Pengadilan Malaysia vonis hukuman mati Rita Krisdianti

Aktivis Perhimpunan Indonesia untuk Buruh Migran Berdaulat melakukan aksi memperingati Hari Buruh Migran se-Dunia di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu, 18 Desember 2011.
Aktivis Perhimpunan Indonesia untuk Buruh Migran Berdaulat melakukan aksi memperingati Hari Buruh Migran se-Dunia di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu, 18 Desember 2011. | Subekti /Tempo

Pengadilan Malaysia di Penang menjatuhkan hukuman mati terhadap warga negara Indonesia, Rita Krisdianti, Senin (30/5/2016). Kepolisian Malaysia menangkap tenaga kerja asal Ponorogo, Jawa Timur ini pada 2013 karena membawa narkotika jenis sabu seberat empat kilogram.

Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah mengatakan vonis tersebut dibacakan hakim pengadilan di Penang, pada Senin (30/5/2016) pagi. Dikutip BBC Indonesia, Anis mengatakan Rita telah mendapat pendampingan hukum melalui Kedutaan Besar RI di Malaysia. Ia juga mendesak pemerintah Indonesia melakukan upaya banding.

Rita Krisdianti, 28 tahun, tercatat sebagai Tenaga Kerja Indonesia yang diberangkatkan oleh PT Putra Indo Sejahtera Madiun ke negara penempatan Hong Kong. Tanda tangan kontrak kerja tercatat mulai 24 Mei 2012.

Dilansir laman buruhmigran.or.id, Rita berangkat ke Hong Kong pada Januari 2013. Belum genap tiga bulan bekerja, Rita menerima pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak dari majikannya.

Ia kemudian dikembalikan ke agensi di Hong Kong pada April 2013. Oleh agen yang menempatkan, Rita dikirim ke Macau untuk menunggu pekerjaan baru dan visa.

Dalam masa penantian, akhirnya Rita memutuskan untuk kembali pulang ke Ponorogo pada Juli 2013 karena selama di Macau tak kunjung menerima kejelasan dari pihak agensi.

Saat Rita akan pulang, teman satu kos Rita yang bernama Eka Suliyah menawarkan pekerjaan sampingan kepada Rita yang bisa dijalankan di kampung halaman.

Rita ditawari bisnis kain dan pakaian di luar negeri, dengan jaringan temannya. Atas arahan temannya, Rita mengubah rute perjalanannya dari Macau terbang ke New Delhi, India.

Di New Delhi, Rita transit menginap di suatu tempat. Dan keesokan hari menjelang Rita akan melanjutkan perjalanannya, seseorang menemui Rita untuk menitipkan sebuah koper. Orang yang menitipkan koper tersebut mengatakan bahwa koper itu berisi pakaian.

Rita diminta untuk membawa koper itu ke Penang, Malaysia karena akan ada orang lain yang akan mengambil barang tersebut. Sesampai di Bandar Udara Internasional Bayan Lepas Penang, Malaysia pada 10 Juli 2013, sekeluar dari gerbang pemeriksaan, Rita langsung dijemput oleh beberapa petugas Kepolisian Diraja Malaysia.

Polisi menemukan paket narkoba seberat 4 kilogram di dalam koper titipan seseorang dari New Delhi India yang dibawa Rita. Sesuai dengan aturan yang berlaku di Malaysia, Rita harus menghadapi ancaman hukuman gantung.

Poniyati, ibunda Rita telah mengadukan dan melaporkan kasus yang menimpa anaknya secara resmi kepada Migrant Institute 16 Januari 2016.

Saat ini Eka Suliyah, teman satu kos Rita yang menjerumuskan Rita ke jaringan sindikat narkoba internasional sedang menjalani pidana kurungan selama 19 tahun di lembaga pemasyarakatan Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT) karena kasus Narkoba.

Laman buruhmigran menuliskan Eka Suliyah merupakan bagian dari sindikat narkoba internasional yang menjadikan buruh migran overstayer sebagai target untuk mengembangkan jaringannya. "Rita Krisdianti adalah korban perdagangan orang yang akhirnya menjerumuskannya ke sindikat narkoba. Posisi Rita yang sangat rentan sebagai korban tidak semestinya menanggung hukuman gantung."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR