Peningkatan produksi dalam negeri tekan impor ponsel

Penonton mengambil gambar pertunjukan wayang kulit dengan Dalang Ki Purbo Asmoro dengan ponselnya di Jakarta, Sabtu (24/10/2015).
Penonton mengambil gambar pertunjukan wayang kulit dengan Dalang Ki Purbo Asmoro dengan ponselnya di Jakarta, Sabtu (24/10/2015). | Muhammad Adimaja /ANTARAFOTO

Kebijakan konten lokal dalam aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang diberlakukan Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdangan, terbukti cukup sukses menekan nilai impor ponsel di Indonesia.

Pasalnya, Kementerian Perindustrian mencatat impor ponsel sampai September 2015 mencapai 26 juta unit, sementara di tahun 2014 jumlahnya mencapai 60 juta unit. Penurunan yang cukup tajam atau di bawah 50 persen.

"Ini menunjukkan jumlah importasi ponsel sudah mulai digantikan dengan hasil produksi dalam negeri," ujar Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan, seperti yang ditulis Detik.com.

Juga, lanjutnya, semakin banyaknya produsen yang memproduksi ponselnya di Indonesia menunjukkan negara ini semakin menarik sebagai pilihan investasi. Pabrikasi juga menambah lapangan kerja dan mendekatkan produsen pada pasarnya.

Menteri Perindustrian Saleh Husin menjelaskan penurunan ini terjadi karena semakin banyaknya produsen perangkat seluler yang memproduksi produknya di dalam negeri.

"Selama ini kan produsen dan prinsial sudah menikmati pasar domestik Indonesia, menarik duit dari konsumen. Kini sudah saatnya juga menanam modal dan membangun pabrik ponsel," jelas Saleh dalam Liputan.com.

Sebaliknya, pemerintah juga akan melakukan sosalisasi kepada konsumen tentang ponsel-ponsel mana saja yang diproduksi di Indonesia.

Untuk diketahui, telah ada belasan produsen yang memproduksi ponselnya di Indonesia, di antaranya adalah Samsung, Oppo, Haier, IVO untuk Bolt dan Venera, Modem Bolt dan ZTE untuk Bolt, Polytron, Evercross, Advan, Axioo, MITO, Gosco, SPC dan Asiafone.

Dari pemilik merek, terdapat Huawei Tech Investment yang menggunakan fasilitas produksi PT Panggung Electric Citra Buana dan Smartfren Telecom.

Tak semua merek ponsel ternama dunia tertarik untuk mendirikan pabrik. Ada dua merek ponsel ternama seperti Apple dan BlackBerry, belum membuat keputusan.

Kabar terakhir yang diperoleh Kontan, kedua merek yang mendapatkan pangsa pasar cukup besar di Indonesia ini masih melakukan kajian. Jika sampai akhir 2015 tak merealisasikan mendirikan pabrik, maka izin impor Apple dan BlackBerry bakal dicabut.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan No 82/ 2012, tentang Ketentuan Impor Telepon Seluler, importir wajib membuat pabrik ponsel di Indonesia paling lambat 2015.

Untuk pengembangan industri ponsel ini, pemerintah sedang menyusun aturan penggunaan komponen lokal atau TKDN. Aturan yang berlaku 1 Januari 2017 ini akan diterapkan bertahap dengan tahap awal wajib TKDN sebesar 30 persen.

Paparan Kemperin, Kemdag dan Kominfo soal sinkronisasi TKDN ponsel
Paparan Kemperin, Kemdag dan Kominfo soal sinkronisasi TKDN ponsel | Kemperin, Kemdag dan Kominfo /Beritagar.id
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR