MEDIA DAN JURNALISME

Penghormatan TIME untuk empat jurnalis penjaga kebenaran

Tahun ini Majalah Time memberi penghormatan kepada empat (orang dan grup) jurnalis yang mempertaruhkan hidup mereka demi mengabarkan kebenaran. Keempatnya adalah Jamal Khashoggi, the Capital Gazette, Maria Ressa, serta Wa Lone dan Kyam Soe Oo
Tahun ini Majalah Time memberi penghormatan kepada empat (orang dan grup) jurnalis yang mempertaruhkan hidup mereka demi mengabarkan kebenaran. Keempatnya adalah Jamal Khashoggi, the Capital Gazette, Maria Ressa, serta Wa Lone dan Kyam Soe Oo | TIME MAGAZINE /EPA-EFE

Atas nama penghormatan terhadap dedikasi memperjuangkan kebenaran di atas berbagai macam rintangan, majalah TIME menobatkan empat jurnalis--perorangan maupun grup—sebagai sosok tahun ini alias Person of The Year.

Keempatnya diberi gelar “Para Penjaga (The Guardians)” pada edisi khusus yang terbit Selasa (11/12/2018) waktu Amerika Serikat (AS), dalam empat seri sampul berwarna hitam putih yang sengaja dipilih sebagai lambang dari “Peperangan terhadap Kebenaran (War on Truth)”.

“Untuk keberanian menghadapi berbagai risiko, untuk segala bentuk pencarian yang tak sempurna namun menjadi fakta penting bagi warga sipil, untuk keberanian berbicara dan membicarakannya, para penjaga adalah sosok tahun ini,” tutur Ed Felsenthal, editor Majalah TIME.

Pemilihan keempatnya, sambung Ed, adalah bentuk perwakilan kepada sedikitnya 52 jurnalis di seluruh penjuru dunia yang terbunuh sepanjang 2018 karena menjalankan profesi mereka.

Beragam kisah yang mewarnai jalan hidup keempatnya juga memberi gambaran nyata tentang manipulasi dan penyalahgunaan kebenaran yang banyak menghiasi halaman muka pemberitaan pada tahun ini.

“Demokrasi di seluruh dunia menghadapi krisis terbesar. Fondasinya diruntuhkan dari atas dan bawah oleh teknologi yang dikontrol impuls, racun orang-orang kuat, dan pelemahan institusi,” sambung Ed.

Karl Vick, penulis sosok tahun ini TIME, menyebut saat ini seharusnya menjadi waktu yang tepat bagi demokrasi untuk melangkah maju dengan warga yang berpengetahuan menjadi penopang pemerintahan. Pada kenyataannya, semua berjalan kebalikannya.

“Dan kisah tentang penyalahgunaan kebenaran ini entah mengapa menjadi sebuah hal yang sangat sulit diungkapkan,” sebutnya. Dan para jurnalis ini, sambung Karl, memperjuangkan hal yang menjadi kebalikannya itu.

Selain keempat jurnalis, Presiden AS Donald Trump menjadi kandidat kedua sosok tahun ini, disusul Penasihat Khusus FBI Robert Mueller III. Pemilihan sosok tahun ini bukan hanya ditujukan kepada "manusia" terbaik, melainkan bisa juga yang terburuk.

Lantas, siapa saja keempat sosok yang dimaksud?

Jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi

Nama Jamal Khashoggi ramai menjadi pemberitaan muka banyak media di seluruh dunia dalam beberapa bulan terakhir.

Kariernya sebagai jurnalis sudah dimulai sejak tahun 1984. Ketika itu ia bekerja sebagai koresponden untuk majalah Saudi Gazette dan Okaz hingga tahun 1987. Khashoggi kemudian berpindah-pindah ke sejumlah koran Arab seperti Asharq Al-Awsat, Al Majalla, dan Al Muslimoon.

Pada 1991, Khashoggi ditunjuk sebagai redaktur pelaksana dan plt pemimpin redaksi koran Al-Madina. Sepanjang periode itu juga, Khashoggi kerap menjadi koresponden lepas untuk beberapa media internasional.

Lantaran kerap menulis untuk media asing, Khashoggi sempat dituding sebagai mata-mata untuk Badan Intelijen Saudi Arabia dan Amerika Serikat.

Hingga akhirnya pada 1999, Khashoggi ditunjuk sebagai pemimpin redaksi Arab News. Kariernya sebagai pemimpin redaksi hanya bertahan empat tahun.

Setelahnya, ia kembali menjadi koresponden lepas untuk media asing, salah satunya The Washington Post. 3 April 2018, Khashoggi menuliskan sebuah opini tentang Kerajaan Arab.

“Arab Saudi sebaiknya kembali ke masa sebelum 1979, masa saat Wahhabi tidak bisa berkuasa. Masa di mana perempuan bisa memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Masa di mana warga sipil bisa menyuarakan pendapat mereka tanpa takut dipenjarakan,” begitu petikan opininya.

Opini lainnya muncul pada 11 September 2018. Secara garis besar, Khashoggi menyerukan kepada Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MbS) untuk segera mengakhiri Perang Yaman dan mengembalikan harga diri Arab Saudi

Tulisan itu menjadi jejak terakhir kariernya. 8 Oktober 2018, Khashoggi menghilang setelah masuk ke dalam kantor konsulat Kerajaan Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Beragam penyelidikan akhirnya membuat Arab Saudi mengakui Khashoggi terbunuh oleh tim yang seharusnya membawa jurnalis itu pulang ke Arab Saudi.

Kematiannya masih menjadi misteri, termasuk dugaan keterlibatan MbS di balik konspirasi ini.

Bagi TIME, penobatan Khashoggi adalah yang pertama kalinya dilakukan kepada sosok yang sudah meninggal dunia.

Mantan jurnalis CNN dan pendiri Rappler Filipina, Maria Ressa

Maria Ressa (55) adalah salah satu pendiri Rappler, portal berita yang dengan cepat mencetak reputasi sebagai media pengusung jurnalisme investigasi di Filipina, pada 2012.

Rappler begitu rajin mengkritisi pemerintahan. Ketika Presiden Rodrigo Duterte terpilih pada 2016, Rappler menerbitkan laporan investigasi terkait dugaan penggunaan akun palsu dalam kampanye Duterte melalui Facebook.

Kritikan tak berhenti sampai situ. Kebijakan Duterte menembak mati pengedar narkoba juga menjadi langganan pemberitaan Rappler.

Duterte naik pitam dan menyebut Rappler sebagai “media bodong”. Sejak itu, Duterte melarang jurnalis Rappler untuk meliput ke Istana Kepresidenan.

Pemerintah Filipina kemudian memainkan isu keberpihakan Rappler. Rappler pertama kali terbentuk melalui duit dua investor asal AS; North Base Media dan Perre Omidyar, CEO Omidyar Network dan mantan pendiri eBay.

“Kami mendirikan Rappler murni untuk menyuarakan pendapat independen dan Omidyar Network tahu itu,” tegas Maria, dikutip dari BBC, 17 Januari 2018.

Buntut dari tudingan itu, pemerintah Filipina membatalkan izin operasional Rappler. Dan baru-baru ini, Rappler dituding melakukan penggelapan pajak. Tudingan ini bisa saja mengirim Ressa ke balik jeruji maksimal hingga 10 tahun.

Jurnalis Reuters, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo

Wa Lone (32) dan Kyuaw Soe Oo (28) adalah dua jurnalis Reuters berkebangsaan Myanmar yang ditangkap tahun lalu saat membawa dokumen tentang insiden Rohingya oleh seorang oknum polisi.

Ketika itu mereka sedang menginvestigasi kabar pembersihan etnis Rohingya di sepuluh desa di Rohingya oleh militer Myanmar.

Dokumen itu diserahkan oknum di sebuah restoran di Yangon, 12 Desember 2017. Tak lama setelah pertemuan itu, keduanya ditangkap oleh anggota polisi karena tudingan mencuri dokumen rahasia milik negara.

Selama delapan bulan persidangan, kedua jurnalis ini terus mengelak tuduhan pencurian dokumen resmi milik negara. Namun pada 1 Februari 2018, seorang anggota polisi yang menjadi saksi di persidangan mengatakan dokumen itu telah muncul dalam sebuah pemberitaan di koran lokal Myanmar.

Keterangan itu kemudian dibalas dengan pernyataan seorang saksi Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang mengakui bahwa penyerahan dokumen itu sengaja dilakukan untuk menjebak dua jurnalis itu.

Kendati demikian, hakim tetap memutuskan keduanya bersalah karena melanggar UU Rahasia Negara. Senin (3/9/2018), keduanya divonis tujuh tahun penjara oleh Pengadilan Tinggi Yangon.

Terlepas dari tudingan pencurian dokumen, militer Myanmar pada akhirnya tetap melakukan penyelidikan atas isu pembantaian itu. Hasilnya, mereka membenarkan adanya pembantaian dan berjanji akan menindak semua yang terlibat.

Pemimpin de facto Myanmar—yang pernah mendapatkan Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi, bersikap melempem terhadap penangkapan dua jurnalis ini.

Suu Kyi yang sebelumnya santer dengan perjuangan HAMnya kini berada di pihak pemerintah. Dengan kalimat yang tersusun rapi, Suu Kyi berujar, “Mereka dipenjara bukan karena mereka jurnalis, mereka dipenjara karena pengadilan memutuskan mereka telah melanggar Undang-Undang Rahasia Negara.”

Suu Kyi kemudian menuding balik pihak-pihak yang menyebutnya telah melanggar kebebasan berpendapat di negaranya itu.

“Aku penasaran, apakah orang-orang itu telah benar-benar membaca putusan pengadilan. Sebab, putusan itu tidak memiliki hubungan apapun dengan kebebasan berekspresi,” tuturnya.

Jika putusan itu tak bisa diterima, Suu Kyi pun mempersilakan kepada dua terpidana untuk mengajukan banding. “Kalau percaya pada hukum, mereka punya hak untuk mengajukan banding dan menunjukkan alasan mengapa putusan itu tidak benar,” sambung Suu Kyi.

Staf dan jurnalis harian Capital Gazette

Seorang pria bersenjata berjalan masuk ke kantor Capital Gazatte di Annapolis, Maryland, AS, 28 Juli 2018. Peluru dihempaskan, empat jurnalis dan satu karyawan bagian penjualan tertembak mati di tempat.

Pelaku, Jarrod W. Ramos (38), mengaku telah lama memendam kebencian dengan harian ini lantaran memberitakan dugaan pelecehan yang dilakukan Ramos kepada mantan teman sekelasnya.

Dendam makin menggebu setelah Ramos kalah dalam tuntutan pencemaran nama baik yang dibuatnya terhadap Gazette.

Kendati Ramos membuat suasana ruang redaksi menjadi horror, namun para staf dan jurnalis memutuskan untuk tetap menerbitkan harian mereka untuk keesokan harinya.

“Kita akan tetap menerbitkan koran untuk esok hari,” tegas Chase Cook, salah satu jurnalis Capital Gazette.

Para jurnalis pun bekerja di halaman parkir dengan gawai seadanya. Keesokannya, koran terbit dengan halaman muka bertuliskan “Lima Tewas”.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR