INTERNASIONAL

Pembunuhan Kim Jong-nam akan tetap jadi misteri

Doan Thi Huong, tersangka pembunuh Kim Jong-nam, saat meninggalkan Pengadilan Tinggi Shah Alam di Shah Alam, Malaysia (1/4/2019).
Doan Thi Huong, tersangka pembunuh Kim Jong-nam, saat meninggalkan Pengadilan Tinggi Shah Alam di Shah Alam, Malaysia (1/4/2019). | EPA-EFE /Fazry Ismail

Pembunuhan terhadap Kim Jong-un tampaknya akan tetap menjadi misteri. Pada Jumat (3/5/2019) pagi, perempuan Vietnam yang menjadi salah satu dari dua tersangka pembunuh, Doan Thi Huong, dibebaskan dari Penjara Kajang, Selangor, Malaysia dan pulang ke tanah airnya.

Siti Aisyah, warga negara Indonesia yang juga dituduh terlibat kasus pembunuhan saudara tiri pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un itu, telah lebih dulu dibebaskan dari dakwaan. Kejaksaan Malaysia tak menjelaskan mengapa Siti dibebaskan, tetapi Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan karena tak cukup alat bukti.

Selain itu, lobi tingkat tinggi yang dilakukan Presiden Indonesia, Joko Widodo, kepada Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad, juga disebut menjadi salah satu faktor diambilnya keputusan tersebut.

Berbeda dengan Siti yang tak didakwa, pada akhir April lalu Doan mengaku bersalah atas "perbuatan yang mengakibatkan cedera". Jaksa penuntut kemudian membatalkan dakwaan pembunuhan.

Atas kesalahan itu, ia divonis 3 tahun 4 bulan. Setelah dikurangi masa tahanan dan diberi pengurangan hukuman khusus, perempuan berusia 30 tahun itu resmi bebas pada Jumat (3/5).

Pengacaranya, Salim Bashir, kepada The New Straits Times (3/5) menyatakan bahwa Doan telah keluar dari penjara pada pagi hari, lalu pergi ke Departemen Imigrasi. Ia akan naik pesawat dari Kuala Lumpur International Airport (KLIA) menuju Vietnam pada pukul 19:20 waktu setempat.

Doan Van Thanh, ayah Doan Thi Huong, kepada The Telegraph berkata bahwa keluarganya "lega dan bahagia karena Huong segera pulang". Mereka berencana untuk berpesta mengundang para tetangga di Nghia Binh.

"Kami akan menghidangkan babi kami yang berharga," kata sang ayah.

Dengan bebasnya Siti dan Doan, pembunuhan Kim Jong-nam (45) tampaknya akan menjadi salah satu misteri yang tak terpecahkan di dunia.

Kim Jong-nam terbunuh oleh gas saraf beracun VX pada 13 Februari 2017 di KLIA. Saat itu ia didekati oleh dua perempuan--Siti dan Doan--yang lalu menyemprotkan gas tersebut kepadanya di tengah terminal yang ramai pada siang hari.

Perbuatan Siti dan Doan terekam CCTV dan mereka ditangkap beberapa hari kemudian. Dua perempuan yang sebelumnya tak saling mengenal itu menyatakan mereka ditawari untuk berperan dalam sebuah acara televisi untuk mengerjai orang (prank show). Mereka bersikeras tak tahu kalau gas yang mereka semprotkan ke wajah Kim itu adalah gas beracun.

Selain Siti dan Doan, polisi Malaysia juga menduga ada tujuh warga Korea Utara yang terlibat dalam pembunuhan tersebut. Empat orang keburu terbang ke Pyongyang, sementara tiga lainnya berhasil ditangkap.

Akan tetapi ketiga orang tersebut akhirnya dilepaskan pergi setelah pemerintah Korea Utara menahan diplomat Malaysia yang tengah berada di Pyongyang.

Banyak negara, termasuk Amerika Serikat, yang yakin pembunuhan tersebut dilakukan agen Korea Utara atas perintah Kim Jong-un. Dua bersaudara itu tidak akur dan ketika Jong-un memimpin, Jong-nam hidup dalam pengasingan, berpindah-pindah di beberapa negara Eropa, Tiongkok, Asia Tenggara, dan kemudian tinggal di Macau.

Reuters mengabarkan, Jong-un takut Jong-nam digunakan sebagai alat untuk menjatuhkannya dari kekuasaan. Percobaan pembunuhan terhadap Jong-nam pernah terjadi pada 2012. Sejak saat itulah Jong-nam hidup berpindah-pindah, hingga nyawanya melayang di Kuala Lumpur.

Pemerintah Korea Utara tegas membantah bahwa mereka terlibat dalam pembunuhan tersebut. Pemerintah Amerika Serikat dan Korea Selatan percaya sebaliknya.

"Otak, pelaku, dan pengawas pembunuhan Kim jong-nam jelas telah lolos dari jeratan hukum," kata Evans Revere, mantan asisten menteri luar negeri AS untuk masalah Asia Timur dan Pasifik, kepada CNN.

"Tak ada orang yang dinyatakan bertanggung jawab untuk serangan mengerikan di mana senjata pemusnah massal digunakan untuk menghilangkan nyawa seorang manusia di bandara internasional."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR