PERANG DAGANG

Penangkapan bos Huawei tambah ketegangan baru

Reklame Huawei terpampang di sebuah apartement di Malaga, Spanyol (16/10).
Reklame Huawei terpampang di sebuah apartement di Malaga, Spanyol (16/10). | Mauritz Antin /EPA-EFE

Penangkapan Direktur Keuangan perusahaan telekomunikasi Huawei Technologies Co Ltd's, Meng Wanzhou, oleh otoritas Kanada menimbulkan ketegangan baru di sela masa islah 90 hari perang dagang Tiongkok-Amerika Serikat (AS).

Pemerintah Tiongkok mengancam akan menempuh langkah serius jika Kanada tidak kunjung melepaskan Meng yang ditangkap di Vancouver, Kanada, pada Sabtu (1/12/2018).

Menurut laporan media Kanada, penangkapan Meng itu atas permintaan AS yang saat ini sedang terlibat perang dagang dengan Tiongkok.

Meng ditangkap aparat keamanan di Kanada setelah perusahaannya dituduh menggunakan perusahaan cangkang dan mencoba menyelundupkan telepon ke Iran yang sedang terkena embargo internasional.

Aksi embargo yang dipimpin oleh AS tersebut diberikan kepada Iran karena program nuklir negara itu dicurigai untuk membuat senjata pemusnah massal.

Washington menuduh bahwa dia menutupi skandal perusahaan Huawei yang mencoba menjual peralatan ke Iran meski negara para Mullah itu sedang terkena sanksi internasional.

Pemerintah Kanada telah mendesak pengadilan agar tidak membebaskan Meng dengan uang jaminan. Jaksa Penuntut Kanada menyebut jika terbukti bersalah maka Meng terancam hukuman penjara lebih dari 30 tahun.

Tidak terima atas penahanan warganya, pemerintah Tiongkok langsung memanggil Duta Besar Kanada di Beijing sebagai bagian dari protes keras atas penahanan Meng.

"Tiongkok sangat mendesak pihak Kanada untuk segera membebaskan orang yang ditahan, dan dengan sungguh-sungguh melindungi haknya yang sah, jika tidak, Kanada harus menerima tanggung jawab penuh atas konsekuensi serius yang ditimbulkan," kata Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok, Le Yucheng, seperti dikutip Reuters, Minggu (9/12).

Le mengatakan, penahanan Meng adalah pelanggaran serius terhadap haknya. "Karena mengabaikan hukum, tidak masuk akal, dan sangat jahat," ujarnya.

Meng merupakan putri pendiri dan CEO Huawei Technologies, Ren Zhengfei (74 tahun), dari pernikahannya yang pertama. Ren telah mempersiapkan Meng untuk menggantikan posisinya.

Sebelum membangun Huawei, menurut situs perusahaan tersebut, Ren adalah sarjana teknik sipil yang bekerja sesuai dengan bidang studinya hingga 1974. Ketika Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (People's Liberation Army/PLA) membentuk Korps Insinyur Militer pada 1974, Ren bergabung dan berhasil mencapai jabatan deputi direktur.

Pada 1983 Korps Insinyur Militer dibubarkan dan Ren pun pensiun. Ia sempat bekerja di beberapa tempat sebelum mendirikan Huawei pada 1987. Ren menjabat CEO sejak 1988.

Latar belakang militer ayah Meng tersebut telah membuat sejumlah negara, khususnya AS menyuarakan kekhawatirannya kalau Huawei dekat dengan militer Tiongkok dan Beijing.

Sejumlah agen intelijen AS menuduh Huawei terkait dengan pemerintah Tiongkok dan peralatan milik Huawei kemungkinan mengandung elemen "mata-mata" yang bisa digunakan untuk melakukan aktivitas spionase oleh negara.

Namun Huawei berulang kali menegaskan pemerintah Tiongkok tak punya pengaruh apa-apa di perusahaan itu.

Huawei Technologies bukan perusahaan sembarangan. Mereka telah memproduksi ponsel dan teknologi lainnya yang digunakan dalam berbagai barang produksi AS dan Eropa.

Huawei juga dilihat oleh beberapa pengamat sebagai instrumen penting bagi pemerintah Tiongkok untuk mencapai tujuan jangka panjangnya.

Baru-baru ini, Huawei juga menjadi perusahaan ponsel terbesar kedua di dunia berdasarkan pangsa pasar. Hanya satu tingkat di bawah raksasa Korea Selatan, Samsung.

Jadi, penangkapan Meng tidak sembarang penangkapan, kata Peter Boockvar, kepala investasi di Bleakley Advisory Group. Kasus ini bisa merusak masa damai perang dagang yang saat ini tengah ditempuh Tiongkok dan AS.

"Coba bayangkan pemerintah Tiongkok menangkap Direktur Keuangan Apple atau anak dari Steve Jobs dan mengekstradisi dia," tulis Boockvar.

Perkuat posisi tawar AS

Sementara, menurut Ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih, penangkapan bos Huawei ini berkaitan dengan kelanjutan perang dagang antara Tiongkok-AS. Lana mengatakan, penangkapan ini akan memberikan posisi tawar yang lebih kuat pada AS dalam perang dagang.

Sebab, penangkapan ini bisa menjadi senjata AS untuk membuktikan tuduhannya terkait pencurian teknologi.

"Jadi lebih menjadi menjustifikasi tuduhan Trump terhadap Tiongkok dan menekan Tiongkok untuk mau negosiasi sama AS. Itu menjadi posisi tawar AS yang lebih besar," ujar dia kepada detikcom.

Dengan posisi yang melemah, bisa saja Tiongkok menerima permintaan AS dalam perang dagang. Artinya, perang mereda.

Bagi Indonesia, meredanya perang dagang memberi keuntungan karena ekonomi tidak jadi melambat. Apalagi, Tiongkok merupakan mitra dagang utama Indonesia.

Sebelumnya, Donald Trump dan Xi Jin Ping sepakat menghentikan ketegangan dagang untuk 90 hari ke depan.

Rencana Trump untuk menetapkan kenaikan tarif impor dari 10 persen menjadi 25 persen untuk produk-produk Tiongkok senilai total $200 miliar (sekitar Rp2.842 triliun) pada 1 Januari 2019, juga akan ditunda.

Sebagai balasan, Tiongkok akan memangkas tarif impor mobil yang sebelumnya sebesar 40 persen menjadi kisaran 35 persen.

Kesepakatan dirajut dalam pertemuan Tiongkok dan AS pada agenda Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Buenos Aires, Argentina, 1 Desember 2018. Dalam pertemuan ini, Trump dan Jinping akhirnya bertatap muka kembali setelah nyaris satu tahun bersitegang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR