berkat pendekatan ini, Singkawang kini sudah bisa mendeteksi dan mengobati semua tipe TBC, tidak terbatas pada BTA (+) saja.

“Untuk pengobatan TB paru, TB BTA (+) tahun 2018 kohort 2018 ini cure rate-nya (angka kesembuhan) mencapai 55,3 persen. Sementara success rate-nya (angka keberhasilan pengobatan) mencapai 89,4 persen. Untuk TB non BA, success rate 92,2 persen,” jelas Akhmad.

Jika ditotal, lanjutnya, BTA dan non BTA Singkawang sudah mencapai success rate 91,1 persen dan sudah melebihi target 90 persen. Keberhasilan itu pun menuai pujian dari Menteri Kesehatan RI, Nila F Moeloek.

Untuk memberantas TBC, pemerintah sebetulnya telah melakukan berbagai terobosan. Salah satunya lewat Gerakan Temukan Tuberculosis Obati Sampai Sembuh atau Toss-Tb yang dimulai tahun 2016.

Sebab, TBC adalah penyakit yang bisa disembuhkan sekaligus dicegah lewat diagnosis dini, juga dukungan, gaya hidup bersih dan sehat, serta pengobatan yang tepat.

Namun, sebagaimana diakui selebritas sekaligus dokter, Sonia Wibisono, masih banyak kendala dalam upaya pemberantasan TBC di Indonesia.

Pertama, kata Sonia, banyak kasus TBC belum terdeteksi karena banyak orang tak tahu gejala utamanya yang berupa batuk berdahak berkepanjangan dan menganggapnya batuk biasa.

Lalu, masih banyak dokter yang belum memasukkan data pasien ke Dinas Kesehatan, dan stigma sosial bahwa TBC adalah penyakit menular menjijikkan yang harus dijauhi sehingga orang enggan memeriksakan diri ke dokter.

Kendala lain, banyak pasienTBC yang lalai tidak melanjutkan konsumsi obat karena merasa sudah sembuh “Ini yang berbahaya. Ini akan menimbulkan TBC resistan obat (TBRO),” ujar Dr. dr. Erlina Burhan MSc.SpP.(K).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR