GUNUNG BERAPI

Penerbangan tak terganggu erupsi Gunung Bromo

Erupsi Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, 15 Desember 2015.
Erupsi Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, 15 Desember 2015. | Suryanto /EPA

Masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki diminta menjauhi kawasan aktif Gunung Bromo dalam radius 1 kilometer (km). Selasa (19/2/2019), gunung yang berada di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini bererupsi dan secara terus-menerus mengembuskan abu tipis.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kasbani menyebut tinggi kolom abu mencapai +/-600 meter di atas puncak atau +/-2.929 meter di atas permukaan laut.

Dari rekaman seismograf pada pos pemantau, gempa embusan yang terjadi berupa tremor terus-menerus dengan amplitudo 0,5-1 milimeter (mm), dominan 1 mm.

Kolom abu yang teramati berwarna putih hingga cokelat dengan intensitas tipis, sedang, hingga tebal. Abu condong ke arah barat dan barat daya.

Kendati terjadi peningkatan aktivitas, status Bromo masih berada pada Level II (Waspada). Begitu pula dengan peringatan penerbangan atau Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA) yang masih berwarna oranye.

VONA oranye mengartikan penerbangan masih diizinkan melintas melalui/menuju area gunung berapi namun dengan kewaspadaan tinggi.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) John Kenedie mengatakan, secara keseluruhan kondisi Bromo masih kondusif seperti sebelumnya.

Cuaca yang dilaporkan pasca-erupsi terpantau masih cerah, meski ada beberapa bagian lain yang berawan, mendung, dan hujan. Tiupan angin terasa lemah ke arah timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya, dan barat.

Suhu rata-rata 12-20 derajat Celsius, kelembaban udara 0-0 persen, dan tekanan udara 0-0 mmHg. Visual gunung masih jelas, belum sepenuhnya tertutup kabut.

“Secara umum kondisi Bromo masih kondusif, meski dengan beberapa potensi kesiapan yang harus ditingkatkan seperti kewaspadaan serta mematuhi arahan dan instruksi pengelola TNBTS dan PVMBG,” kata John, dikutip dari laporan Surya Malang.

Gunung Bromo merupakan gunung api aktif bertipe kerucut silinder dalam kaldera dengan ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut. Tipe kerucut ini membuat Bromo menjadi salah satu gunung api yang paling sering mengalami erupsi.

Pencatatan erupsi pertama kali tercatat pada 1804 oleh Belanda. Tenggang waktu antara satu erupsi dengan erupsi lainnya terjadi kurang dari satu tahun sampai dengan 16 tahun.

Pemindahan pos pemantau

Dalam kunjungan kerjanya ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, awal Januari 2019, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menginstruksikan agar pos pemantau Gunung Bromo dipindah ke lokasi yang lebih tinggi.

Hal ini dimaksudkan agar pengamatan visual dilakukan seoptimal mungkin. Untuk diketahui, petugas yang berjaga secara bergantian di pos pengamatan berjumlah 4 orang. Akan tetapi, lantaran posisi pos pantau tidak terlalu tinggi, petugas tak jarang harus berpindah ke lokasi yang lebih tinggi untuk melihat visual Bromo dengan lebih jelas.

“Alat pemantauannya, baik peralatan digital maupun analog, bisa merekam aktivitas gunung, baik deformasi, seismik, dan seterusnya, tapi visualnya tidak bisa langsung,” kata Jonan dalam rilis resminya, Selasa (8/1/2019).

Adapun pos pengamatan yang dikunjunginya berada di Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Probolinggo, Jawa Timur. Pos itu berada pada ketinggian 2.275 meter di atas permukaan laut dan tercatat sebagai titik pengamatan gunung tertinggi di Indonesia.

Kepala PVMBG Kasbani yang turut mendampingi Jonan dalam kunjungan ke Bromo menyatakan pihaknya siap melakukan pemindahan pos pemantauan serta renovasi yang dibutuhkan.

Kasbani turut memastikan bahwa peralatan yang berada di pos pemantauan Bromo sudah lengkap, termasuk alat sensor yang sempat hilang pada 2016.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho menuturkan, alat sensor itu sebelumnya dipasang lautan pasir yang masuk wilayah Desa Ngadisari, Probolinggo.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR