Pengemis tajir ibukota dan kemelaratan ayah Marshanda

Petugas Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta bersama petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) merazia penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Kamis, 27 November 2014. Sebanyak 11 PMKS yang terjaring razia di antaranya pengemis, gelandangan, dan PSK akan dibawa ke panti untuk diberikan pengarahaan serta pemulangan ke kampung halamannya masing-masing.
Petugas Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta bersama petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) merazia penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Kamis, 27 November 2014. Sebanyak 11 PMKS yang terjaring razia di antaranya pengemis, gelandangan, dan PSK akan dibawa ke panti untuk diberikan pengarahaan serta pemulangan ke kampung halamannya masing-masing. | Dasril Roszandi /Tempo

Razia Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan Jumat (24/3/2016) sore itu membuat heboh. Dalam razia terhadap gelandangan dan pengemis itu petugas menciduk -salah satunya--seorang pria bernama Irwan Yusuf.

"Ketika mobil penjangkauan Sudin Sosial Jaksel sedang melewati kawasan Jalan Bangka, ada seorang pengemis berdiri di pinggir jalan. Kemudian petugas turun menjangkau sang pengemis," ujar Kasudin Sosial Jaksel Mursyidin menceritakan kronologi kejadian seperti dilansir Liputan6.com.

Ketika diinterogasi dalam mobil, si pria itu mengaku ayahanda bintang sinetron Marshanda. Petugas kaget dengan pengakuan itu. Irwan pun bercerita tentang hidupnya yang melarat. Dia mengaku menjadi pengemis selama 3 bulan. Dari hasil mengemisnya itu, setiap hari ia meraih Rp40 ribu. Sebulan berarti ia hanya meraup Rp1.200.000.

Tak semua pengemis di ibukota berpenghasilan seperti ayahanda Marshanda. Banyak juga yang bernasib tajir. Di antaranya Edi Supriyadi. Pria berusia 78 tahun asal Kudus, Jawa Tengah itu hijrah dari kampung halamannya ke Jakarta. Merdeka.com menulis, bermodal belas kasihan orang, Edi sering mangkal di bilangan Senen dengan membawa gerobak.

Andriani Marshanda atau Marshanda didampingi pacarnya, Egi John Foreisythe, tiba untuk menjenguk ayahnya yang terjaring razia oleh petugas Pelayanan, Pengawasan, dan Pengendalian Sosial (P3S) Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Cipayung, Jakarta, Senin, 28 Maret 2016.
Andriani Marshanda atau Marshanda didampingi pacarnya, Egi John Foreisythe, tiba untuk menjenguk ayahnya yang terjaring razia oleh petugas Pelayanan, Pengawasan, dan Pengendalian Sosial (P3S) Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Cipayung, Jakarta, Senin, 28 Maret 2016. | Nurdiansyah /Tempo

Entah sudah berapa lama Edi menjalani "profesinya" itu. Yang jelas Selasa (16/9/2014) itu nahas bagi Edi. Hari itu, ia terjaring razia petugas Suku Dinas Sosial Jakarta Pusat. Petugas pun langsung menggeledah barang bawaan Edi. Petugas kaget bukan kepalang saat menggeledah tas dan gerobak milik Edi. Saat digeledah, petugas menemukan uang dalam pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu.

"Setelah digeledah ada sejumlah uang tunai senilai Rp11 juta di dalam tasnya," kata Kasie Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Sudin Sosial Jakarta Pusat Wanson Sinaga.

Selain Edi, ada juga Walang bin Kliwon (54) dan Sa'ran (60). Dua pengemis asal Subang, Jawa Barat, yang biasa beroperasi di malam hari itu ditangkap petugas Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan di bawah fly over Pancoran, Selasa (26/11/2013).

Saat digeledah petugas menemukan uang Rp25 juta yang dimasukkan ke tas plastik hitam. "Sehari mereka dapat uang Rp3 juta," kata Kepala Seksi Rehabilitasi Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, Miftahul Huda.

Kebiasaan mengemis juga dilakukan Aris Setianto. Pria berusia 27 tahun ini rupanya menikmati betul kebiasannya mengemis dengan modus kaki buntung. Bahkan menurutnya, mengemis sudah jadi profesi. Bisa jadi, Aris yang biasa beroperasi di Jalan Gunung Sahari Jakarta Pusat ini menyebut profesi karena dari hasil mengemis ia mampu meraih Rp5 juta sebulan. Pengakuan itu disampaikan kepada petugas Satuan Tugas Pelayanan, Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) Dinas Sosial Provinsi DKI Jakarta yang menangkapnya pada Minggu (15/11/2015).

Kepada petugas, pria asal Boyolali, Jawa Tengah ini mengaku sudah menjalani kebiasannya itu sejak 2008. Sehari, dengan kebiasaannya ini ia bisa meraih Rp150-200 ribu.

Dari hasil mengemisnya itu, Aris mengaku digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. "Aris juga mengontrak rumah di sekitar Tanah Tinggi, Jakarta Pusat dengan bayaran Rp350.000 per bulan," ujar Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial DKI Jakarta Chaidir.

Menurut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) banyaknya pengemis karena anak buahnya tidak bertindak tegas. Mereka sering membiarkan pengemis dan gepeng beroperasi di lampu merah.

Selain itu, kata Ahok, Pemerintah DKI Jakarta telah menyusun Peraturan Daerah yang mengatur tentang Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Namun ia mengakui Perda ini belum mampu mengurangi jumlah pengemis di ibukota.

Perda Ketertiban Umum ini sulit diterapkan terutama bagi masyarakat yang memberi uang kepada PMKS. Mantan Bupati Belitung Timur ini menambahkan denda maksimum yang ada dalam Perda Nomor 8 Tahun 2007 tidak bisa diterapkan. Bukti foto di lapangan tidak bisa pakai oleh hakim untuk menentukan denda maksimum.

"Kita cuma bisa mengimbau. Karena kalau kita tangkap juga, kamera juga belum terpasang semua," ujarnya seperti ditulis gatra.com.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR