KINERJA BUMN

Pemerintah serahkan pengelolaan 3 bandara baru ke Angkasa Pura II

Presiden Joko Widodo (tengah) saat meresmikan pengembangan Bandara Dipati Amir dan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Kelayang di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (14/3/2019).
Presiden Joko Widodo (tengah) saat meresmikan pengembangan Bandara Dipati Amir dan Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Kelayang di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (14/3/2019). | Puspa Perwitasari /Antara Foto

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyerahkan pengelolaan tiga bandar udara (bandara) baru ke perusahaan pelat merah, PT Angkasa Pura II (Persero). Tiga bandara tersebut adalah Bandara HAS Hanandjoeddin di Belitung, Bandara Fatmawati Soekarno di Bengkulu, dan Bandara Radin Inten II di Lampung.

Pengelolaan tiga bandara itu segera diserahkan ke AP II oleh Kemenhub melalui skema Kerja Sama Pemanfaatan (KSP) aset Barang Milik Negara. Dengan demikian jumlah bandara yang dikelola AP II tahun ini menjadi 19 buah.

Rencananya, penandatanganan kerja sama Pemanfaatan Barang Milik Negara beserta Berita Acara Serah Terima Operasi ketiga Bandara (Lampung, Bengkulu dan Belitung) ini akan dilakukan pada akhir pekan ini. Tahun lalu, lewat skema KSP, Kemenhub juga menyerahkan pengelolaan Bandara Tjilik Riwut ke Angkasa Pura II.

"Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah yang mempercayakan AP II untuk mengelola empat bandara itu dengan skema KSP," jelas Presiden Direktur, AP II Muhammad Awaluddin dalam siaran persnya, dikutip Minggu (13/10/2019).

Awaluddin mengatakan siap untuk meningkatkan kinerja keempat bandara tersebut hingga bisa berkontribusi optimal dan maksimal dalam mendukung pariwisata serta perekonomian setempat.

"Keempat bandara itu memiliki infrastruktur di sisi darat dan udara yang cukup untuk saat ini dalam mengembangkan konektivitas transportasi udara. Namun demikian untuk meraih potensi pasar dan meningkatkan layanan, Angkasa Pura II akan melakukan berbagai pengembangan," tukasnya.

Bandara Tjilik Riwut

Suasana Bandara Tjilik Riwut di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Senin (8/4/2019).
Suasana Bandara Tjilik Riwut di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Senin (8/4/2019). | Puspa Perwitasari /Antara Foto

Bandara di Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), ini memiliki terminal baru yang megah dan modern serta menampilkan kearifan lokal yakni sejumlah ornamen suku Dayak di ruangan interiornya. Selain itu, di dalam terminal juga terdapat miniatur perahu naga untuk memperkenalkan salah satu alat transportasi khas Kalteng.

Terminal baru dengan luas sekitar 30.000 meter persegi ini mampu menampung 2.200 orang per hari dan telah diresmikan Presiden Joko Widodo pada 8 April 2019.

Adapun sepanjang tahun lalu jumlah penumpang di bandara ini tercatat sekitar 1 juta orang. Dengan pengembangan yang terus dilakukan, jumlah penumpang yang dilayani ditargetkan mencapai 8 juta penumpang per tahun.

Tjilik Riwut dilengkapi dengan runway berukuran 2.500 x 45 meter, dengan 32 pergerakan pesawat per hari.

Bandara ini juga dilengkapi apron berukuran 328 x 110 meter dengan parking stand yang mampu menampung sebanyak empat pesawat berbadan lebar. Keberadaan Tjilik Riwut di Kalteng nantinya dapat mendukung ibu kota Indonesia yang berada di Kalimantan Timur.

Bandara Radin Inten II

Suasana ruang tunggu di Bandara Raden Inten II, Lampung, saat pergantian tahun baru 1 Januari 2019.
Suasana ruang tunggu di Bandara Raden Inten II, Lampung, saat pergantian tahun baru 1 Januari 2019. | Elisa Valenta /Beritagar.id

Bandara Radin Inten II memiliki terminal penumpang pesawat baru yang sudah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 8 Maret 2019 lalu.

Terminal baru seluas 9.650 meter persegi ini mengedepankan budaya lokal dengan menampilkan simbol Siger di beberapa area. Siger adalah simbol kebanggaan yang sangat melekat dengan masyarakat Lampung. Di samping itu, terminal ini juga dibangun dengan konsep eco airport dan eco energy.

Adapun terminal baru ini memiliki kapasitas sekitar 3 juta penumpang per tahun, dan didukung runway berukuran 2.500 x 45 meter serta apron berukuran 565 x 110 meter untuk 12 parking stand pesawat. Bandara ini juga memiliki 3 helipad berukuran 24 x 24 meter.

Tahun lalu, jumlah penumpang pesawat yang terbang melalui bandara ini mencapai 1,99 juta dengan pergerakan pesawat 16.058 kali.

Bandara HAS Hanandjoeddin

Bandara HAS Hanandjoeddin di Tanjung Kelayang, Pangkal Pinang, Belitung.
Bandara HAS Hanandjoeddin di Tanjung Kelayang, Pangkal Pinang, Belitung. | Angkasa Pura II

Bandara HAS Hanandjoeddin masuk ke dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, dan mendukung destinasi pariwisata Tanjung Kelayang --satu di antara program "10 Bali Baru" yang dicanangkan pemerintah.

Kapasitas terminal penumpang pesawat ini adalah sekitar 400 ribu penumpang per tahun, sementara pergerakan penumpang sepanjang 2018 telah mencapai 1 juta orang per tahun.

AP II telah memiliki rencana perluasan terminal di bandara ini agar meningkatkan pelayanan dan kenyamanan bagi penumpang pesawat dan juga supaya maksimal dalam mendukung pariwisata setempat.

Adapun bandara ini dilengkapi dengan runway berukuran 2.400 x 45 meter, dengan volume pergerakan pesawat mencapai 9.534.

Bandara Fatmawati Soekarno

Bandara Fatmwati Soekarno di Bengkulu.
Bandara Fatmwati Soekarno di Bengkulu. | Angkasa Pura II

Pertumbuhan penerbangan dari dan ke Bengkulu cukup tinggi. Pada 2018 lalu pergerakan penumpang pesawat di bandara ini mencapai 1 juta orang atau melebihi kapasitas terminal 500.000 penumpang per tahun.

Adapun saat ini Bandara Fatmawati Soekarno beroperasi dengan runway berukuran 2.500 x 45 meter untuk melayani maksimal pesawat Boeing 737-900 ER dan sejenisnya.

AP II telah memiliki rencana pengembangan terminal penumpang pesawat guna mengantisipasi pergerakan 5,6 juta penumpang. Pengembangan bandara ini oleh AP II akan meningkatkan aksesibilitas dan konektivitas Provinsi Bengkulu.

Lokasi Bandara Fatmawati Soekarno cukup dekat dengan bandara AP II lainnya yaitu Sultan Mahmud Badaruddin II (Palembang) dan Radin Inten II (Lampung). Jadi, pengembangan tiga bandara itu mengusung konsep multi-airport system agar sektor perhubungan udara dapat maksimal dalam mendukung perekonomian dan pariwisata di pulau Sumatera.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR