ATURAN LALU LINTAS

Pengendara di bawah umur mendominasi pelanggaran lalu lintas

Petugas polisi lalu lintas Polres Lhokseumawe menghentikan pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm saat razia Operasi Zebra Rencong 2018 di lintas Nasional Medan-Banda Aceh, di Kota Lhokseumawe, Aceh, Jumat (2/11/2018) malam.
Petugas polisi lalu lintas Polres Lhokseumawe menghentikan pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm saat razia Operasi Zebra Rencong 2018 di lintas Nasional Medan-Banda Aceh, di Kota Lhokseumawe, Aceh, Jumat (2/11/2018) malam. | Rahmad /Antara Foto

Operasi Zebra 2018 yang digelar Korlantas Polri selama 14 hari di seluruh Indonesia berakhir pada Senin (12/11/2018). Selama operasi, anak di bawah umur mendominasi pelanggaran lalu lintas.

Polisi mengatakan operasi ini digelar untuk menurunkan angka pelanggaran lalu lintas. Ada tujuh hal yang dibidik polisi selama operasi.

Masing-masing adalah kelengkapan surat seperti Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dan Surat Izin Mengemudi (SIM). Lantas, seperti dilansir Kompas.com, Selasa (30/10), polisi juga menindak pengendara yang nekat melawan arus, tidak mengenakan helm, pemakaian sabuk pengaman kendaraan roda empat atau lebih (seatbelt).

Pengendara yang kedapatan memainkan ponsel saat berkendara, pengemudi yang membawa muatan atau penumpang di atas kapasitas, dan para pengemudi yang kedapatan mengonsumsi narkoba atau mabuk, serta melebihi batas kecepatan.

"Kendaraan bermotor yang tidak sesuai dengan aturan atau melanggar lalu lintas langsung ditindak tegas alias tilang di tempat," ucap Kepala Korlantas Polri, Irjen Refdi Andri.

Agenda polisi ini didasari pada UU Nomor 8 Tahun 1981 dan UU Nomor 2 Tahun 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Lalu, UU Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Ditambahkan Liputan6.com, Senin (29/10), ada pula Perkap Nomor 9 Tahun 2011 Tentang Management OPS Kepolisian, Renops Mabes Polri Nomor: R/RENOPS/1991/X/2016, Tanggal 25 Oktober 2016, dan Surat Telegram Kakorlantas Nomor STR/822/X/2017, tangga 6 Oktober 2017, tentang pelaksanaan operasi kepolisian Zebra tahun 2017.

Ada dua wilayah di Indonesia yang tak menggelar Operasi Zebra. Keduanya adalah Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah -- wilayah yang masih berusaha bangkit dari kerusakan akibat bencana alam.

Yang jelas, ada fakta seragam setelah Operasi Zebra usai. Pengendara sepeda motor di bawah umur mendominasi pelanggaran. Ini terjadi di seluruh wilayah.

Di Gunung Kidul, Yogyakarta, misalnya, pelanggaran oleh pengendara di bawah umur mencapai 2.064 dari 4.980 kasus yang ditilang. Artinya, jumlah pelanggaran oleh kalangan di bawah umur mencapai sekitar 42 persen.

Menurut Kasatlantas Polres Gunungkidul, AKP Mega Tetuko, dalam TribunJogja.com, Selasa (13/11), pelanggaran oleh anak di bawah umur adalah dalam status pelajar. Itu sebabnya Tetuko mengimbau seluruh orangtua agar lebih selektif memberi izin pemakaian sepeda motor.

Sedangkan di Karangpilang, Surabaya, Jawa Timur, pelanggaran anak di bawah umur dengan sepeda motor mencapai 61 kasus -- terbanyak selama 14 hari operasi di sana. Bahkan 19 pelanggaran di antaranya adalah tidak membawa atau memiliki SIM.

Itu sebabnya Kanitlantas Polsek Karangpilang Surabaya, AKP Suradi, juga mengeluarkan imbauan serupa dengan Tetuko agar para orang tua tidak sembarang mengizinkan anak di bawah umur mengemudikan kendaraan tanpa SIM.

"Belum punya SIM tidak boleh dibiarkan. Harus diantar," kata Suradi dilansir Surya (h/t Tribunnews), Jumat (9/11).

Di Kulon Progo, Yogyakarta, pelanggaran lalu lintas oleh kalangan di bawah umur lebih besar lagi -- 75 persen. Dari 5494 pelanggar, 4.175 di antaranya adalah pelajar.

"Mereka di bawah 18 tahun dan tidak memiliki SIM. Mereka yang terjaring mengendarai motor semua," kata Ajun Komisaris Polisi Maryanto, Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Kulon Progo.

Pelanggaran lalu lintas oleh anak di bawah umur -- termasuk oleh pelajar -- benar-benar terjadi di seluruh Indonesia. Dari Aceh hingga Papua.

Rerata para pelajar ini terjaring operasi saat akan berangkat atau pulang dari sekolah. Praktik membawa kendaraan, terutama sepeda motor, ke sekolah memang sudah lazim kendati si pengendara belum memiliki SIM karena masih di bawah umur.

Ini misalnya terjadi di Tabanan, Bali; atau di Kupang, Nusa Tenggara Timur, atau di Lebak, Banten. Yang unik, Operasi Zebra membuat sebagian pelajar berusaha mengantisipasi.

Di Bojonegoro, Jawa Timur, seorang siswa SMK Negeri 2 Bojonegoro kelas X bernama Bagas Rama Adistha menulis surat izin tidak masuk ke sekolahnya. Ia minta maklum ke karena tak bisa membawa sepeda motor ke sekolah akibat ada Operasi Zebra.

Surat yang kemudian viral di media sosial itu ditandatangani oleh sang ibu, Nunik, dan diantar ke sekolah oleh kakak Bagas. Nunik, dalam detikcom, Jumat (9/11), menceritakan bahwa Bagas memang disediakan sepeda motor untuk pergi-pulang bersekolah karena jarak dengan rumah mencapai 15 kilometer.

Polantas Polres Bojonegoro pun bersimpati hingga mendatangi rumah keluarga Nunik. Kasatlantas Polres Bojonegoro AKP Aristianto pun berharap pemerintah setempat menyediakan fasilitas bus sekolah agar pelajar tak perlu naik sepeda motor karena belum cukup umur untuk membuat SIM.

Wakil Kepala SMK Negeri 2 Bojonegoro, Totok, pun berterima kasih kepada polisi atas bantuan solusinya. "Kita berharap ke depan tidak ada lagi siswa izin karena ada operasi kendaraan," katanya.

Sedangkan di Lombok, Nusa Tenggara Barat, seorang pelajar SMP yang diberhentikan oleh polisi dalam razia karena tidak mengenakan helm dan mengantongi SIM saat mengendarai sepeda motor akhirnya mendapat hadiah sepeda.

Video insiden itu pun viral di media sosial. Sang pelajar kelas 3 Madrasah Tsnawiyah di Lombok Timur berinisial MR itu sempat menangis agar motornya tidak disita dan dirinya diizinkan pulang.

Pada akhirnya, Satlantas Polres Lombok Timur menghadiahkan sepeda agar MR tidak lagi membawa sepeda motor ke sekolah. “Ya, kami berikan sepeda pada dia sebagai solusi agar tidak lagi naik motor, karena dia masih di bawah umur," tutur Kasat Lantas Polres Lombok Timur, AKP Ryan Faisal, Selasa (13/11).

Sepeda motor paling banyak celaka

Sejauh ini, Korlantas Polri belum merilis data jumlah pelanggaran secara nasional yang dicatat selama Operasi Zebra 2018. Bahkan belum bisa pula dibandingkan dengan 2017.

Namun, dominasi pelanggaran lalu lintas oleh anak di bawah umur atau pelajar serta melibatkan sepeda motor sebenarnya sudah bisa diduga. Fasilitas transportasi massal yang belum memadai di Indonesia membuat masyarakat memilih kendaraan roda dua.

Apalagi penjualan sepeda motor meningkat jika melihat data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) pada periode Januari - Maret 2018 (Q1). Dibanding periode serupa pada 2017, jumlahnya meningkat empat persen.

Akibatnya, jalan raya pun menjadi sesak oleh sepeda motor -- bahkan termasuk dikendarai anak-anak di bawah umur. Itu sebabnya selama semester pertama 2018, jumlah kecelakaan lalu lintas paling banyak melibatkan sepeda motor.

Bahkan bila dibandingkan dengan kecelakaan tertinggi kedua (mobil), jumlah kecelakaan motor sangat tinggi; 7.302 insiden berbanding 34.800 kejadian.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR