TRANSAKSI NONTUNAI

Pemerintah dorong operator uji coba transaksi nirsentuh di tol

Pengendara mobil antre saat melewati gerbang jalan tol Malang-Pandaan, Singosari, Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/6/2019).
Pengendara mobil antre saat melewati gerbang jalan tol Malang-Pandaan, Singosari, Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/6/2019). | Ari Bowo Sucipto /Antara Foto

Pemerintah, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong operator jalan tol untuk menguji coba transaksi nirsentuh atau multi lane free flow (MLFF).

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Danang Parikesit mengatakan, pemerintah terus mendorong uji coba transaksi nirsentuh di jalan tol oleh operator. Pemerintah juga memperbolehkan untuk menguji coba berbagai teknologi ataupun sistem pembayaran.

"Kita dorong untuk mencoba berbagai teknologi di front end-nya untuk nantinya
kita pilih mana yang paling sesuai. Posisi saat ini operator masih uji coba secara sukarela," ungkap Danang, di Jakarta, Kamis (4/7/2019).

Penerapan MLFF di jalan tol Indonesia ungkap Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, bisa menjadi solusi mengurangi kemacetan di gerbang tol.

Dengan aplikasi ini kata Basuki, para pengguna jalan tol tak perlu lagi menghentikan kendaraan untuk bertransaksi di gerbang tol. Penerapan MLFF akan memangkas waktu menjadi nol detik dibandingkan penggunaan uang elektronik dengan waktu transaksi 4 detik.

"Dengan sistem MLFF, pengguna jalan tol gak perlu memperlambat laju kendaraan atau berhenti sejenak untuk bayar tol. Dengan kata lain, kita bisa ngebut terus di jalan tol yang seharusnya memang bebas hambatan," ujarnya.

Kendaraan antre untuk memasuki gerbang tol Cileunyi, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (8/6/2019).
Kendaraan antre untuk memasuki gerbang tol Cileunyi, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (8/6/2019). | Rivan Awal Lingga /Antara Foto

Uji coba terbatas

Kini beberapa operator jalan tol telah menguji coba penerapan transaksi nirsentuh di beberapa ruas jalan tol. PT Jasa Marga (Persero) Tbk telah melakukan uji coba di Jalan Tol Sedyatmo dan Jalan Tol Bali Mandara dengan menggandeng bus Damri, kendaraan operasional Garuda Indonesia, dan taksi Blue Bird.

Tak hanya itu, PT Jasa Marga melalui anak usahanya, PT Jasamarga Tollroad Operator (JMTO), menggandeng PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) yang dikenal dengan LinkAja sebagai sumber dana pembayaran. Uji coba tersebut menerapkan teknologi radio frequency identification (RFID).

Adapun di ruas Tol Tangerang-Merak, Astra Infra Toll Road melalui PT Marga Mandalasakti menguji coba transaksi nirsentuh dengan teknologi berbasis digital short range communication (DSRC) bekerja sama dengan Telkom Metra.

Uji coba tersebut dilakukan untuk sistem penarifan tertutup dengan kombinasi berbagai sistem pembayaran, baik dengan uang elektronik maupun dompet elektronik.

BPJT sendiri kata Danang, membuka kemungkinan penerapan berbagai jenis teknologi ataupun dompet elektronik. Dengan demikian, kelebihan dan kekurangan dari setiap jenis teknologi dapat diketahui dari awal.

Kendati berbeda teknologi dan dompet elektronik, BPJT meminta agar disediakan alat penghubung (interface) bagi semua dompet elektronik. Selain itu, Bank Indonesia juga mengatur agar skema pembayaran tidak bersifat eksklusif.

Sejalan dengan itu, saat ini terdapat badan usaha asal Hongaria mengajukan diri sebagai pemrakarsa untuk melakukan studi kelayakan tentang layanan transaksi nirsentuh di jalan tol. Sebab, hal itu memerlukan integrasi penyedia teknologi, penyedia solusi untuk settlement, hingga konsolidasi dana yang terkumpul.

"Kita juga baru susun model bisnisnya supaya beban pengguna marjinal," ujar Danang. Dengan demikian, penerapan sistema transaksi itu nantinya tidak membebani masyarakat, terutama karena transaksi nirsentuh memerlukan teknologi tertentu.

Uji coba penerapan teknologi untuk transaksi nirsentuh direncanakan berjalan sampai akhir tahun ini. Selama periode tersebut, BPJT berharap mendapatkan hasil kajian dan masukan dari para operator jalan tol.

Direktur Utama PT Marga Mandalasakti yang juga Sekretaris Jenderal Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI) Kris Ade Sudoyono berpandangan, kesiapan infrastruktur untuk penerapan layanan tanpa berhenti di jalan tol membutuhkan sistem dan pengoperasian yang saling terhubung dan andal.

Selain itu, perlu perubahan perilaku pengguna jalan, terutama kepatuhan dalam menggunakan sistem pembayaran tanpa berhenti tersebut. Oleh karena itu, penerapannya perlu penegakan hukum yang kuat sehingga operator jalan tol memiliki kepastian pendapatan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR