GEMPA LOMBOK

Pengungsi gempa Lombok hadapi malaria

Sejumlah warga berada di tenda pengungsian pascagempa di Desa Padak Guar, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, NTB, Senin (20/8/2018).
Sejumlah warga berada di tenda pengungsian pascagempa di Desa Padak Guar, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, NTB, Senin (20/8/2018). | Ahmad Subaidi /Antara Foto

Gempa yang menggoyang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa waktu lalu masih menyisakan duka hingga kini. Masyarakat yang masih tinggal di pengungsian pun harus menghadapi masalah kesehatan, seperti malaria.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila Moeloek, mengatakan bahwa para pengungsi korban gempa di Lombok sempat dibuat ketakutan dengan wabah penyakit malaria yang menimpa mereka.

"Sampai saat ini, Insya Allah tidak ada kejadian yang luar biasa kecuali kemarin ribut kena malaria. Malaria memang di sana daerahnya epidemik," ujar Nila dikutip Viva.co.id.

Sebanyak 137 warga dinyatakan positif malaria. Mereka tersebar di tiga kecamatan di Lombok Barat yakni Kecamatan Gunung Sari, Kecamatan Batu Layar dan Kecamatan Lingsar.

Kondisi ini membuat pemerintah Lombok Barat mengumumkan keadaan darurat kesehatan. Pasalnya, kasus malaria yang terjadi tahun ini dua kali lebih banyak jika dibandingkan 2017 lalu.

Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid menyatakan, penetapan status KLB malaria di Lombok Barat sudah memenuhi syarat dan aturan penetapan KLB sesuai Permenkes RI Nomor 949 tahun 2014 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa.

Fauzan menyatakan sudah mengambil langkah pencegahan penyebaran malaria dengan mengambil sampel darah dan mendistribusikan jaring nyamuk. Selain itu, pihaknya juga gencar melakukan pengasapan atau fogging.

Selain faktor endemis, diduga penyakit malaria terjadi karena kasus bawaan atau kondisi lingkungan yang rusak akibat gempa. Untuk mencegah terjadinya kembali kasus malaria, pemerintah menganjurkan kepada warga untuk memakai kelambu, terutama kelambu berinsektisida.

Penyediaan kelambu itu telah diupayakan dan didistribusikan oleh pemerintah pada korban gempa.

Dilansir dari rilis resmi Kementerian Kesehatan, penggunaan kelambu berinsektisida akan efektif mencegah penularan malaria apabila cakupan penggunaan kelambu di atas 80 persen. Terutama, jika kelambu digunakan secara benar.

Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan NTB telah mendistribusikan kelambu kepada warga terdampak gempa di Lombok sebanyak 2.600 kelambu dengan rincian 2.400 dari Kemenkes, dan 200 dari Dinkes NTB. Selanjutnya, sedang diupayakan untuk menambah jumlah kelambu lagi.

Kelambu yang dibagikan telah memenuhi persyaratan teknis seperti ukuran dan jenis bahan kelambu. Bahan kelambu yang tersedia yakni katun, nilon, polyester, dan polyethylene.

Berdasarkan ukuran, kelambu ada dua versi, yakni ukuran keluarga dan ukuran individu. Kelambu keluarga bisa mencakup suami, istri, dan satu anak dengan umur kurang dari 2 tahun.

Kelambu keluarga memiliki panjang 180-200 cm, lebar 160-180 cm, dan tinggi 150-180 cm. Sementara, untuk ukuran individu memiliki panjang 180-200 cm, lebar 70-80 cm, dan tinggi 150-180 cm.

Sebelum dipakai, kelambu sebaiknya diangin-anginkan terlebih dahulu sampai baunya hilang. Pemasangan kelambu bisa dengan mengikatkan keempat tali kelambu pada tiang tempat tidur atau pada paku di dinding.

Di tenda pengungsian, kelambu bisa ditalikan pada kerangka penyangga. Pada saat tidur dalam kelambu, seluruh ujung bawah kelambu dimasukkan ke bawah tempat tidur atau matras, sehingga tidak ada kemungkinan nyamuk masuk ke kelambu.

Malaria Penyakit malaria masih menjadi masalah kesehatan di sejumlah wilayah di Indonesia. Selama ini, Papua dan Papua Barat selalu menempati urutan teratas prevalensi kasus malaria.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR