NERACA PERDAGANGAN

Pemerintah tetap waspada meski neraca dagang Februari surplus

Kapal tunda melintas di antara kapal yang melakukan bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (18/12/2018).
Kapal tunda melintas di antara kapal yang melakukan bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (18/12/2018). | Sigid Kurniawan /Antara Foto

Neraca perdagangan Februari 2019 mengalami surplus setelah sempat mengalami defisit dalam empat bulan terakhir. Meski begitu, pemerintah tidak mau terlena dan tetap mewaspadai sentimen yang mempengaruhi aktivitas perdagangan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, neraca perdagangan nasional pada Februari 2019 surplus AS $329,5 juta atau setara Rp4,63 triliun. Surplus tersebut banyak dipengaruhi oleh kenaikan pada neraca perdagangan nonmigas karena impor turun lebih besar dibanding ekspor.

Neraca perdagangan nonmigas mencatat surplus $793,6 juta, sedangkan neraca migas masih defisit $464 juta.

Kondisi ini dipengaruhi oleh penurunan impor nonmigas sebesar $2,69 miliar secara bulanan, lebih besar dibandingkan dengan penurunan ekspor nonmigas sebesar $1,25 miliar (month to month/mtm). Penurunan impor nonmigas terutama terjadi pada impor mesin dan peralatan listrik, besi dan baja, serta mesin/pesawat mekanik.

Sementara itu, penurunan ekspor nonmigas terutama terjadi pada ekspor bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan dan nabati serta bijih, kerak, dan abu logam. Penurunan ekspor nonmigas tersebut tidak terlepas dari pengaruh pertumbuhan ekonomi global yang melambat dan harga komoditas ekspor Indonesia yang menurun.

Di sisi lain, penurunan ekspor migas terjadi pada komponen gas sejalan dengan penurunan volume ekspor dan harga gas. Penurunan impor migas terjadi pada komponen minyak mentah seiring penurunan volume dan harga impor minyak mentah.

Kendati demikian Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan pemerintah akan tetap waspada walau neraca perdagangan Februari 2019 mengalami surplus setelah defisit pada bulan terdahulu.

"Kita akan tetap terus waspada. Kenapa? Karena ini positifnya karena dua-duanya negatif yaitu ekspor negatif 11,3 persen dan impornya turun lebih dalam lagi," ujar Sri Mulyani dilansir Antaranews, dikutip Sabtu (16/3/2019).

Menurut Sri Mulyani, pemerintah harus mencermati faktor-faktor yang menyebabkan neraca perdagangan Februari surplus. Apakah karena faktor musiman atau lebih karena fundamental perekonomian Indonesia akibat dampak perlemahan ekonomi dunia.

"Kita juga harus lihat dampak dari penurunan impor itu apakah diganti dengan substitusi impor, sehingga seluruh kebutuhan bahan baku barang modal itu masih tetap berjalan," katanya.

Apabila tidak ada substitusi impor, lanjut Sri Mulyani, hal tersebut berarti sektor-sektor produksi yang menggunakan bahan baku dan barang modal itu akan mengalami dampak dari penurunan impor tersebut.

"Nanti kita akan lihat statistiknya lebih dalam, tapi paling tidak dengan surplus ini memberikan suatu sinyal positif kepada kita, namun PR-nya masih banyak dan harus kita lakukan," ujarnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengingatkan pentingnya upaya agar neraca perdagangan maupun neraca transaksi berjalan dapat lebih baik secara berkelanjutan.

Ia mengapresiasi kinerja neraca perdagangan yang surplus, namun penurunan ekspor migas maupun nonmigas menjadi perhatian tersendiri bagi pemerintah.

"Situasi dunia masih terus berubah, belum pulih, ekspor kita ke tiga negara (tujuan ekspor), tadinya ke Jepang masih positif, sekarang tiga-tiganya sudah negatif," kata Darmin.

"Kelihatannya kerja kerasnya masih belum cukup, artinya masih perlu bekerja lebih keras lagi untuk membuat neraca perdagangan dan neraca berjalan bisa konsisten lebih baik," lanjutnya.

Bank Indonesia menilai surplus neraca perdagangan pada Februari 2019 berdampak positif pada upaya memperbaiki kinerja neraca transaksi berjalan.

"Ke depan, Bank Indonesia dan Pemerintah akan terus berkoordinasi mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik, sehingga tetap dapat memperkuat ketahanan sektor eksternal, termasuk prospek kinerja neraca perdagangan," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko, dalam siaran pers.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR