Penghormatan tabu untuk mendiang Maryam Mirzakhani

Maryam Mirzakhani
Maryam Mirzakhani
© Universitas Stanford, California, Amerika Serikat /EPA

Penghormatan atas berpulangnya Maryam Mirzakhani (Sabtu, 15/7/2017), mematahkan aturan bagaimana perempuan seharusnya berpenampilan di Iran.

Sejumlah media pemerintahan Iran mewartakan kabar kepulangan wanita pertama peraih Nobel Matematika itu dengan tampilan foto tanpa penutup kepala.

Penghormatan tabu itu dimulai oleh Presiden Iran, Hassan Rouhani, yang mengunggah foto Mirzakhani tanpa mengenakan jilbab di akun Instagram pribadinya, @hrouhani.

‌ درگذشت اندوه‏بار مریم میرزاخانی، #نابغه نامدار #ریاضی ایران و جهان موجب تأثر فراوان شد. ‌ درخشش بی‌نظیر این #دانشمند خلاق و انسان متواضع که نام ایران را در مجامع علمی جهانی طنین‏‌انداز کرد، نقطه عطفی در معرفی همت والای #زنان و جوانان ایرانی در مسیر کسب قله‌های افتخار در عرصه‌های گوناگون بین‌المللی بود. ‌ این‏جانب ضمن ارج نهادن به خدمات علمی و آثار ماندگار این فرزند فرهیخته ایران، مصیبت وارده را به جامعه علمی کشور و خانواده محترم آن عزیز از دست رفته صمیمانه تسلیت می‏‌گویم. ‌ #مریم_میرزاخانی (۱۳۹۶-۱۳۵۶) #فرزند_ایران ‌

A post shared by Hassan Rouhani • حسن روحانی (@hrouhani) on

"Kepulangan Maryam Mirzakhani, warga Iran yang terhormat dan ahli matematika yang sangat dikenal dunia, adalah kesedihan yang luar biasa," tulis Rouhani, yang kemudian diterjemahkan New York Times, Minggu (16/7/2017).

Tulisan serupa juga muncul dalam akun Instagram yang diyakini milik ilmuwan NASA asal Iran, Firouz Naderi.

"Dia jenius? Ya, memang. Tapi mendiang juga seorang perempuan, seorang ibu, dan seorang istri," sebut Naderi dalam keterangan video yang memperlihatkan Mirzakhani tengah mempresentasikan ilmunya.

Selain urusan penutup kepala, kematian Mirzakhani juga mematahkan tabu lainnya di Iran.

The Guardian melaporkan, sekitar 60 anggota parlemen di Iran pada Minggu (16/7/2017), mengajukan percepatan amendemen undang-undang yang mengizinkan anak-anak dari hasil pernikahan campuran Iran dan negara lain untuk bisa berkunjung ke Iran.

Iran tak pernah mengakui pernikahan warganya, khususnya wanita Muslim dengan pria non-Muslim berkewarganegaraan lain. Hal ini kemudian berimplikasi kepada keturunan pasangan tersebut yang tak diizinkan untuk menginjakkan kakinya ke Iran.

Mirzakhani menikahi Jan Vondrak, pakar matematika asal Ceko yang juga seorang profesor di Stanford University. Vondrak dan Mirzakhani dikarunia seorang putri yang kini menetap di California, Amerika Serikat.

Perlakuan ini tak ayal membuat banyak pihak terbelit dalam pro kontra. Banyak pihak yang mengkritik cara penghormatan semacam ini, tapi tak sedikit juga yang justru mendukung dan menyebut ini sebagai penghormatan pada hak asasi manusia yang paling mendasar.

Persoalan penutup kepala Mirzakhani bukan baru muncul ketika perempuan yang juga dikenal sebagai "Ratu Matematika" ini tutup usia. Persoalan ini lebih dikaitkan dengan aturan ketat Iran yang membatasi penampilan warga perempuannya di muka publik.

Mirzakhani (40) adalah seorang profesor di Universitas Stanford, California, Amerika Serikat, yang meninggal setelah tak kuasa melawan penyakit kanker payudara yang telah menjangkit hingga ke tulang-tulangnya.

Saat Mirzakhani menerima Nobel Matematika (Fields Medal) pada 2014, urusan serupa juga ramai di Iran. Namun, saat itu sejumlah media lebih memilih untuk membuat sketsa wajah Mirzakhani yang disamarkan dengan rumusan-rumusan matematika dalam halaman muka mereka.

Lahir pada 1977, Mirzakhani dibesarkan di Iran setelah revolusi. Pada tahun 1994, Mirzakhani menjadi perempuan Iran pertama yang berhasil meraih medali emas dalam Olimpiade Matematika Internasional.

Dan bahkan, gelar yang sama terus berhasil diraih dalam dua tahun setelahnya.

Setelah menyelesaikan S1-nya di universitas paling tersohor di Tehran, Sharif University, Mirzakhani kemudian meneruskan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi di Harvard University, Amerika Serikat.

Disertasinya di Harvard itulah yang semakin membuka tabir kejeniusannya. Mirzakhani berhasil memecahkan dua masalah matematika yang sebelumnya tak pernah terselesaikan.

"Jarang ada ahli matematika yang akan membuat tesis yang benar-benar brilian. Tapi itulah yang dilakukan Mirzakhani," sebut Benson Farb, seorang ahli matematika dari University of Chicago, dalam lansiran The Atlantic.

Sebelum menutup usia, Mirzakhani tengah fokus menyelesaikan "perlintasan bola biliar yang berputar mengelilingi meja polygonal", sebuah permasalahan yang tidak pernah bisa diselesaikan para ahli matematika selama berabad-abad.

Mirzakhani mengandaikan metode pemecahan masalahnya seperti "menulis novel", dengan mendalami karakter yang berbeda-beda.

"Setiap hal berevolusi. Tapi ketika kamu melihat lebih dalam ke sebuah karakter, maka karakter itu akan jauh berbeda dari kesan awalnya," tulis Mirzakhani dalam laporannya.

Fields Medal (atau juga dikenal dengan nama Nobel Matematika) adalah sebuah penghargaan yang diberikan kepada orang-orang dengan kejeniusan yang melebihi batas setiap empat tahun sekali. Penghargaan ini pertama kali diberikan pada tahun 1936.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.