TUJUAN WISATA

Pemerintah libatkan swasta kembangkan wisata baru

Sejumlah wisatawan menikmati panorama Danau Toba dari atas bukit Taman Sipinsur Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, Sabtu (2/12/2017). Pemerintah mengembangkan 10 destinasi wisata baru, termasuk Danau Toba.
Sejumlah wisatawan menikmati panorama Danau Toba dari atas bukit Taman Sipinsur Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, Sabtu (2/12/2017). Pemerintah mengembangkan 10 destinasi wisata baru, termasuk Danau Toba. | Septianda Perdana /Antara Foto

Pemerintah akan melibatkan swasta untuk mengembangkan 10 destinasi wisata baru senilai $200 miliar AS atau Rp270 triliun. Sektor pariwisata diharapkan menjadi penyumbang devisa terbesar Indonesia di mana saat ini merupakan yang kedua setelah komoditas minyak sawit mentah atau CPO.

Pemerintah sedang mengembangkan 10 destinasi wisata sebagai "Bali baru" di berbagai wilayah di Indonesia. Tujuan wisata itu adalah Danau Toba, Tanjung Lesung, Tanjung Kelayang, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo Tengger Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi dan Morotai.

Dilansir Antaranews, Ketua Tim Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas Kementerian Pariwisata Indonesia Hiramsyah S Thaib mengatakan pengembangan sektor wisata itu disebutnya membutuhkan kerja yang sangat keras dan berbagai inovasi.

Di Mandalika misalnya, berkat inovasi dalam regulasi, isu pertanahan yang bermasalah selama puluhan tahun bisa terselesaikan selama tiga bulan.

Inovasi lain untuk pengembangan pariwisata itu, kata Hiramsyah, termasuk inovasi dalam pembiayaan yakni menggunakan skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU). Pengembangan 10 destinasi wisata yang diperkirakan membutuhkan anggaran Rp270 triliun itu tak semuanya dapat dibiayai negara.

Keterlibatan swasta disebutnya dapat masuk melalui skema KPBU yang keamanan investasinya dijamin oleh PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII) sehingga meminimalisasi risiko yang dihadapi.

Hiramsyah menegaskan pengembangan 10 destinasi wisata baru sebagai alternatif Bali menjadi sangat penting karena industri wisata sangat rentan. Bencana Erupsi Gunung Agung di Bali misalnya, membuat jumlah kunjungan wisatawan menurun. Pariwisata Pulau Bali terpukul.

Pemerintah menganggap perlu adanya alternatif destinasi wisata untuk menjaga jumlah wisatawan tetap tinggi.

Destinasi baru ini menghadapi kendala seperti akses. Tidak semua tempat wisata memiliki akses yang baik seperti di Bali sehingga pemerintah terus menggenjot pembangunan infrastruktur untuk membuka akses.

Direktur Utama PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia Armand Hermawan mengatakan sebagai satu-satunya Badan Usaha Penjaminan Infrastruktur (BUPI) pelaksana single window policy penyediaan penjaminan pemerintah, mereka siap membantu kementerian pariwisata untuk mengembangkan 10 destinasi wisata baru.

"Dalam setiap proyek infrastuktur yang melibatkan swasta, maka PT PII akan berperan melakukan asistensi mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan terutama terkait dengan risiko," kata Armand.

Presiden Joko Widodo menargetkan sektor pariwisata menjadi penyumbang devisa terbesar pada 2018. Karena itulah investasi swasta menjadi sangat mendesak untuk mengembangkan 10 destinasi wisata baru itu.

Pada rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Bogor, Kamis (16/11/2017) lalu, Presiden meminta pengembangan 10 Bali baru segera dirampungkan.

Jokowi mengatakan kecenderungan orang yang senang travelling, wisata, mencoba restoran baru, kafe, serta mencoba makanan khas. "Ini sebuah kesempatan yang harus kita manfaatkan," kata Jokowi.

Pada 2015 sektor pariwisata menduduki peringkat keempat penyumbang devisa nasional, sebesar 9,3 persen dibandingkan industri lainnya. Pertumbuhan penerimaan devisa pariwisata tertinggi, yaitu 13 persen, dibandingkan industri minyak gas bumi, batubara, karet olahan, dan minyak kelapa sawit yang pertumbuhannya negatif.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR