PENCEMARAN LINGKUNGAN

Pencemaran minyak Pertamina diperkirakan berdampak meluas

Seorang dokter dari Pertamina memeriksa kesehatan warga yang membantu mengumpulkan ceceran limbah minyak mentah di Pantai Sedari, Cibuaya, Karawang, Jawa Barat, Kamis (1/8/2019).
Seorang dokter dari Pertamina memeriksa kesehatan warga yang membantu mengumpulkan ceceran limbah minyak mentah di Pantai Sedari, Cibuaya, Karawang, Jawa Barat, Kamis (1/8/2019). | M Ibnu Chazar /Antara Foto

Insiden kebocoran minyak dari sumur eksplorasi Pertamina di perairan Karawang, Jawa Barat, diperkirakan memicu kerugian besar dan berdampak luas pada lingkungan. Sementara ini, pendataan kerugian dan dampak masih berlangsung.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH) Siti Nurbaya mengungkapkan kebocoran minyak dari sumur Pertamina mencapai 2 kilo liter dan langsung mencemari sebagian pantai utara Jawa. Luas sebaran wilayah yang tercemar mencapai 702 hektare.

"Sejak awal kami sudah ikuti (perkembangan). Kementerian LHK (KLHK) langsung mengikuti sejak peristiwa bocor terjadi," tutur Siti kepada para jurnalis di Istana Negara, Senin (5/8/2019).

Pertamina menjadi sorotan setelah pipa eksplorasi mereka di sumur YYA-1 Blok Offshore North West Java (ONWJ) di perairan Karawang bocor pada Jumat (12/7) pukul 01.30 WIB. Menurut Direktur Hulu Pertamina, Darmawan H Samsu, dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (25/7), indikasi sementara ada anomali tekanan pada saat pengeboran di YYA-1 sehingga muncul gelembung gas dan kebocoran minyak (oil spill).

Sejak saat itu, Pertamina berupaya keras mengantisipasi kerusakan lingkungan yang lebih besar. Mereka juga fokus menutup kebocoran pada sumur YYA-1 yang diperkirakan bakal selesai dalam kurun delapan pekan lagi.

"Upaya penutupan sudah dilakukan sejak dua hari lalu," ujar Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi, Meidawati, kepada Koran Tempo, Senin (5/8).

Siti Nurbaya mengungkapkan apresiasinya kepada Pertamina dalam mengatasi dampak pencemaran lingkungan. Sejauh ini, katanya, Pertamina sudah melakukan sterilisasi area platform, memakai oil boom (penahan aliran minyak), memakai oil skimmer (untuk mengangkat minyak dari permukaan air laut), dan dispersant kimia.

Di sisi lain, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengaku tidak khawatir karena insiden ini melibatkan perusahaan negara sehingga para pemangku kepentingan akan mendapat pemulihan dan kompensasi yang semestinya.

Meski begitu, Susi menyarankan Pertamina untuk menyediakan oil boom lebih banyak sesuai jumlah anjungan minyak lepas pantainya (rig) yang juga cukup banyak. Sedangkan Direktur Utama Pertamina, Nieke Widyawati, menyatakan pihaknya terus berupaya optimal dengan mengerahkan tenaga ekstra.

"Untuk menanggulanginya, Pertamina mengerahkan 7 lapisan proteksi untuk menahan minyak mentah hingga tak melebar ke perairan yang lebih luas hingga perdesaan," ujar Nieke di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Jumat (2/8).

Sementara di pesisir pantai, Pertamina memasang oil boom hingga muara sungai agar minyak tidak masuk ke pinggir pantai. Pertamina juga melibatkan tenaga 800 orang dan lebih dari 1.000 prajurit TNI, termasuk para nelayan, untuk membersihkan ceceran minyak di pesisir.

Hingga Kamis (1/8), Pertamina mengklaim tinggal beberapa tempat yang terpapar minyak dan jumlah tumpahan minyak mentah tinggal 10 persen. Satu-satunya hambatan Pertamina adalah sejumlah wilayah yang sulit ditembus.

"Para relawan untuk membersihkan masih kurang karena jalan menuju sepanjang partai utara Jawa susah, beberapa tak punya akses jalan dari desa ke pantai utara," kata Nieke.

Mereka yang terdampak

Susi menilai perbaikan biota laut di Karawang akan memakan waktu enam bulan. Kementeriannya juga akan mendata dampak dan kerugian yang dialami para nelayan.

Sejauh ini, para nelayan dan petani tambak di kawasan Karawang, Bekasi, serta Pulau Seribu merasakan dampak paling besar. Sedangkan Siti Nurbaya menegaskan pencemaran minyak melanda 9 desa; masing-masing 2 desa di Bekasi dan 7 di Karawang. Adapun Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebut total 11 desa.

Penyebaran minyak mentah hingga Senin (5/8), menurut data KLHK; mencapai Pantai Bahagia dan Bakti di Bekasi; Tanjung Pakis, Tambak Sari, Tambak Sumur, Sedari, Cemara Jaya, Sungai Buntu, Pusaka Jaya Utara di Karawang; serta Pulau Rambut, Pulau Untung Jawa, Pulau Bokor, dan Pulau Lancang di Kepulauan Seribu.

"Saya dikontak Bupati Serang pada Sabtu (3/8) yang mengatakan kemungkinan pencemaran sudah masuk ke sana. Saya sudah minta dirjen untuk mengecek ke lapangan," tukas Siti.

Kepala Seksi Kelembagaan Nelayan Dinas Perikanan Kabupaten Karawang Setya Saptana mengungkapkan ada 1.373 jaring nelayan yang terkena tumpahan minyak mentah. Jaring itu rata-rata milik nelayan dengan berat kapal di bawah 8 Gross Ton (GT).

Selain itu, ujar Setya dalam Kompas.com, Senin (5/8), ada tambak garam milik 15 kelompok petani di sejumlah wilayah yang terdampak. Pihaknya akan segera melakukan pengujian terhadap garam-garam yang terindikasi terdampak.

Sementara menurut data KKP, sedikitnya 1.636,25 hektare tambak udang, bandeng, rumput laut, dan garam di delapan desa di Karawang terkena dampak insiden ini. Sebagian petambak mengalami gagal panen dan sebagian lainnya memanen lebih dini lantaran cemas.

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, Slamet Soebjakto, Jumat (2/8) dilansir Tempo.co, mengatakan setidaknya 127 petambak di enam kecamatan di Kabupaten Karawang berpotensi kehilangan sumber pendapatan. Maklum, limbah minyak telah masuk ke saluran primer dan mencemari tanah tambak.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menduga wilayah sebaran tumpahan minyak dari sumur YYA-1 ini diperkirakan lebih luas dari insiden di Teluk Balikpapan tahun lalu yang mencapai 7.000 hektare. Menurut catatan sementara Walhi hingga 18 Juli 2019, insiden di Karawang sudah mencemari 45,37 kilometer persegi atau sekitar 4.500 hektare.

Pertamina menyatakan proses mitigasi kecelakaan kerja, rehabilitasi, dan penghitungan kompensasi kerugian akan dilakukan setelah sumur YYA-1 selesai ditutup. Menurut Dwi Sawung, juru kampanye Energi dan Perkotaan Walhi Nasional, itu artinya masih lama karena penutupan sumur termaksud butuh delapan pekan.

Tapi Susi memastikan Pertamina tidak akan lepas dari kewajibannya. "Kami sebagai institusi pemerintah akan memastikan bahwa Pertamina memulihkan seluruh dampak lingkungan dan dampak kerugian material maupun fisik diperbaiki akibat oil spill ini," kata Susi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR