PEMILU 2019

Pemilu paling mencengangkan di dunia dan pujian pemantau asing

Sejumlah Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPSLN) melakukan penghitungan suara Pemilu 2019 di Dewan Tun Razak 1 dan 2, Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (17/4/19).
Sejumlah Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPSLN) melakukan penghitungan suara Pemilu 2019 di Dewan Tun Razak 1 dan 2, Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (17/4/19). | Rafiuddin Abdul Rahman /Antara Foto

Pemilu 2019 bukan pesta demokrasi terbesar di dunia, tapi paling mencengangkan. Dan menurut pemantau asing, seluruh proses pemungutan suara berjalan dengan fantastis serta seharusnya membanggakan bagi Indonesia.

Pemilu 2019 adalah untuk memilih presiden, anggota DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan DPD. Semuanya dilakukan hanya dalam satu hari (17/4/2019).

Menurut World Economic Forum (WEF), Rabu (17/4), Pemilu 2019 paling mencengangkan di dunia karena baru kali ini ada pemilihan presiden dan parlemen dilakukan dalam satu hari.

"Bila melihat jumlah pemilih, ini adalah pesta demokrasi terbesar ketiga di dunia. Skalanya sungguh mencengangkan," tulis WEF.

Bila dilihat dari sisi jumlah pemilih, India memiliki pemilu terbesar di dunia. Menurut data 2014 yang dilansir Statista, Kamis (11/4), pemilu di India melibatkan 834 juta pemilih.

Namun, pemilu di India tidak dilakukan dalam satu hari. Pada 2014, pemungutan suara dalam pemilu di India berlangsung selama 39 hari.

Perbandingan skala pemilu di dunia berdasarkan jumlah pemilih.
Perbandingan skala pemilu di dunia berdasarkan jumlah pemilih. | Statista

Pemerintah pun mengklaim Pemilu 2019 berjalan sukses. Menurut Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto, partisipasi pemilih mencapai 80,90 persen dari target 77,5 persen.

Karena Pemilu 2019 dilakukan serentak dalam satu hari untuk memilih presiden dan legislatif serta senator (DPD), biaya pun pasti membengkak dibanding edisi 2014.

Pagu anggaran penyelenggaraan Pemilu 2019 meningkat 61 persen menjadi Rp25,59 triliun dari Rp15,62 triliun untuk Pemilu 2014. Menurut catatan Kementerian Keuangan, alokasi anggaran paling besar digunakan untuk membiayai kegiatan badan adhoc (termasuk panitia) yang dibentuk Komisi Pemilihan Umum (KPU); yakni 63,6 persen (Rp10,04 trilun) dari pagu total anggaran KPU.

Pos kenaikan jumlah panitia pemilu dan honorarium panitia menjadi penyebab utama lonjakan anggaran. Selain itu Pemilu 2019 juga mengalami kenaikan jumlah daerah karena ada Kalimantan Utara dan penambahan 17 kabupaten/kota di Indonesia.

Karena skala pemilu yang demikian besar, pihak yang terlibat pun cukup banyak dan proses penghitungan suara memakan waktu cukup lama. Misalnya di sejumlah tempat pemungutan suara (TPS), penghitungan suara berlangsung hingga Kamis (18/4) pagi.

Dalam urusan pemantau pun demikian yang mencapai 138 lembaga. Menurut anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Mochammad Afifuddin, ini adalah jumlah terbanyak dalam sejarah pemilu di Indonesia.

Kehadiran pemantau tersebut, termasuk dari kalangan asing, adalah amanat Undang-Undang Pemilu Nomor 7/2017. Pemantau pemilu diatur dalam Pasal 435, Pasal 437 ayat (7), Pasal 439 ayat (6), dan Pasal 447.

"Semua lembaga pemantau itu yang mendaftar dan sudah diakreditasi oleh Bawaslu," kata Afifuddin dikutip Tempo.co, Selasa (16/4).

Sementara Maret lalu, anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pramono Ubaid Tanthowi mengatakan bahwa pihaknya mengundang para penyelenggara pemilu dari 33 negara. Sementara pemantau dari luar negeri datang dari 11 lembaga.

Dan apa kata mereka soal pelaksanaan Pemilu 2019? Head of Media and Communication Kedutaan Besar Inggris, John Nickell, memuji dengan kata fantastis.

"...seharusnya (masyarakat Indonesia) bangga terhadap praktik demokrasi yang sukses dan damai," kata Nickell dalam jumpa pers Election Visit Program yang digelar KPU di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (17/4).

Dilansir CNNIndonesia.com, Nickell lebih lanjut menyatakan kagum melihat Indonesia bisa menggelar lima jenis pemilu (kecuali di Jakarta hanya empat jenis) cuma dalam satu hari. Ia menyebutnya sebagai sebuah tantangan dan Indonesia berhasil menjawabnya.

"India menyelenggarakannya sebulan, Indonesia melakukannya dalam enam jam. Jadi, ini hal yang sangat luar biasa," ungkap Nickell.

Pujian juga disampaikan oleh pemantau dari Korea Selatan, Seung Ryeol-kim. Bahkan ia kagum melihat bagaimana pemilu berjalan.

"Dari pengamatan saya, semua hal berjalan baik, enggak ada kekerasan, enggak ada konflik. Semua lancar saja dan senang melihatnya," ujar Seung dikutip Kompas.com saat meninjau penghitungan suara di TPS 10 Kelurahan Kuningan Timur, Jakarta Selatan, Rabu (17/4).

Sedangkan pemantau dari Myanmar, U Hla Tein, menilai pemilu di Indonesia memiliki tingkat transparansi yang tinggi. "Menurut saya sangat transparan dan asumsi saya pemilu di Indonesia itu kredibel," katanya di tempat yang sama.

Satu hal yang juga cukup mengejutkan para pemantau dari luar negeri adalah bagaimana pemilu 2019 dijalankan secara inklusif. Maklum, Pemilu 2019 juga diikuti oleh semua kalangan --termasuk penyandang disabilitas mental.

"Saya sangat terkesan. Saya rasa seluruh dunia mempunyai permasalahan yang sama, tetapi ini pertama kalinya saya melihat sebuah negara mempunyai solusi yang baik," kata jurnalis senior asal Al Ahram Mesir, Ahmed Mahmoud Mohamed, dilansir Katadata.

Kendati demikian, Pemilu 2019 tidak nol persoalan. Sebagian pemungutan suara di luar negeri kisruh dan 2.249 tempat pemungutan suara (TPS) di dalam negeri urung melaksanakan hajat pada Rabu (17/4) sehingga akan menggelar pemilu susulan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR